Penyelidikan di Texas terhadap Lululemon menempatkan merek pakaian olahraga asal Kanada itu dalam sorotan baru. Otoritas setempat ingin memastikan apakah perusahaan menyesatkan konsumen terkait penggunaan PFAS, kelompok bahan kimia yang kerap disebut bahan kimia abadi karena sangat sulit terurai di lingkungan.
Langkah ini tidak hanya menyangkut dugaan bahan yang dipakai dalam produk, tetapi juga menyentuh citra Lululemon sebagai merek yang identik dengan kesehatan, kualitas, dan gaya hidup bersih. Di tengah meningkatnya perhatian konsumen terhadap isi produk yang mereka pakai sehari-hari, kasus ini membuat klaim ramah lingkungan dan aman kembali diuji.
Pemeriksaan dari Texas
Mengutip laporan USA Today, penyelidikan tersebut diumumkan oleh jaksa penuntut pada 13 April 2026. Jaksa Agung Texas Ken Axton menyampaikan bahwa pihaknya ingin melihat apakah ada praktik menyesatkan dalam cara perusahaan berkomunikasi kepada konsumen.
Fokus pemeriksaan tidak berhenti pada dugaan penggunaan bahan kimia tertentu. Otoritas juga menyorot bagaimana Lululemon memposisikan diri sebagai merek gaya hidup sehat di mata publik.
Respons perusahaan
Lululemon membantah tuduhan bahwa produknya masih mengandung PFAS. Perusahaan menyebut penggunaan zat itu sudah dihentikan pada tahun fiskal 2023, terutama pada produk tahan air yang disebut hanya mencakup sebagian kecil dari koleksi.
Dalam pernyataannya kepada Fox 7, Lululemon menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan pelanggan tetap menjadi prioritas utama. Perusahaan juga mengatakan produknya memenuhi atau bahkan melampaui standar global untuk peraturan, keselamatan, dan kualitas.
Selain itu, Lululemon menyebut semua pemasok diwajibkan melakukan pengujian rutin terhadap zat terlarang, termasuk PFAS, melalui lembaga pihak ketiga yang kredibel. Perusahaan juga menyatakan siap bekerja sama dengan kantor kejaksaan agung Texas dan menyerahkan dokumentasi yang diminta.
Mengapa PFAS menjadi sorotan
PFAS adalah kelompok bahan kimia yang sulit terurai, sehingga mendapat julukan forever chemicals. Karena sifatnya itu, PFAS sering menjadi perhatian ketika dikaitkan dengan produk konsumen maupun isu pencemaran lingkungan.
Perhatian publik biasanya meningkat ketika sebuah merek membangun reputasi di atas pesan kesehatan dan keberlanjutan. Jika klaim pemasaran tidak sejalan dengan bahan yang digunakan dalam produk, kepercayaan konsumen bisa ikut terpengaruh.
Kasus ini memperlihatkan bahwa penegak hukum kini lebih cermat melihat hubungan antara pesan merek dan praktik di lapangan. Hal itu menjadi penting terutama bagi perusahaan yang selama ini menonjolkan citra premium dan sehat.
Dampak pada citra merek
Lululemon dikenal luas sebagai brand pakaian olahraga asal Kanada dengan pasar yang kuat untuk perempuan dan laki-laki. Koleksinya mencakup legging, sports bra, hoodie, jogger, dan berbagai item lain yang punya basis pelanggan besar.
Sorotan atas dugaan PFAS berpotensi mengganggu persepsi konsumen terhadap citra bersih dan sehat yang selama ini melekat pada merek tersebut. Di saat yang sama, isu bahan kimia dalam industri fesyen semakin mendapat perhatian dari publik maupun penegak hukum.
Selama proses berlangsung, perhatian akan tertuju pada dokumen dan bukti yang diminta oleh otoritas Texas serta penjelasan lanjutan dari Lululemon. Hasil penyelidikan nanti akan menentukan apakah persoalan ini berhenti sebagai sengketa soal klaim pemasaran atau berkembang menjadi masalah yang lebih besar bagi brand pakaian olahraga itu.
Source: www.beautynesia.id