Tiga Kekeliruan Einstein yang Mengubah Arah Sains, dari Gelombang Gravitasi hingga Kuantum

Author: Redaksi Android62

Penolakan Albert Einstein terhadap mekanika kuantum menjadi salah satu kekeliruan paling terkenal dalam sejarah fisika. Ia meragukan quantum entanglement, atau keterjeratan kuantum, karena menganggap gagasan itu tidak sejalan dengan pandangannya tentang realitas ruang dan waktu.

Dalam surat kepada Max Born pada 1947, Einstein menyatakan bahwa ia tidak bisa benar-benar mempercayai gagasan tersebut. Ia menilai mekanika kuantum belum lengkap dan keberatan pada ide yang ia sebut sebagai “aksi menyeramkan pada jarak jauh”.

Kritik itu juga terkait dengan relativitas khusus, sebab keterjeratan kuantum tampak seperti fenomena yang melampaui batas kecepatan cahaya. Namun, pada 1964, John Bell membuktikan bahwa keterjeratan kuantum memang nyata, dan hingga kini banyak teknologi modern bergantung pada mekanika kuantum.

Gelombang Gravitasi Pernah Dianggap Mustahil

Kekeliruan Einstein tidak berhenti di bidang kuantum. Saat mencoba menjabarkan gelombang gravitasi bersama Nathan Rosen, ia sempat menyimpulkan bahwa gelombang itu tidak mungkin ada karena hasil perhitungannya memunculkan singularitas dan divergensi yang tampak tidak masuk akal secara fisik.

Einstein kemudian mengirimkan makalahnya ke Physical Review, tetapi seorang peninjau anonim menemukan kesalahan dalam perhitungan itu. Einstein marah dan sempat menarik naskahnya, padahal masalahnya ternyata hanya terletak pada sistem koordinat yang dipakai, bukan pada keberadaan gelombang gravitasi.

Setelah kekeliruan itu diperbaiki, Einstein menerbitkan ulang makalah tersebut dengan kesimpulan yang berbalik total. Gelombang gravitasi akhirnya diakui benar-benar ada, dan penemuannya kemudian menjadi salah satu tonggak penting fisika modern.

Skeptis terhadap Lubang Hitam

Sikap serupa muncul ketika Einstein menelaah matematika di sekitar lubang hitam. Ia kembali menemukan nilai tak terhingga yang menurutnya tidak masuk akal, lalu menyimpulkan bahwa objek tersebut tidak mungkin ada.

John D. Norton dari University of Pittsburgh menjelaskan bahwa Einstein tetap skeptis terhadap keberadaan lubang hitam. Menurut Norton, Einstein bersikeras bahwa singularitas ruang waktu akan muncul di cakrawala peristiwa, sementara analisis lain menunjukkan bahwa nilai tak terhingga itu hanyalah artefak dari metode matematis yang dipilih.

Dalam pandangan Einstein, keberadaan lubang hitam bertentangan dengan keyakinannya tentang hubungan antara matematika dan fisika. Kali ini ia tampak tidak menganggap dirinya sedang salah, meski pemahaman modern justru menerima lubang hitam sebagai bagian nyata dari alam semesta.

Topik Kekeliruan Einstein Hasil Akhir
Gelombang gravitasi Menyimpulkan gelombang gravitasi tidak mungkin ada karena singularitas matematis Perhitungannya diperbaiki, dan gelombang gravitasi diakui nyata
Lubang hitam Menilai objek itu mustahil karena nilai tak terhingga di tepi lubang hitam Singularitas dipahami sebagai artefak matematis, sementara lubang hitam tetap mungkin ada
Mekanika kuantum Menolak keterjeratan kuantum dan menilai teorinya belum lengkap John Bell membuktikan keterjeratan kuantum nyata, dan banyak teknologi bergantung pada mekanika kuantum

Kesalahan yang Justru Mendorong Kemajuan Sains

Meski pernah keliru, Einstein tetap memberi fondasi besar bagi fisika modern. Nicolás Yunes dari University of Illinois Urbana Champaign menegaskan bahwa Einstein memang salah dalam banyak hal, tetapi ide-ide yang terbukti tepat berhasil mengguncang dunia sains.

Yunes juga menilai relativitas umum sendiri mungkin belum sepenuhnya final, sama seperti mekanika kuantum yang belum tentu menjadi deskripsi tepat untuk sistem dengan gravitasi sangat kuat pada skala Planck. Pusat lubang hitam menjadi contoh ekstrem karena berada di wilayah yang sangat kecil sekaligus berada dalam medan gravitasi paling intens di alam semesta.

John D. Norton melihat bahwa banyak kesalahan Einstein justru membuka jalan bagi perkembangan sains. Relativitas umum sendiri lahir dari upaya Einstein menggeneralisasi prinsip relativitas ke percepatan dan dari prinsip Mach, meski keduanya tidak sepenuhnya cocok dengan teori final yang ia bangun.

Einstein tampaknya juga sadar bahwa makalah ilmiah dapat memuat kekeliruan. Saat menulis buku bersama Leopold Infeld, ia hanya tertawa ketika Infeld mengatakan harus sangat berhati-hati karena nama Einstein akan tercantum di dalamnya.

Menurut cerita itu, Einstein menjawab bahwa ada pula makalah keliru yang tercantum atas namanya. Bagi ilmuwan sebesar dirinya, kesalahan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses yang justru bisa membawa ilmu pengetahuan melangkah lebih jauh.

Berita Terbaru