Tiga Kekuatan Besar Kuasai Separuh Anggaran Militer Dunia, Beban Rp46 Ribu Triliun Makin Membengkak

Lonjakan belanja militer dunia pada 2025 menempatkan total pengeluaran hampir di angka $2,9 triliun, atau sekitar Rp46 ribu triliun. Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) itu menunjukkan kenaikan selama 11 tahun berturut-turut dan memperlihatkan betapa kuatnya dorongan negara-negara untuk memperbesar anggaran pertahanan di tengah rasa tidak aman yang meluas.

Di balik angka besar tersebut, kekhawatiran atas arah keamanan global menjadi faktor yang sama pentingnya dengan perang yang masih berlangsung. Peneliti SIPRI, Lorenzo Scarazzato, mengatakan, “Everything points to a world that feels less secure and is spending on its military to compensate for the global landscape.”

Tiga kekuatan besar masih dominan

Amerika Serikat, China, dan Rusia tetap menjadi penopang utama belanja senjata dunia. Ketiganya mencatat total pengeluaran $1,48 triliun, sedikit lebih dari separuh belanja militer global.

Amerika Serikat masih berada di puncak daftar pengeluaran terbesar, walau anggarannya turun 7,5 persen menjadi $954 miliar. SIPRI menyebut penurunan itu berkaitan dengan tidak adanya persetujuan bantuan militer baru untuk Ukraina, meski selama tiga tahun sebelumnya Washington sudah berkomitmen total $127 miliar untuk Kyiv.

Eropa jadi motor utama kenaikan

Kenaikan paling menonjol justru datang dari Eropa, termasuk Rusia dan Ukraina, yang secara keseluruhan membukukan lonjakan 14 persen menjadi $864 miliar. Kawasan ini menjadi salah satu pusat akselerasi anggaran pertahanan, terutama di tengah perang Ukraina dan berkurangnya keterlibatan Amerika Serikat dalam keamanan Eropa.

Scarazzato menjelaskan bahwa dua hal itu sama-sama mendorong negara-negara Eropa untuk memperbesar belanja militernya. Perang di Ukraina masih terus berjalan, sementara Washington mendorong negara-negara Eropa memikul tanggung jawab pertahanan yang lebih besar.

Dampaknya terlihat pada sejumlah negara besar di kawasan. Jerman menaikkan belanja militernya 24 persen menjadi $114 miliar, sedangkan Spanyol melonjak 50 persen menjadi $40,2 miliar.

Kenaikan Spanyol juga membuat porsi belanja militernya menembus 2 persen dari produk domestik bruto untuk pertama kalinya sejak 1994. Perubahan itu menunjukkan bahwa pertahanan semakin diprioritaskan dalam penyusunan anggaran banyak pemerintah Eropa.

Tekanan fiskal dari perang Ukraina dan Rusia

Rusia dan Ukraina sama-sama mengalihkan sumber daya besar untuk menopang perang yang masih berlangsung. Rusia membelanjakan $190 miliar, naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan setara 7,5 persen dari PDB.

Ukraina mencatat kenaikan yang lebih tajam, yakni 20 persen menjadi $84,1 miliar. Nilai itu setara 40 persen dari PDB, sehingga menggambarkan besarnya beban fiskal yang harus ditanggung Kyiv untuk menjaga operasi militernya tetap berjalan.

Kedua negara juga memiliki porsi tertinggi dari anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk militer. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa konflik berkepanjangan bukan hanya memengaruhi medan tempur, tetapi juga mengubah pola belanja publik secara mendasar.

Asia dan Oseania ikut terdorong

Di Asia dan Oseania, pengeluaran militer mencapai $681 miliar, naik 8,5 persen dari 2024. SIPRI menyebut kenaikan ini sebagai yang terbesar secara tahunan di kawasan tersebut sejak 2009.

China tetap menjadi pemain terbesar di kawasan dengan estimasi belanja $336 miliar pada 2025. Negara itu terus menambah anggaran militernya setiap tahun selama tiga dekade terakhir, dan tren tersebut masih berlanjut.

Negara lain di kawasan juga memperbesar anggaran karena persepsi ancaman yang meningkat. Jepang menaikkan belanja militernya 9,7 persen menjadi $62,2 miliar, setara 1,4 persen dari PDB, yang merupakan proporsi tertinggi sejak 1958.

Taiwan juga menambah pengeluaran militernya 14 persen menjadi $18,2 miliar. Rangkaian kenaikan ini menunjukkan bahwa ketegangan keamanan di Asia Timur mendorong banyak negara memperkuat pertahanan mereka.

Timur Tengah tetap tegang

Di Timur Tengah, total belanja militer hanya naik 0,1 persen menjadi $218 miliar. Namun, angka itu tidak berarti ketegangan di kawasan mereda, karena sebagian besar negara tetap mempertahankan atau menambah anggaran pertahanan.

Israel dan Iran menjadi dua pengecualian dalam data SIPRI. Belanja Iran turun 5,6 persen menjadi $7,4 miliar, meski penurunan itu terjadi di tengah inflasi tahunan 42 persen, sehingga secara nominal pengeluaran sebenarnya masih bergerak naik.

Israel menurunkan belanja militernya 4,9 persen menjadi $48,3 miliar setelah intensitas perang Gaza mereda usai kesepakatan gencatan senjata pada Januari 2025. Meski turun, angka itu masih 97 persen lebih tinggi dibanding 2022, sehingga menunjukkan besarnya dampak eskalasi konflik terhadap anggaran keamanan.

Data SIPRI pada akhirnya menggambarkan dunia yang makin mengalokasikan sumber daya untuk pertahanan di banyak kawasan sekaligus. Perang, ketegangan geopolitik, dan perubahan sikap keamanan negara-negara besar terus mendorong belanja militer naik dan membuat beban anggaran nasional semakin berat.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer