Pemindahan seekor paus bungkuk bernama Timmy akhirnya dimulai setelah hewan laut itu terjebak selama empat pekan di perairan dangkal dekat Pantai Timmendorfer, Jerman selatan. Operasi penyelamatan ini menarik perhatian karena biaya besar ditanggung oleh dua miliarder yang identitasnya tidak diungkap ke publik.
Timmy dibawa menggunakan kapal tongkang yang diisi air sebelum diarahkan menuju Laut Utara. Di titik berikutnya, tim penyelamat masih harus memeriksa kondisi kesehatannya untuk menentukan apakah paus itu cukup kuat dilepas kembali ke laut lepas.
Kasus ini menjadi sorotan bukan hanya karena langkah evakuasinya yang tidak biasa, tetapi juga karena lokasi Timmy berada di wilayah yang memang bukan habitat ideal bagi paus bungkuk. Laut Baltik dikenal memiliki perairan dangkal dan kadar garam rendah, sehingga spesies ini umumnya menghindarinya.
Para ilmuwan menduga Timmy mungkin sakit atau kehilangan arah saat keluar dari jalur migrasi alaminya. Dalam kondisi seperti itu, paus besar seperti Timmy bisa kesulitan kembali ke perairan yang lebih sesuai dan akhirnya bertahan terlalu lama di pesisir Jerman.
Selama masa terdampar, warga sekitar ikut menjaga kondisi Timmy agar tetap stabil. Mereka menyemprotkan air ke tubuh paus itu supaya kulitnya tidak kering, sementara luka lecet yang muncul di tubuhnya dirawat dengan olesan zinc.
Proses pengangkutan ke tongkang berlangsung di bawah pengawasan ketat tim penyelamat. Timmy berhasil diarahkan masuk ke kapal itu pada Selasa sore waktu setempat setelah melalui pemantauan sebelumnya.
Saat masuk ke tongkang, Timmy sempat menyemburkan air. Seorang saksi menduga gerakan itu sebagai respons positif, meski hal tersebut belum bisa dipastikan secara ilmiah.
Setelah berada di kapal, tongkang itu ditarik menuju Laut Utara untuk tahap lanjutan. Dari sana, nasib Timmy akan ditentukan oleh hasil pemeriksaan kesehatan dan penilaian tim penyelamat terhadap kekuatannya.
Jika keadaan paus itu dinilai memadai, Timmy akan dilepas agar dapat berenang menuju Samudra Atlantik dengan bantuan pelacak. Alat itu dipakai untuk memantau pergerakannya setelah kembali ke area laut yang lebih sesuai bagi hidupnya.
Meski upaya ini memberi peluang bagi Timmy untuk keluar dari situasi berbahaya, sebagian ilmuwan tidak sepenuhnya sepakat dengan metode yang dipilih. Peneliti dari museum kelautan setempat sebelumnya menilai pemindahan seperti ini berisiko, karena dapat menambah stres dan memicu cedera baru.
Mereka juga menyebut peluang keberhasilan operasi tidak besar. Alasannya, Timmy sudah melemah setelah lama terdampar dan pemindahan hewan berukuran besar memang selalu menyimpan risiko tinggi.
Di tengah perdebatan itu, operasi penyelamatan tetap berjalan berkat dukungan dana dari dua miliarder. Bantuan tersebut membuat Timmy akhirnya bisa dipindahkan dari lokasi terdampar, meski kepastiannya masih bergantung pada hasil pemeriksaan kesehatan sebelum pelepasan ke laut lepas.
Source: www.cnbcindonesia.com