Tingkat Hidup Mangrove Tak Bisa Disamaratakan, Cuaca Dan Karakter Pesisir Jadi Penentu

Penanaman mangrove di pesisir Jawa Tengah ternyata tidak bisa diseragamkan begitu saja. Pemprov Jawa Tengah kini menegaskan bahwa kondisi tiap wilayah berbeda, sehingga hasil tanam serentak tidak selalu menghasilkan tingkat tumbuh yang sama.

Evaluasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah menunjukkan ada lokasi yang mampu mencatat tingkat tumbuh di atas 80 persen. Namun, ada juga titik lain yang hasilnya lebih rendah karena pengaruh abrasi, angin, pasang surut air laut, serta ketidaksesuaian jenis mangrove dengan karakter lahan.

Kondisi pesisir menentukan hasil tanam

Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Konservasi Sumber Daya Alam Dinas LHK Jawa Tengah, Pujiharini, menyebut tingkat tumbuh mangrove memang sulit dibuat merata. Menurut dia, faktor lokasi dan musim ikut memengaruhi hasil di lapangan.

Situasi itu membuat pendekatan tanam massal perlu dilihat ulang. Apa yang berhasil di satu titik belum tentu memberi hasil sama di lokasi pesisir lain yang punya karakter alam berbeda.

Jadwal tanam tidak bisa dipukul rata

Salah satu temuan penting dari evaluasi adalah soal waktu penanaman. Jadwal yang dibuat seragam sering kali tidak cocok dengan kondisi setiap pesisir, karena masing-masing wilayah punya waktu ideal sendiri yang mengikuti pasang surut air laut dan cuaca setempat.

Pujiharini menjelaskan, pada beberapa program penanaman tetap harus dilakukan bersamaan karena mengikuti instruksi kegiatan nasional. Karena itu, penyesuaian di lapangan menjadi penting agar kegiatan tidak berhenti pada seremoni tanam saja.

Dinas LHK Jawa Tengah kemudian menyesuaikan skala penanaman di lapangan. Setelah bibit ditanam, perhatian lebih besar juga diarahkan pada pemeliharaan agar tanaman tetap hidup dan bisa tumbuh lebih baik.

Jenis mangrove ikut menentukan keberhasilan

Selain waktu tanam, jenis mangrove yang dipilih juga menjadi penentu hasil rehabilitasi. Pujiharini menuturkan masyarakat paling sering mengenal Rhizophora karena jenis itu paling banyak ditanam di berbagai lokasi.

Masalahnya, jenis yang populer belum tentu cocok untuk semua habitat pesisir. Jika karakter lahan tidak sesuai, tingkat keberhasilan bisa turun dan tanaman menjadi lebih sulit bertahan.

Karena itu, kesesuaian antara jenis mangrove dan lahan kini menjadi perhatian utama. Evaluasi tidak hanya menyoroti jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga kesesuaian tanaman dengan kondisi tempat tumbuhnya.

Edukasi dan pemantauan diperkuat

Dinas LHK Jawa Tengah juga menilai pemahaman masyarakat dan kelompok penanam perlu terus ditingkatkan. Edukasi tentang kecocokan jenis tanaman dengan karakter lahan dianggap penting supaya rehabilitasi tidak sekadar mengejar banyaknya bibit.

Untuk menjaga hasilnya, Dinas LHK Jawa Tengah bersama cabang dinas kehutanan dan dinas lingkungan hidup kabupaten/kota melakukan monitoring berkala setiap tiga bulan. Pemantauan itu dipakai untuk membaca perkembangan tanaman sekaligus melihat kebutuhan tindak lanjut di lokasi tanam.

Dengan kondisi pesisir yang beragam, pendekatan yang lebih lentur dianggap lebih masuk akal daripada menyeragamkan semua lokasi. Fokusnya kini bergeser pada penyesuaian, pemeliharaan, dan pemantauan agar mangrove yang ditanam benar-benar bertahan di lapangan.

Source: regional.kompas.com

Berita Terkait