PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia menghentikan produksi Veloz bensin dan mengalihkan kapasitasnya ke model hybrid. Arah baru ini menandai pergeseran yang lebih tegas di lini produksi Toyota Indonesia, dengan efisiensi dan elektrifikasi ditempatkan sebagai prioritas utama.
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menyampaikan bahwa seluruh kapasitas produksi akan dipindahkan ke hybrid. Saat dikonfirmasi di Jakarta, ia menegaskan, “Kita transfer semua ke hybrid,” sebagai penanda bahwa langkah tersebut bukan keputusan kecil di internal pabrikan.
Veloz bensin tidak lagi jadi bagian dari jalur produksi
Bob juga menegaskan bahwa Veloz bensin tidak akan kembali diproduksi. Ia mengatakan, “(Veloz ICE) nggak ada, iya (full hybrid) biar hemat lah,” yang memperlihatkan bahwa pertimbangan efisiensi biaya ikut mendorong perubahan arah tersebut.
Pernyataan itu membuat posisi Veloz bensin menjadi jelas. Penghentian produksinya bukan sekadar penyesuaian sementara, melainkan keputusan permanen yang mengakhiri peran model bensin itu di jalur produksi TMMIN.
Tanda-tanda penurunan sudah muncul lebih dulu
Sebelum benar-benar berhenti, performa distribusi Veloz bensin memang sudah melemah. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan varian manual Toyota Veloz bensin sudah tidak diproduksi sejak Maret 2026.
Pada tahap distribusi, angkanya juga terus turun. Whole sales Veloz bensin tercatat 49 unit pada Januari, lalu turun menjadi 14 unit pada Februari, sebelum akhirnya nol unit pada Maret 2026. Pola itu menunjukkan permintaan terhadap model bensin tersebut memang merosot.
Hybrid makin diposisikan sebagai arah utama
Peralihan produksi ke hybrid memperlihatkan respons Toyota terhadap perubahan pasar. Arah ini sejalan dengan kebutuhan konsumen yang semakin memberi perhatian pada efisiensi bahan bakar dan teknologi elektrifikasi.
Di saat yang sama, model bensin konvensional tampak mulai kehilangan prioritas di sejumlah lini. Hybrid kemudian ditempatkan sebagai pilihan yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini, baik bagi konsumen maupun bagi pabrikan yang ingin menjaga efisiensi produksi.
Tekanan harga mobil tetap membayangi pasar
Perubahan arah produksi Toyota juga terjadi di tengah isu harga mobil yang masih menjadi perhatian di Indonesia. Peneliti dari Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, menilai tingginya harga kendaraan di Tanah Air salah satunya dipengaruhi besarnya komponen pajak.
Ia menyebut, “Bahwa harga produk otomotif kita itu, 40 persen tax, dan sisanya barang.” Pernyataan itu menggambarkan bahwa struktur biaya ikut membentuk harga jual kendaraan di pasar domestik.
Agus juga menyoroti daya beli masyarakat yang ikut terbatas karena beban harga tersebut. Ia mencontohkan bahwa dengan Produk Domestik Bruto sekitar US$ 5.000, konsumen Indonesia menghadapi tekanan harga yang lebih berat dibanding pasar negara maju.
Dalam konteks itu, keputusan Toyota memusatkan produksi ke hybrid bisa dibaca sebagai penyesuaian terhadap pasar yang sangat peka pada efisiensi dan biaya. Sementara Veloz bensin sudah disetop, Toyota kini menempatkan hybrid sebagai jalur yang lebih relevan untuk menjaga daya saing di Indonesia.
Source: www.liputan6.com






