Toyota melihat peluang ekspansi di Indonesia belum bisa bertumpu pada pasar domestik yang masih bergerak lambat. Di tengah kondisi itu, produsen asal Jepang tersebut menilai dorongan terhadap pelaku industri yang sudah lebih dulu hadir di Tanah Air menjadi langkah yang lebih masuk akal dibanding membuka ruang terlalu lebar bagi pemain baru.
Pandangan tersebut mengemuka setelah perwakilan Toyota Asia bertemu Presiden Prabowo Subianto di Jepang. Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bob Azam, mengatakan pembahasan itu juga menyinggung arah pengembangan usaha Toyota di Indonesia, tetapi ia menegaskan pasar dalam negeri belum cukup kuat untuk menjadi motor pertumbuhan utama.
Pasar domestik belum memberi dorongan
Bob menyampaikan bahwa pelemahan daya beli membuat pasar otomotif nasional belum menunjukkan pergerakan yang diharapkan. Dalam situasi seperti ini, Toyota menilai ekspor menjadi jalur yang lebih realistis untuk menjaga aktivitas industri tetap berjalan.
“Dalam situasi kayak begini market kita tuh masih stagnan ya. Oleh karena itu kita banyak expand ke ekspor,” ujar Bob di Jakarta, Selasa (14/4).
Kondisi tersebut membuat pabrikan otomotif perlu bergerak hati-hati. Investasi dan kapasitas produksi tetap perlu dijaga, namun perluasan besar di pasar domestik belum terlihat memiliki landasan yang cukup kuat.
Ekspor ikut menghadapi hambatan
Meski ekspor menjadi penopang, jalur itu juga tidak sepenuhnya lancar. Bob mengatakan gangguan rantai distribusi global masih terasa, termasuk akibat memanasnya situasi di Timur Tengah dan persoalan logistik lain yang membuat ketersediaan kontainer terganggu.
“Bahkan bener-bener non-Timur Tengah pun problem. Karena kontainernya juga nggak ada gitu loh. Jadi kita sudah ekspor tapi kontainernya nggak balik,” katanya.
Situasi ini menunjukkan bahwa ekspor belum otomatis menjadi solusi yang mudah. Bagi industri, hambatan semacam itu justru dapat menambah beban operasional ketika pasar dalam negeri masih lesu.
Dorongan untuk pelaku lama
Dalam pembicaraan dengan pemerintah, Toyota menilai kebijakan investasi sebaiknya lebih memprioritaskan perusahaan yang sudah memiliki basis produksi di Indonesia. Bob menilai pendekatan tersebut lebih efisien karena pelaku lama sudah memiliki ekosistem usaha, tenaga kerja, dan rantai produksi yang terbentuk.
“Jadi memang ya paling bagus bagi pemerintah tuh untuk mendorong existing player yang sudah ada di Indonesia. Untuk expand,” kata Bob.
Menurut dia, investor baru biasanya membutuhkan dukungan awal yang lebih besar, termasuk insentif fiskal. Karena itu, fokus pada pemain yang sudah eksis dinilai lebih cocok di tengah keterbatasan ruang fiskal.
Pertemuan di Jepang dan sinyal investasi
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan belasan bos perusahaan Jepang di Tokyo menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat arus investasi. Toyota hadir melalui Masahiko Maeda, CEO Toyota Asia Region, dalam agenda yang disebut menghasilkan sejumlah kerja sama strategis.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pertemuan itu menjadi sarana untuk mempererat kerja sama investasi, terutama pada sektor hilirisasi industri yang menjadi prioritas nasional. Ia juga menyebut pemerintah ingin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Teddy menambahkan, Prabowo mendorong investor Jepang agar lebih aktif memperluas investasi di Indonesia, terutama pada sektor bernilai tambah tinggi. Dari Jepang, ia menyebut ada komitmen bisnis sebesar USD23,63 miliar atau setara Rp401,7 triliun.
Dalam penjelasannya, Teddy tidak merinci bentuk kerja sama yang termasuk dalam komitmen tersebut. Namun ia menegaskan pertemuan itu melanjutkan capaian investasi sebelumnya yang juga disebut mencapai lebih dari Rp380 triliun.
Bagi Toyota, seluruh rangkaian pembahasan itu mengarah pada satu kebutuhan yang sama, yaitu menyesuaikan strategi bisnis dengan kondisi pasar yang belum pulih. Saat permintaan domestik masih stagnan dan ekspor masih dibayangi hambatan logistik, dukungan bagi pelaku industri yang sudah memiliki pijakan di Indonesia dinilai sebagai langkah paling realistis untuk menjaga laju investasi otomotif.
Source: www.cnnindonesia.com






