Perubahan arah layanan di sejumlah SPBU membuat Pertamax dan Pertamax Turbo lebih menonjol di gerai berkonsep Signature, sementara Pertalite justru makin sulit dijumpai. Kondisi ini mendorong perdebatan baru karena kebijakan yang dianggap lebih tertib secara teknis itu juga berpotensi menambah beban bagi warga dengan penghasilan terbatas.
Bagi pengguna harian, pergeseran tersebut tidak sekadar soal pilihan bahan bakar di pompa. Selisih harga beberapa ribu rupiah per liter dapat terasa besar jika kendaraan dipakai setiap hari, terutama oleh pekerja informal, pengemudi ojek online, dan pengguna sepeda motor yang sangat bergantung pada mobilitas.
Tekanan paling kuat dirasakan kelompok berpenghasilan rendah
Dosen Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, menilai perubahan ini relatif tidak menjadi masalah bagi masyarakat yang mampu. Namun bagi warga dengan pendapatan pas-pasan, harga BBM yang mengikuti pasar dapat langsung memengaruhi pengeluaran bulanan.
Jayan menyoroti bahwa dalam pemakaian rutin, biaya bahan bakar bisa naik cukup signifikan ketika jarak harga antara BBM nonsubsidi dan Pertalite semakin jauh. Karena itu, kebijakan yang membuat BBM subsidi lebih sulit diakses akan paling cepat terasa dampaknya pada pengguna harian yang bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.
Mobilitas harian juga membuat persoalan ini lebih sensitif. Ketika kendaraan bukan hanya alat transportasi, tetapi juga penunjang kerja, kenaikan ongkos bahan bakar dapat memangkas ruang pengeluaran lain yang sebelumnya sudah terbatas.
Dorongan memakai BBM sesuai spesifikasi mesin
Di sisi lain, pengetatan akses terhadap BBM subsidi dipandang sebagai langkah yang sulit dihindari. Salah satu pertimbangannya adalah dorongan agar subsidi lebih tepat sasaran sekaligus mendorong penggunaan bahan bakar yang sesuai kebutuhan teknis kendaraan.
Guru Besar ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan pengguna kendaraan sebaiknya mulai memakai BBM sesuai rekomendasi pabrikan. Menurut dia, pemilihan kadar oktan yang tepat bukan hanya berhubungan dengan performa mesin, tetapi juga dengan emisi gas buang dan kualitas udara.
Tri menegaskan bahwa BBM yang sesuai rekomendasi pembuat kendaraan penting agar emisi gas buang tetap sesuai hasil uji tipe dan regulasi yang berlaku. Dari sudut pandang ini, persoalan di SPBU tidak berhenti pada produk yang dipilih, tetapi juga terkait standar teknis kendaraan di jalan.
Ia juga menyoroti biaya kesehatan akibat polusi udara yang dinilai jauh lebih besar dalam jangka panjang. Karena itu, pengetatan distribusi BBM subsidi dilihat sebagai salah satu cara untuk mendorong peralihan ke bahan bakar yang lebih cocok dengan spesifikasi mesin.
Subsidi tetap perlu menimbang kemampuan warga
Meski argumen teknis dan lingkungan menguat, aspek sosial tetap tidak bisa diabaikan. Jayan menilai pembatasan akses terhadap BBM subsidi harus selalu dibaca bersama kondisi daya beli masyarakat.
Ia berpandangan pemerintah masih bisa memberikan bantuan kepada masyarakat tanpa harus selalu melalui subsidi BBM langsung. Skema bantuan lain dinilai tetap memungkinkan selama mampu meringankan beban warga, terutama kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan biaya hidup.
Pandangan itu menunjukkan bahwa penataan subsidi energi tidak semestinya berhenti pada pembatasan di SPBU. Pemerintah juga dinilai perlu menyiapkan kompensasi atau bentuk bantuan lain agar kelompok berpenghasilan rendah tidak menanggung dampak transisi sendirian.
Pengetatan distribusi semakin terlihat di lapangan
Selain berkurangnya Pertalite di sejumlah titik, pengetatan juga tampak dari penghapusan barcode bagi kendaraan yang tidak memenuhi syarat membeli BBM subsidi. Langkah ini dipandang mempersempit ruang penyalahgunaan Pertalite oleh pihak yang tidak berhak.
Bagi pendukung kebijakan, mekanisme tersebut membantu subsidi menjadi lebih tepat sasaran. Namun praktik di lapangan tetap menuntut kesiapan sistem dan perlindungan bagi pengguna yang memang bergantung pada BBM bersubsidi.
Situasi ini memperlihatkan bahwa pergeseran prioritas di SPBU menyentuh dua kepentingan yang sama kuat. Di satu sisi ada dorongan menuju BBM yang sesuai spesifikasi kendaraan dan lebih baik dari sisi emisi, tetapi di sisi lain ada kebutuhan menjaga akses energi yang terjangkau bagi masyarakat kecil.
Source: otomotif.kompas.com






