Trump Klaim AS Sudah Menang di Iran, Ancaman Perang Masih Menggantung

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Donald Trump menyatakan negaranya sudah “menang secara militer”. Meski begitu, Trump belum memastikan apakah situasi itu akan berlanjut menjadi konflik berskala penuh.

Pernyataan itu muncul di tengah saling serang yang membuat kedua negara kembali berada pada titik rawan. Di satu sisi, Washington mengklaim telah menghantam banyak sasaran di Iran, sementara Tehran menegaskan telah membalas serangan itu ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan.

Serangan yang memicu eskalasi

Pada Rabu dini hari, pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Sehari setelahnya, Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut sekitar 90 sasaran telah diserang dalam operasi tersebut.

Iran kemudian menyampaikan versi balasan mereka. Tehran mengklaim telah menyerang pangkalan militer milik AS di Bahrain dan Kuwait, sementara Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menyatakan serangan balasan juga diarahkan ke dua pangkalan AS di Kuwait dan dua pangkalan di Bahrain.

PihakKlaim tindakanLokasi
ASMenyerang sekitar 90 sasaranIran
IranSerangan balasan ke pangkalan militer ASBahrain dan Kuwait

Trump yakin tekanan militer sudah memberi hasil

Ketika ditanya seberapa besar kemungkinan ketegangan itu berubah menjadi perang skala penuh, Trump menjawab, “Saya tidak tahu. Kami menang dengan sangat cepat. Ini cara lain untuk melakukannya. Kami punya banyak cara untuk menang, tetapi kami sudah menang secara militer.”

Ucapan itu menunjukkan keyakinan Trump bahwa tekanan militer AS sudah mencapai sasaran. Namun, jawaban tersebut juga membuka ruang bahwa eskalasi lanjutan masih bisa terjadi jika situasi di lapangan terus memburuk.

Tehran merespons dengan keras

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menanggapi ancaman Trump dengan nada keras melalui unggahan di X pada Rabu 8 Juli 2026. Ia menilai Trump tampaknya lebih memahami “bahasa kekerasan”.

Gharibabadi menulis bahwa pernyataan Trump yang menghina bangsa Iran dan mengancam serangan lanjutan bukanlah “tanda kekuatan, tetapi pengakuan atas kegagalan kebijakan yang selama bertahun-tahun dibangun di atas kekerasan, sanksi, dan ancaman”. Ia juga menegaskan bahwa kebijakan Trump gagal membuat bangsa Iran bertekuk lutut.

Ia menambahkan, “Dengan Trump yang kriminal dan kejam, kita harus berbicara dalam bahasanya sendiri. Tampaknya, ia lebih memahami bahasa kekerasan,” kata Gharibabadi. Nada itu memperlihatkan Iran belum menunjukkan tanda untuk meredakan retorika setelah serangan dan balasan yang terjadi.

Hingga kini, arah hubungan kedua negara masih sangat bergantung pada langkah berikutnya dari masing-masing pihak. AS menyebut sudah unggul secara militer, sementara Iran menegaskan belum tunduk dan telah membalas serangan yang masuk ke wilayahnya.

Source: www.viva.co.id
Berita Terkait