Ketegangan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu kembali mengemuka ketika keduanya terlihat tidak lagi berada pada jalur yang sama dalam menyikapi perang Israel, Lebanon, dan Iran. Perbedaan itu paling jelas terlihat saat Washington berusaha menahan eskalasi, sementara Tel Aviv tetap mendorong tekanan militer.
Dalam situasi yang terus memanas, Trump disebut ingin perang cepat mereda demi stabilitas kawasan dan pasar. Sebaliknya, Netanyahu masih menekan pendekatan keras terhadap Hezbollah dan Iran meski risikonya membuat konflik berlangsung lebih lama.
Lebanon menjadi titik paling sensitif
Gesekan terbesar muncul di Lebanon, tempat Israel masih terlibat perang melawan Hezbollah meski beberapa kali ada pembahasan gencatan senjata. Iran ingin Lebanon dimasukkan ke dalam kesepakatan gencatan senjata regional yang lebih luas, tetapi Israel menolak memisahkan operasi militernya dari kepentingan itu.
Trump dinilai lebih dekat pada opsi kompromi karena ingin kesepakatan segera tercapai. Di sisi lain, Israel tetap melanjutkan serangan dan mempertahankan wilayah yang dikuasainya di Lebanon selatan dengan alasan ancaman Hezbollah belum hilang.
Situasi itu ikut memicu ketegangan di belakang layar. Trump disebut sempat berbicara keras dengan Netanyahu dan mengeluhkan sikap pemimpin Israel tersebut, terutama setelah Israel menyerang Beirut dan mengenai bangunan tempat tinggal.
Serangan itu menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya menurut otoritas Lebanon. Trump secara terbuka juga menyatakan ketidaksetujuannya atas serangan tersebut.
Tujuan perang keduanya mulai berseberangan
Pada awal eskalasi, Amerika Serikat dan Israel sempat terlihat sejalan dalam menekan Iran. Netanyahu menyatakan operasi itu bertujuan melemahkan kekuatan militer Iran, menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya, serta menekan pemerintahan Teheran.
Namun, arah kebijakan keduanya kemudian tidak lagi sama. Trump tampak menginginkan hasil cepat dan menghindari konflik yang berkepanjangan, sedangkan Netanyahu disebut ingin memastikan Iran dan jaringan sekutunya benar-benar lumpuh meski memerlukan waktu lebih lama.
Perbedaan tujuan ini juga terlihat ketika Iran membalas dengan rudal balistik dan Israel menyerang balik. Di saat yang sama, Trump justru berupaya menjaga jalur negosiasi dengan Teheran agar tidak runtuh.
Tekanan politik ikut menekan langkah Washington dan Tel Aviv
Di Amerika Serikat, Trump menghadapi tekanan dari publik yang mulai lelah dengan konflik Timur Tengah. Harga bahan bakar dan kebutuhan lain ikut naik, sementara sebagian pendukungnya menilai ia justru menyeret AS kembali ke perang yang tidak populer.
Ia juga harus mempertimbangkan posisi Partai Republik menjelang pemilu Kongres bulan November. Karena itu, Trump mendorong agar Selat Hormuz kembali dibuka dan harga energi stabil, dua hal yang penting bagi citra pemerintahannya di mata pemilih.
Di Israel, Netanyahu pun berada di bawah tekanan politik yang tidak kalah besar. Ia dituntut menunjukkan hasil nyata setelah lebih dari dua tahun konflik yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, tetapi Hamas masih bertahan di sebagian Gaza, Hezbollah masih menembakkan roket, dan Iran masih berdiri meski mengalami kerugian besar.
Trump ingin kendali, Israel ingin ruang gerak
Trump menegaskan bahwa dirinya memegang kendali dalam kebijakan dan langkah besar terkait konflik ini. Ia bahkan mengatakan kepada Financial Times, “Saya yang menentukan semua langkah, bukan Netanyahu.”
Pernyataan itu menunjukkan adanya upaya Washington untuk menahan eskalasi, terutama ketika serangan Israel dinilai bisa mengganggu pasar dan merusak negosiasi dengan Iran. Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan antara AS dan Israel menyebut Trump sempat meminta Israel menahan diri agar situasi tidak lepas kendali.
Israel menolak anggapan bahwa permintaan itu cukup untuk menghentikan respons militer. Pihak Israel berpendapat AS sendiri tidak akan membiarkan serangan semacam itu berlalu tanpa balasan cepat, dan Netanyahu juga dinilai tidak bisa terlihat pasif setelah serangan Iran.
Friksi yang bukan pertama kali terjadi
Ketegangan semacam ini ternyata bukan hal baru dalam hubungan keduanya. Pada Maret lalu, Trump juga disebut marah ketika Netanyahu memutuskan menyerang fasilitas gas penting milik Iran, karena langkah itu memicu balasan ke infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Saat itu, Trump mengatakan, “Saya sudah bilang kepadanya, jangan lakukan itu. Hubungan kami sangat baik. Semuanya terkoordinasi, tetapi kadang-kadang dia tetap melakukan sesuatu.” Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa masalah koordinasi antara Washington dan Tel Aviv sudah beberapa kali muncul dalam operasi militer.
Meski begitu, sumber lain menyebut pemerintah AS sebenarnya telah diberi tahu lebih dulu mengenai rencana serangan Israel sebelum operasi dilakukan. Dengan demikian, perbedaan yang tampak di depan publik belum tentu sepenuhnya mencerminkan putusnya komunikasi di balik layar.
Netanyahu berusaha mengecilkan kesan adanya konflik serius dengan Trump. Ia menyebut Israel memiliki hak penuh untuk membela diri dan mengatakan pesan itu juga ia sampaikan dalam percakapan yang ia gambarkan berlangsung baik dan penuh hormat.
Namun, selama perang di Lebanon belum selesai dan pembicaraan dengan Iran masih rapuh, ruang gesekan antara keduanya tetap terbuka. Hubungan Trump dan Netanyahu pun terus diuji oleh kepentingan militer, tekanan politik, dan kebutuhan menjaga citra di mata publik masing-masing.
Source: www.viva.co.id






