Trump Tekan Netanyahu Jangan Ganggu, Jalur Damai AS-Iran Makin Menguat

Author: Redaksi Android62

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menahan diri dan tidak memicu serangan baru terhadap Iran. Desakan itu muncul saat Washington disebut menilai pembicaraan damai dengan Teheran sudah berada di tahap akhir.

Trump bahkan menyampaikan pesan yang sangat keras kepada Netanyahu. Dalam wawancara dengan Axios, ia melontarkan peringatan, “Bibi, hati-hati, atau Anda akan sendirian,” yang dibaca sebagai sinyal bahwa Amerika Serikat tidak ingin terseret ke konflik baru.

Washington memilih jalur diplomasi

Di tengah ketegangan yang masih terasa, Gedung Putih disebut lebih ingin menjaga ruang negosiasi tetap terbuka. Trump juga meminta kedua pihak menghentikan aksi saling serang agar proses damai tidak kembali runtuh di tengah jalan.

Menurut Trump, pembicaraan dengan Iran sudah masuk “final throes” atau tahap akhir yang menentukan. Ia menilai kesepakatan yang sedang dibangun bisa segera mengubah situasi, termasuk membuat Selat Hormuz kembali berjalan normal dalam beberapa hari setelah perjanjian tercapai.

Laporan The Guardian menyebut pemerintah Trump telah membagikan rancangan awal kesepakatan damai kepada sejumlah sekutu, termasuk Israel. Langkah itu menunjukkan bahwa Washington sedang berupaya mempercepat jalur diplomasi sekaligus mencegah eskalasi baru di lapangan.

Perbedaan arah dengan Israel makin terlihat

Hubungan Trump dan Netanyahu yang biasanya dekat kini tampak diuji oleh perbedaan strategi. Trump lebih menekankan penghentian pertempuran demi stabilitas kawasan dan kelancaran jalur energi global, sedangkan Netanyahu tetap memandang Iran sebagai ancaman strategis yang harus ditekan secara militer.

Ketegangan itu makin jelas setelah serangan mematikan Israel terhadap Beirut pada Minggu (7/6/2026). Trump disebut sempat menelepon Netanyahu pada malam hari dan meminta agar tidak ada serangan balasan, tetapi Israel tetap melancarkan serangan ke Iran pada Senin pagi.

Dalam situasi tersebut, nada keras Washington terhadap sekutu dekatnya menjadi sorotan. Sejumlah pengamat melihat hubungan kedua pemimpin sedang berada pada fase paling sensitif karena perbedaan pandangan mengenai cara menghadapi Iran.

Iran dan Pakistan masih buka pintu perundingan

Dari sisi Teheran, sinyal diplomasi belum tertutup. Presiden Iran Masoud Pezeshkia menyatakan Iran tetap berada di meja perundingan melalui platform X.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan Washington dan Teheran masih bertukar pandangan menuju kesepakatan akhir dengan bantuan Pakistan sebagai perantara. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, juga menegaskan bahwa upaya mencari solusi damai terus dilakukan secara serius dan hati-hati.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuding Washington ikut bertanggung jawab atas eskalasi yang terjadi. Menurut dia, Amerika Serikat tidak bisa lepas dari konsekuensi karena terlibat dalam proses negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Pakistan sendiri menyerukan penghentian serangan, terutama ketika tujuan akhir perjanjian disebut sudah semakin dekat. Dengan Selat Hormuz, stabilitas pasokan energi global, dan masa depan program nuklir Iran ikut dibahas, hasil perundingan ini akan sangat menentukan arah politik Timur Tengah dalam waktu dekat.

Di tengah tekanan militer, pesan Trump kepada Netanyahu menegaskan bahwa Washington masih ingin memberi kesempatan pada diplomasi. Nasib hubungan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini bergantung pada apakah jalur perundingan mampu bertahan atau kembali runtuh akibat serangan lanjutan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru