Tujuh Jenis Tikus Ini Bisa Membawa Hantavirus, Ancaman Dekat Rumah Sering Terlewat

Ancaman hantavirus di sekitar rumah sering tidak terasa pada awalnya, padahal jalur paparan bisa muncul dari kebiasaan tikus hidup dekat manusia. Di Indonesia, virus ini paling sering dikaitkan dengan Seoul virus atau SEOV yang dibawa tikus rumah dan tikus got di lingkungan permukiman.

Yang membuat risikonya kerap terlewat adalah sumber paparan tidak hanya berada di dalam rumah. Kebun, sawah, perkebunan, sampai wilayah semi-liar yang masih beririsan dengan aktivitas manusia juga dapat menjadi tempat tikus pembawa virus hidup dan berinteraksi.

Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa beberapa jenis tikus di Indonesia dapat menjadi reservoir hantavirus. Artinya, hewan-hewan ini bisa membawa virus tanpa menunjukkan gejala yang jelas, sehingga keberadaannya sering tidak disadari.

Tikus rumah atau Rattus tanezumi termasuk yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Jenis ini kerap ditemukan di dalam rumah, gudang, dan permukiman padat penduduk.

Penelitian juga mengaitkan Rattus tanezumi dengan penularan hantavirus di wilayah perkotaan dan pedesaan. Risiko muncul ketika partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus terhirup manusia.

Tikus got dan tikus kebun sama-sama perlu diwaspadai

Selain tikus rumah, tikus got atau Rattus norvegicus juga masuk daftar penting. Hewan ini dikenal sebagai inang alami Seoul virus dan sering hidup di selokan, saluran air, tempat sampah, serta area kota yang lembap.

Populasi tikus got yang tinggi di wilayah perkotaan membuatnya menjadi sumber risiko yang perlu diperhatikan. Lingkungan yang kotor dan terbuka memudahkan kontak manusia dengan virus yang dibawanya.

Tikus kebun atau Rattus exulans juga termasuk tikus peridomestik yang hidup di sekitar lingkungan manusia. Hewan ini banyak ditemukan di kebun, lahan pertanian, dan pekarangan rumah.

Keberadaan tikus kebun di sekitar hunian ikut meningkatkan peluang paparan hantavirus. Jika kebun atau pekarangan dibiarkan terbuka dan tidak terkelola, tikus menjadi lebih mudah bersarang.

Tikus sawah hingga jenis lain di area semi-liar

Tikus sawah atau Rattus argentiventer juga menjadi perhatian. Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga pada 2017 melaporkannya sebagai reservoir hantavirus baru di Indonesia.

Jenis ini umum berada di area pertanian dan dekat dengan aktivitas petani. Lahan terbuka dan sisa tanaman dapat mendukung keberadaannya di lapangan.

Selain empat jenis itu, ada tiga tikus lain yang juga dilaporkan sebagai reservoir hantavirus di Indonesia. Ketiganya hidup di area yang masih beririsan dengan permukiman atau aktivitas manusia.

Rattus tiomanicus banyak ditemukan di perkebunan dan wilayah semi-liar yang berdekatan dengan permukiman. Situasi ini tetap membuka peluang kontak dengan manusia, terutama di batas antara kebun dan rumah.

Bandicota indica atau tikus besar sawah juga termasuk reservoir potensial hantavirus. Hewan ini umumnya hidup di lahan pertanian dan area terbuka yang sering digunakan manusia.

Sementara itu, Maxomys surifer dilaporkan sebagai reservoir hantavirus baru di Indonesia dalam penelitian yang sama. Tikus ini lebih sering ditemukan di semak atau hutan sekunder yang masih berdekatan dengan lingkungan manusia.

Jalur penularan yang sering tidak disadari

Penularan hantavirus tidak hanya terjadi lewat gigitan tikus. Jalur yang paling sering justru berasal dari partikel virus yang terhirup setelah urine, kotoran, atau air liur tikus mengering lalu bercampur dengan debu.

Kontak juga bisa terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung atau mulut. Risiko lain muncul saat makanan terpapar kotoran tikus, meski gigitan tikus tetap mungkin terjadi.

Karena itu, kewaspadaan perlu dijaga di rumah, gudang, saluran air, kebun, sawah, dan area sekitar permukiman. Kebersihan lingkungan dan pengendalian tikus menjadi kunci utama untuk menekan risiko paparan hantavirus di Indonesia.

Rumah, gudang, dan saluran air perlu dijaga agar tidak menjadi tempat bersarang. Akses masuk tikus ke rumah perlu ditutup, sementara makanan harus disimpan dalam wadah tertutup.

Gudang atau area lembap juga sebaiknya dibersihkan dengan masker dan sarung tangan. Kotoran tikus tidak boleh disapu dalam kondisi kering karena partikel virus dapat tersebar ke udara.

Sampah perlu dibuang rutin, dan saluran air beserta area sekitar rumah harus dibersihkan secara berkala. Langkah sederhana ini membantu mengurangi peluang tikus berkembang di sekitar tempat tinggal.

Source: www.suara.com

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait