Turki Peringatkan Lagi Bahaya Kudeta, Demokrasi Ternyata Tak Cukup Dijaga Lewat Pemilu

Turki kembali menegaskan bahwa demokrasi tidak bisa dianggap aman hanya karena pemilu berjalan. Peringatan 10 tahun percobaan kudeta 15 Juli 2016 dipakai untuk mengingatkan bahwa kekuatan politik harus tetap berada di jalur sah, bukan lewat kekerasan.

Duta Besar Turki untuk Indonesia, Talip Kucukcan, menyampaikan pesan itu dalam peringatan Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional 15 Juli di Jakarta, Rabu (15/7). Ia menekankan bahwa demokrasi hanya bertahan bila institusi negara kuat dan proses pemerintahan berjalan sah.

Institusi yang kuat jadi penyangga utama

Talip menilai demokrasi tidak cukup dipertahankan lewat prosedur elektoral semata. Menurut dia, perubahan politik tidak boleh ditempuh melalui kekerasan, apalagi dengan menyalahgunakan agama atau ideologi untuk kepentingan politik.

Pernyataan itu sekaligus menempatkan ancaman terhadap demokrasi lebih luas daripada sekadar kudeta. Dalam pandangan Pemerintah Turki, kerusakan juga bisa muncul ketika proses politik diganggu dari dalam dan institusi kehilangan daya jaga.

Pokok pesanIsi utama
DemokrasiHarus dijaga lewat institusi yang kuat
Perubahan politikWajib ditempuh melalui mekanisme sah
KekerasanTidak boleh menjadi jalan perubahan
Agama dan ideologiTidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan politik

Perlawanan rakyat pada 15 Juli 2016

Melalui sambungan video, Kepala Komunikasi Kepresidenan Turki Burhanettin Duran menyebut malam 15 Juli 2016 sebagai salah satu titik balik yang tak terlupakan dalam sejarah bangsa. Ia mengatakan perlawanan rakyat yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan menunjukkan bahwa kehendak rakyat tidak dapat ditaklukkan oleh kekuatan apa pun.

Duran menambahkan, malam itu menjadi momen ketika rakyat Turki mempertahankan kehendak rakyat, kemerdekaan, dan kedaulatan negara. Ia menilai keteguhan masyarakat bukan hanya menggagalkan upaya kudeta, tetapi juga mengamankan masa depan Turki serta perjalanan demokrasinya.

Peringatan tahunan tersebut juga memperlihatkan bagaimana narasi pertahanan demokrasi tetap menjadi bagian kuat dalam politik Turki. Bagi para pejabat yang berbicara dalam acara itu, 15 Juli 2016 dipahami sebagai hari ketika rakyat menunjukkan bahwa kekuasaan tidak boleh direbut di luar demokrasi.

Momentum 10 tahun percobaan kudeta itu menjadi pengingat bagi banyak negara bahwa stabilitas politik tidak lahir dari simbol semata. Turki menempatkannya sebagai pelajaran kolektif bahwa demokrasi hanya bertahan jika dijaga terus-menerus oleh negara dan masyarakat.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait