Uji Terbang Hidrogen Pertama Untuk Pesawat Kargo, Mesin 1 Megawatt Ini Mendarat Aman Setelah 16 Menit

Uji terbang pesawat kargo nirawak berbobot 7,5 ton dengan mesin turboprop berbasis hidrogen menjadi sorotan karena berhasil berlangsung stabil dari lepas landas hingga mendarat. Dalam penerbangan singkat itu, pesawat menempuh 36 km, berada di udara selama 16 menit, mencapai ketinggian 300 meter, dan melaju hingga 220 km/jam sebelum kembali ke titik awal dengan aman.

Keberhasilan tersebut datang dari mesin AEP100 yang dikembangkan Aero Engine Corporation of China (AECC). Mesin itu disebut bekerja stabil sepanjang penerbangan dan tampil sesuai dengan profil uji yang telah dirancang, sekaligus menjadi uji terbang sukses pertama untuk mesin turboprop hidrogen kelas megawatt.

Langkah awal yang menembus tahap laboratorium

Yang membuat uji ini penting bukan semata karena pesawatnya berhasil terbang, tetapi karena teknologi hidrogen akhirnya pindah dari ruang konsep ke penerbangan nyata. AECC menggambarkan demonstrasi ini sebagai momen ketika komponen inti dan sistem mesin sudah terintegrasi lalu diuji dalam kondisi terbang sesungguhnya.

Bagi industri aviasi, pencapaian seperti ini sering kali lebih bermakna daripada durasi terbangnya. Pesawat memang hanya berada di udara selama 16 menit, tetapi momen itu membuktikan bahwa mesin hidrogen dapat mengangkat pesawat, menjaga kestabilan, lalu membawa unit kembali mendarat dengan aman.

Jalur teknologi yang berbeda dari banyak pengembang Barat

Pendekatan yang dipakai dalam uji ini juga menarik perhatian karena tidak mengikuti jalur yang umum dibahas di Barat. AEP100 tidak menggunakan fuel cell untuk mengubah hidrogen menjadi listrik, melainkan membakar hidrogen cair langsung di dalam siklus turbin, mirip cara kerja mesin jet atau turboprop berbahan bakar kerosin.

Di sisi lain, Airbus dan sejumlah pengembang Barat lebih menonjolkan fuel cell hidrogen sebagai pilihan utama untuk pesawat hidrogen. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa arah pengembangan teknologi di China dan Barat tidak bergerak pada jalur yang sama, meski tujuan akhirnya serupa: penerbangan beremisi lebih rendah.

Kenapa hidrogen dianggap menjanjikan

Pembakaran hidrogen memiliki daya per unit bahan bakar yang tinggi, sehingga dinilai cocok untuk kebutuhan pesawat yang menuntut skalabilitas besar. Karakter ini menjadi penting ketika bobot dan volume bahan bakar mulai menentukan desain serta jangkauan operasional pesawat.

Namun, hidrogen juga membawa tantangan teknis yang tidak ringan. Hidrogen terbakar pada suhu lebih tinggi dibanding kerosin dan menyebarkan nyala api lebih cepat, sehingga mesin harus dirancang untuk menghindari autoignition, flashback, dan osilasi pembakaran.

Masalah lain ada pada penyimpanan bahan bakarnya. Hidrogen cair harus dijaga pada suhu kriogenik sekitar minus 253 derajat Celsius, sehingga sistem bahan bakar, tangki, manajemen termal, dan kontrol mesin semuanya harus bekerja selaras dalam kondisi yang sangat sensitif.

Uji singkat, tetapi belum akhir perjalanan

Durasi pengujian yang terbatas memang cukup untuk menunjukkan bahwa pesawat bisa mengudara dan kembali mendarat dengan selamat. Meski begitu, uji ini belum menjawab seluruh kebutuhan teknis yang dibutuhkan sebelum teknologi semacam ini dipakai secara luas dalam operasi penerbangan.

AECC menyebut pengujian lanjutan masih diperlukan untuk menilai daya tahan, perawatan, konsumsi bahan bakar sepanjang siklus hidup, dan keandalan operasional. Karena itu, hasil di Zhuzhou lebih tepat dibaca sebagai pembuktian awal yang penting, bukan sebagai tahap akhir pengembangan.

Tekanan emisi mendorong pencarian solusi baru

Dorongan menuju teknologi seperti ini juga tidak lepas dari tekanan emisi yang dihadapi industri penerbangan. Sumber menyebut penerbangan menyumbang sekitar 2% emisi karbon global, dan jika terus bergantung pada bahan bakar fosil, porsi itu diperkirakan bisa melampaui 10% dari total emisi global pada 2050.

Dalam konteks tersebut, hidrogen semakin dilihat sebagai bagian dari solusi iklim sekaligus strategi ketahanan energi. Hidrogen tidak menghasilkan karbon dioksida saat dibakar, sehingga banyak negara menilainya sebagai opsi untuk menekan emisi dan mengurangi ketergantungan pada pasokan fosil impor.

Arah pemakaian awal masih terbatas

Pada tahap awal, penggunaan hidrogen untuk penerbangan diperkirakan lebih cocok untuk sektor ekonomi ketinggian rendah. Area ini mencakup pesawat kargo nirawak, logistik pulau, dan rute angkut barang yang lebih terkontrol karena kebutuhan infrastruktur pengisian dan dukungan teknis relatif lebih mudah diatur.

Roadmap yang disebut dalam sumber juga disusun bertahap. Pada 2028, teknologi kunci ditargetkan sudah tervalidasi untuk uji terbang pesawat nirawak kecil, helikopter kecil, kendaraan mobilitas udara perkotaan, serta pesawat regional jarak pendek, lalu berkembang ke aplikasi regional yang lebih besar pada 2035 dan pesawat berbadan utama pada 2050.

Meski tantangan seperti pengendalian aliran hidrogen, penyimpanan kriogenik, manajemen panas, dan penyesuaian airframe masih harus diatasi, uji terbang di Zhuzhou menunjukkan bahwa mesin hidrogen berdaya 1 megawatt sudah mampu bekerja stabil di udara. Dari sini, penerbangan hidrogen tampak semakin nyata sebagai arah baru yang masih memerlukan pengujian panjang sebelum siap dipakai lebih luas.

Berita Terkait