Ketahanan siber dan kecerdasan buatan kini tidak lagi hanya dipandang sebagai pelengkap dalam ekonomi digital Indonesia. Keduanya mulai diposisikan sebagai fondasi agar pertumbuhan digital tetap aman, inklusif, dan memberi manfaat yang lebih luas, terutama bagi UMKM.
Perubahan arah ini muncul di tengah ekosistem digital yang terus membesar, tetapi masih menyimpan celah besar pada pembiayaan, perlindungan data, dan kesiapan teknologi. Karena itu, teknologi tidak cukup hanya mendorong transaksi, melainkan juga harus membantu usaha kecil masuk ke sistem yang lebih sehat dan lebih mudah diakses.
Di tengah pembahasan itu, UMKM menjadi kelompok yang paling menentukan. Ada sekitar 65 juta UMKM di Indonesia yang menyumbang 60,5% terhadap PDB dan menyerap 96,5% tenaga kerja nasional, tetapi banyak di antaranya masih tertinggal dalam akses pembiayaan dan adopsi teknologi yang sesuai kebutuhan usaha.
MDI Ventures menilai pertumbuhan ekonomi digital akan sulit bertahan jika hanya bertumpu pada naiknya penggunaan layanan digital. Ekosistem yang dibutuhkan UMKM harus mencakup modal, perlindungan digital, dan solusi teknologi yang bisa dipakai secara praktis dalam kegiatan usaha sehari-hari.
AI mulai masuk ke pembiayaan UMKM
Salah satu peran AI yang paling menonjol ada pada pembiayaan. Pada 2023, hanya sekitar 2,2% pelaku usaha mikro dan kecil yang tercatat mengakses pinjaman bank formal, sehingga masih ada kesenjangan besar antara kebutuhan modal dan jangkauan sistem kredit konvensional.
Untuk menjawab masalah itu, white paper MDI Ventures menyoroti credit scoring berbasis data alternatif. Pendekatan ini dinilai dapat membantu lembaga keuangan membaca kelayakan usaha secara lebih luas, termasuk melalui Ascore.ai milik Amartha.
Direktur MDI Ventures, Roby Roediyanto, menekankan bahwa teknologi perlu dilihat sebagai instrumen yang menghasilkan nilai ekonomi sekaligus dampak sosial dan lingkungan yang terukur. Ia menyebut portofolio perusahaan di bidang AI, keamanan siber, dan infrastruktur digital dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
Dalam konteks ini, AI tidak berhenti pada otomasi atau efisiensi. Teknologi tersebut mulai memainkan fungsi yang lebih strategis, yaitu membuka pintu pembiayaan bagi pelaku usaha yang selama ini sulit dijangkau sistem kredit formal.
Keamanan digital ikut naik kelas
Di saat adopsi digital meluas, risiko serangan siber juga meningkat. White paper MDI Ventures mencatat ada 56,1 juta data terekspos dan 5.780 insiden defacement sepanjang 2024, yang menunjukkan bahwa ketahanan siber sudah menjadi syarat utama bagi ekonomi digital.
Keamanan data dan sistem kini berkaitan langsung dengan kepercayaan publik dan dunia usaha. Tanpa perlindungan yang kuat, pertumbuhan digital berisiko rapuh karena ancaman teknis bisa mengganggu aktivitas ekonomi yang makin bergantung pada sistem daring.
Melalui portofolio keamanan siber berbasis AI asal Singapura, CYFIRMA, MDI Ventures mendukung pengembangan threat intelligence dan early warning system untuk enterprise serta institusi strategis. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem digital nasional dari risiko serangan yang terus berkembang.
Investasi berdampak ikut jadi strategi
MDI Ventures juga menempatkan impact capital sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Secara global, nilai impact investing disebut telah mencapai US$1,571 triliun aset kelolaan dengan pertumbuhan rata-rata 21% per tahun sejak 2019.
Di Indonesia, kebutuhan pembiayaan untuk menutup kesenjangan SDGs hingga 2030 diperkirakan masih sekitar US$1,7 triliun. Kondisi itu membuat corporate venture capital dinilai punya peran strategis untuk menghubungkan modal dengan sektor-sektor yang memberi dampak tinggi.
Karena itu, MDI Ventures menekankan bahwa investasi tidak cukup hanya mengejar keuntungan finansial. Modal juga perlu mengalir ke solusi yang memperkuat inklusi ekonomi, memperluas akses, dan mendukung pembangunan jangka panjang.
Fondasi inklusi digital mulai terbentuk
Sejumlah portofolio MDI Ventures dipakai sebagai contoh bagaimana fondasi ekonomi digital inklusif mulai dibangun. Amartha disebut telah menyalurkan lebih dari Rp28 triliun kepada 2,8 juta UMKM, Qoala mencatat 445 juta polis mikroasuransi, dan Privy telah melayani lebih dari 57 juta pengguna terverifikasi.
Dari capaian itu, MDI Ventures melihat ada empat fondasi utama untuk ekonomi digital inklusif. Fondasi tersebut mencakup infrastruktur kredit berbasis data alternatif, perlindungan finansial tertanam, identitas digital dan kepercayaan, serta enterprise tooling berbasis AI yang terhubung dengan jaringan distribusi Telkom Group dan ekosistem BUMN.
VP Strategy & Sustainability MDI Ventures, Alvin Evander, mengatakan perusahaan menerapkan pendekatan dual-lens dalam setiap investasi. Kerangka itu menilai kelayakan bisnis sekaligus besarnya dampak terhadap tujuan Sustainable Development Goals.
Arah investasi ke depan pun masih mengerucut pada AI, keamanan siber, dan blockchain. Tiga sektor itu dipandang sebagai penopang agar digitalisasi Indonesia tidak hanya tumbuh besar, tetapi juga lebih aman, inklusif, dan tahan menghadapi risiko baru.
