Universitas Andalas menilai pembaruan kurikulum teknologi pertanian sudah tidak bisa ditunda lagi. Di tengah perubahan cepat akibat digitalisasi, kecerdasan buatan, dan pergeseran kebutuhan industri, perguruan tinggi didorong melahirkan lulusan yang bukan hanya kuat di teori, tetapi juga siap bekerja di lapangan.
Rektor Unand, Efa Yonnedi, menegaskan bahwa kurikulum saat ini harus mampu menjawab tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks. Ia menyebut lulusan perlu dibekali kemampuan adaptif, inovatif, multidisiplin, berpikir kritis, kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat maupun industri.
Forum Nasional Jadi Ajang Penyelarasan
Pesan itu mengemuka dalam Seminar Nasional dan Rapat Kerja Tengah Tahun Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Indonesia (FKPT-TPI) Tahun 2026 yang digelar di Convention Hall Kampus Limau Manis, Padang, Rabu, 8 Juli 3026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Unand dan menghadirkan pimpinan fakultas, akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan pendidikan tinggi teknologi pertanian dari berbagai kampus di Indonesia.
Menurut Efa, forum seperti ini penting untuk menghasilkan rekomendasi yang bisa diterapkan oleh seluruh anggota FKPT-TPI. Ia juga berharap forum tersebut memperkuat kolaborasi antarpuruan tinggi dalam pengembangan pendidikan teknologi pertanian di Indonesia.
Akreditasi dan Kebutuhan Dunia Kerja Sama-Sama Dikejar
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Unand, Prof. Alfi Asben, menilai seminar nasional dan rapat kerja tengah tahun menjadi momentum strategis untuk menyamakan langkah antarpenyelenggara pendidikan teknologi pertanian. Ia menekankan bahwa pembahasan kurikulum dan akreditasi menjadi penting karena ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja terus berubah.
Melalui forum ini, Unand berharap lahir penguatan kurikulum yang mampu memenuhi kriteria akreditasi sekaligus menjawab kebutuhan dunia kerja. RRI.co.id melaporkan, isu itu dibahas bersama para narasumber agar setiap perguruan tinggi mendapat rekomendasi yang aplikatif.
Kolaborasi Kampus Diperluas Lewat Program Nyata
Ketua FKPT-TPI, Yusuf Hendrawan, menambahkan bahwa seminar nasional menjadi wadah berbagi pengetahuan, memperluas wawasan peserta, sekaligus mendorong inovasi mahasiswa. Ia juga menekankan pentingnya pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi antarkampus.
Rapat kerja tengah tahun diarahkan pada penguatan kerja sama nyata, pencapaian Indikator Kinerja Utama atau IKU, serta pengembangan program seperti double degree, summer course, dan visiting lecturer. Sejumlah agenda itu diposisikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan teknologi pertanian di Indonesia.
Rangkaian Kegiatan Tidak Berhenti di Diskusi
Selain seminar dan rapat kerja, rangkaian kegiatan juga mencakup final Lomba Inovasi Teknologi Pertanian yang diikuti 92 peserta. Ada pula pengabdian kepada masyarakat internasional di Kecamatan Tilatang Kamang yang disinergikan dengan Program Equity LPDP.
Panitia juga mencatat Seminar Nasional FKPT-TPI 2026 diikuti sekitar 115 peserta. Dalam tabel rangkaian kegiatan, forum ini menunjukkan bahwa pembaruan kurikulum tidak hanya dibahas sebagai wacana, tetapi juga dihubungkan dengan inovasi mahasiswa, akreditasi, dan kerja sama lintas kampus.
| Kegiatan | Peserta | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Seminar Nasional FKPT-TPI 2026 | Sekitar 115 peserta | Penguatan kurikulum dan akreditasi teknologi pertanian |
| Final Lomba Inovasi Teknologi Pertanian | 92 peserta | Inovasi mahasiswa dan ide teknologi pertanian |
| Pengabdian kepada masyarakat internasional di Tilatang Kamang | Tidak disebutkan | Disinergikan dengan Program Equity LPDP |
Melalui rangkaian tersebut, Unand dan FKPT-TPI berupaya menjawab tantangan pendidikan teknologi pertanian yang berubah cepat. Arah utamanya tetap sama, yaitu kurikulum yang lebih relevan, akreditasi yang kuat, dan lulusan yang lebih siap masuk ke dunia kerja.
