Bagi banyak jamaah, yang paling sering ditanyakan menjelang Idul Adha bukan hanya kapan takbir dikumandangkan, tetapi juga apa bacaan yang menyertainya di dalam shalat. Pertanyaan itu wajar, karena takbir pada rakaat pertama dan kedua memang berbeda jumlah, tetapi inti bacaannya tetap sama, yaitu pengagungan kepada Allah.
Di shalat Idul Adha, takbir tambahan dibaca tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua sebelum Al-Fatihah. Setelah rangkaian takbir itu selesai, shalat dilanjutkan seperti biasa dengan ta’awudz, Al-Fatihah, lalu surat pilihan sesuai kebiasaan shalat Id.
Lafaz takbir yang umum dibaca adalah “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.” Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi-Nya.”
Urutan takbir di rakaat pertama
Pada rakaat pertama, takbir tambahan dilakukan setelah takbiratul ihram dan doa iftitah. Setiap kali takbir, jamaah mengangkat kedua tangan sejajar telinga lalu menurunkannya kembali, kecuali pada takbir terakhir sebelum membaca Al-Fatihah.
Setelah tujuh kali takbir selesai, imam dan makmum tidak berhenti di situ. Mereka langsung melanjutkan shalat dengan ta’awudz, Al-Fatihah, dan surat lainnya sebagaimana pelaksanaan shalat Id pada umumnya.
Rakaat kedua tetap punya pola sendiri
Pola serupa juga terlihat pada rakaat kedua, meski jumlah takbir tambahannya lebih sedikit. Pada rakaat ini, takbir tambahan dibaca lima kali sebelum Al-Fatihah, lalu shalat diteruskan seperti biasa.
Perbedaan jumlah takbir antara rakaat pertama dan kedua sering membuat jamaah bingung. Namun susunannya sebenarnya sederhana, karena semua takbir tambahan itu berada sebelum pembacaan Al-Fatihah di masing-masing rakaat.
Amalan yang sangat dianjurkan
Takbir tambahan dalam shalat Idul Adha berstatus sunnah muakkad atau sangat dianjurkan menurut mayoritas ulama. Amalan ini juga dikenal sebagai praktik yang dijalankan Rasulullah dan para sahabat, sehingga menjadi bagian yang melekat dalam shalat Id.
Karena itu, takbir tambahan tidak sekadar menjadi pembuka shalat. Ia juga menegaskan suasana ibadah yang khas pada hari raya kurban dan membedakan pelaksanaan shalat Idul Adha dari shalat pada umumnya.
Takbir tidak berhenti di dalam masjid
Gema takbir juga tidak hanya hadir saat shalat berlangsung. Umat Islam disunnahkan memperbanyak takbir sejak malam Idul Adha hingga akhir hari tasyrik sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Takbir dapat dikumandangkan di masjid, rumah, jalan, maupun saat bepergian. Bagi laki-laki, takbir dapat dilakukan secara jahar atau dengan suara keras, tetapi adab tetap perlu dijaga agar tidak mengganggu ketertiban umum.
Makna yang ikut dibawa dalam setiap lafaznya
Takbir Idul Adha memuat pengagungan, tauhid, dan pujian kepada Allah. Makna itu sejalan dengan nilai ketaatan yang menjadi inti perayaan Idul Adha, yang juga dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim AS dalam menunjukkan kepatuhan penuh kepada perintah Allah.
Dari sana, takbir dipahami sebagai simbol kerendahan hati dan kesadaran bahwa segala kebesaran hanya milik Allah. Nilai ini tidak berhenti pada ucapan, tetapi juga tercermin dalam ibadah kurban, pembagian daging kepada yang membutuhkan, dan dorongan untuk meningkatkan ketakwaan.
Di Indonesia, tradisi takbir keliling sering ikut mewarnai malam Idul Adha, dengan partisipasi anak-anak, remaja, hingga orang tua. Selama ketertiban dijaga, gema takbir menjadi salah satu ciri paling kuat dari suasana hari raya kurban.
