BlackRock menilai kekhawatiran atas defisit anggaran dan utang Amerika Serikat dapat menjadi pemicu besar bagi kenaikan Bitcoin berikutnya. Robert Mitchnick, Managing Director BlackRock, mengatakan situasi fiskal Washington berpotensi mengembalikan perhatian pasar ke aset digital tersebut.
Menurut Mitchnick, perdebatan soal belanja pemerintah, pinjaman, dan keberlanjutan fiskal akan semakin menguat. Dalam pandangan dia, kondisi itu justru bisa menguntungkan Bitcoin karena aset ini kerap dipandang sebagai pelindung dari kebijakan moneter yang inflasioner dan belanja negara yang berlebihan.
Fokus pasar bisa kembali ke masalah fiskal Washington
Mitchnick menilai posisi fiskal Amerika Serikat yang memburuk adalah faktor paling penting yang dapat menghidupkan kembali momentum Bitcoin. Ia menyebut perhatian investor dapat bergeser ketika level utang AS dan defisit kembali menjadi pusat pembahasan.
Ia juga menilai debat publik di Washington tentang pengeluaran pemerintah dan tanggung jawab fiskal bisa memicu minat baru. Situasi itu menjadi semakin relevan karena investor disebut mulai memperhatikan pemilu paruh waktu AS 2026 sebagai titik yang dapat memunculkan kembali diskusi soal keberlanjutan fiskal dan beban utang publik.
Bitcoin tetap dipandang sebagai lindung nilai
Bagi pendukung Bitcoin, narasi tersebut memperkuat daya tarik aset ini sebagai sistem moneter alternatif dengan pasokan tetap 21 juta koin. Pemerintah tidak bisa mencetak atau menambah suplai Bitcoin, sehingga aset ini sering dianggap sebagai perlindungan dari penciptaan uang yang berlebihan.
Mitchnick menegaskan bahwa suku bunga Federal Reserve tetap penting bagi pasar. Namun, ia menilai kondisi fiskal Amerika Serikat dapat memiliki dampak yang lebih besar terhadap kinerja Bitcoin dalam jangka panjang.
Ia juga menyoroti bahwa rasa takut terhadap pinjaman yang terlalu besar dan risiko pencetakan uang tetap menjadi inti tesis investasi Bitcoin. Semakin besar kekhawatiran itu, menurut dia, semakin kuat pula alasan fundamental yang dapat mendorong aset kripto terbesar tersebut.
Minat investor dialihkan ke kecerdasan buatan
Mitchnick menjelaskan bahwa performa Bitcoin yang melemah belakangan ini sebagian dipengaruhi oleh fokus investor pada peluang berbasis kecerdasan buatan. Arus modal disebut semakin banyak masuk ke perusahaan dan proyek AI, sehingga perhatian menjauh dari aset alternatif seperti kripto dan logam mulia.
Tren itu terlihat di pasar publik maupun swasta, dengan investasi AI berprofil tinggi dan penawaran teknologi yang menarik miliaran dolar modal baru. Dalam kondisi tersebut, emas dan lindung nilai tradisional lain juga ikut merasakan tekanan.
Mitchnick menggambarkan AI sebagai sesuatu yang “menyedot banyak oksigen dari ruangan”. Ia menilai antusiasme terhadap teknologi itu sementara ini mengurangi minat pada aset yang biasa digunakan sebagai penyimpan nilai atau pelindung terhadap ketidakpastian makroekonomi.
Prospek Bitcoin masih terbuka
Meski Bitcoin sedang mengalami masa yang sulit, Mitchnick percaya faktor-faktor yang selama ini menopang daya tarik investasi aset itu belum hilang. Ia memperkirakan tema-tema tersebut bisa kembali dominan dalam satu tahun ke depan.
Saat ini Bitcoin diperdagangkan di kisaran $64.500. Di level itu, pasar masih menimbang apakah perdebatan soal utang, defisit, dan kebijakan moneter akan kembali mengangkat minat terhadap aset kripto terbesar tersebut.







