Riot Games mulai memberi pemain kendali lebih besar atas Vanguard, sistem anti-cheat yang dipakai di Valorant dan League of Legends. Melalui mode on-demand, Vanguard tidak lagi harus aktif otomatis saat komputer dinyalakan dan dapat dimatikan setelah game ditutup.
Perubahan ini menjadi langkah yang cukup signifikan bagi pengguna Windows yang selama ini keberatan karena Vanguard terus berjalan di latar belakang. Namun, kelonggaran tersebut tidak mengubah cara kerja dasarnya sebagai anti-cheat level kernel, yang tetap menempatkannya pada tingkat akses tertinggi di Windows.
Akses tinggi yang tetap dipertahankan
Secara teknis, Vanguard masih bekerja sangat dekat dengan inti sistem operasi. Posisi itu memang dibutuhkan Riot untuk mendeteksi cheat yang lebih canggih dan berjalan di luar game.
Di sisi lain, model kerja seperti ini juga membuat Vanguard sejak lama diperdebatkan karena berkaitan dengan privasi, stabilitas, dan batas kewenangan perangkat lunak anti-cheat di PC pemain. Mode on-demand hanya mengubah waktu aktifnya, bukan kedalaman aksesnya.
Dalam praktiknya, ini berarti pemain tidak harus membiarkan Vanguard hidup sepanjang waktu setelah perangkat masuk ke Windows. Setelah sesi bermain Valorant atau League of Legends selesai, anti-cheat bisa dihentikan sehingga jejak proses latar belakang berkurang.
Tetap ada syarat perangkat keras
Fitur baru ini juga tidak tersedia bebas untuk semua perangkat. Riot mensyaratkan PC lolos Vanguard Pre-Check dengan standar keamanan perangkat keras modern seperti TPM 2.0 dan Secure Boot.
Jika perlindungan itu belum aktif, pengguna mungkin perlu mengubah pengaturan di BIOS motherboard. Dengan demikian, kenyamanan baru ini tetap datang bersama syarat teknis yang tidak selalu mudah bagi semua pemain.
Bagi sebagian pengguna, perubahan ini terasa sebagai kompromi yang masuk akal. Riot mempertahankan arsitektur keamanan yang sama, tetapi memberi fleksibilitas lebih besar pada kapan drivernya berjalan.
Batas platform masih belum bergeser
Pelonggaran ini juga tidak mengubah batas dukungan platform yang selama ini melekat pada Vanguard. Valorant tetap tidak mendukung Linux karena kebutuhan anti-cheat tersebut.
League of Legends pun belum benar-benar terbebas dari pembatasan itu. Game tersebut memang bisa dijalankan di Linux lewat alat buatan komunitas, tetapi Vanguard tetap memblokir jalur tersebut.
Karena itu, mode on-demand lebih terasa sebagai perbaikan kenyamanan bagi pengguna Windows daripada perubahan besar pada kebijakan platform. Bagi pemain yang menolak akses level kernel sejak awal, keberatan utamanya tetap belum tersentuh.
Langkah Riot menunjukkan upaya merespons kritik tanpa meninggalkan pendekatan keamanan yang mereka anggap penting. Perusahaan memberi kontrol lebih besar atas waktu operasional Vanguard, tetapi syarat keamanan perangkat keras dan sifat kernel-level-nya tetap dipertahankan.
Pada akhirnya, Vanguard memang tidak lagi harus terus aktif setelah komputer menyala. Namun selama ia masih bergantung pada akses kernel-level dan standar seperti TPM 2.0 serta Secure Boot, perdebatan soal sejauh mana anti-cheat boleh masuk ke sistem pemain tampaknya masih akan berlanjut.
