Podium Moto3 Itu Akhirnya Datang, Veda Ega Pratama Tulis Sejarah Baru Indonesia

Author: Redaksi Android62

Veda Ega Pratama mencatat sejarah baru untuk Indonesia setelah finis ketiga di Grand Prix Brasil dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di Kejuaraan Dunia Moto3. Pencapaian itu lahir ketika usianya baru 17 tahun, dalam musim yang langsung menempatkannya sebagai salah satu nama paling diperhatikan di kelas ringan Grand Prix.

Di Moto3 2026, pembalap asal Wonosari, Gunungkidul, itu membela Honda Team Asia dengan nomor balap #9. Setelah dua putaran, ia menempati peringkat ketiga klasemen Kejuaraan Dunia Moto3 2026 dengan 27 poin, lalu kembali berada di posisi ketiga usai Ronde 7 di Mugello.

Podium yang lahir dari comeback cepat di Brasil

Hasil di Brasil tidak datang dengan mudah. Veda start dari posisi keempat di grid, sempat turun hingga urutan ketujuh setelah restart, lalu bangkit pada empat lap terakhir untuk mengamankan podium ketiga di lap terakhir.

Balapan itu juga berlangsung setelah bendera merah dikibarkan akibat kecelakaan yang melibatkan pembalap lain. Dalam situasi balapan yang berubah-ubah, Veda tetap mampu menjaga ritme dan menyalip secara efektif pada fase penentu.

Debut Moto3 yang langsung meninggalkan jejak

Perjalanan Veda di Moto3 sudah menarik perhatian sejak awal. Pada debutnya di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, ia langsung lolos ke Q2 dan memulai balapan dari posisi kelima.

Dalam balapan pertamanya, ia sempat bertarung di kelompok podium selama 19 lap dan finis kelima. Hasil itu saat itu menjadi pencapaian terbaik pembalap Indonesia di kelas Moto3.

Respons dari paddock pun cepat mengalir. Carlo Merlini dari Gresini Racing menyebut Veda sebagai “talenta Asia terkuat saat ini”, sementara Alex Marquez juga ikut menyoroti kemampuan pembalap muda Indonesia tersebut.

Jejak panjang dari Gunungkidul ke panggung dunia

Veda lahir di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 23 November 2008. Daerah asalnya bukan wilayah yang lekat dengan nama besar motorsport dunia, tetapi perjalanan kariernya justru bergerak ke arah yang berlawanan.

Ia mulai mengendarai minibike pada usia 5 tahun dan turun balapan pada usia 6 tahun. Pada 2019, saat berusia 10 tahun, ia sudah meraih gelar Kejuaraan Nasional Balap Underbone.

Dukungan penting datang dari ayahnya, Sudarmono, mantan pembalap yang pernah berkompetisi di Kejuaraan Nasional Supersport 600. Di sisi lain, Veda juga mengidolakan Casey Stoner dan menyebut legenda MotoGP asal Australia itu sebagai pembalap favorit sepanjang masa.

Langkah cepat di jalur junior internasional

Jalur internasional Veda mulai terbuka saat mendapat wildcard di Asia Talent Cup 2021 di Mandalika pada usia 12 tahun. Ajang itu menjadi pengalaman balap internasional pertamanya dan membuka pintu menuju level yang lebih tinggi.

Pada musim penuh pertamanya di 2022, ia finis ketiga dan menunjukkan kemajuan yang pesat. Setahun kemudian, ia tampil dominan dengan memenangi 9 dari 12 balapan untuk menjadi pembalap Indonesia pertama yang merebut gelar Asia Talent Cup, sebelum promosi ke Red Bull MotoGP Rookies Cup.

Di Rookies Cup, Veda kembali membuktikan diri. Musim debutnya pada 2024 ditutup di peringkat kedelapan klasemen akhir, lalu pada 2025 ia naik kelas menjadi pemenang balapan setelah meraih kemenangan perdana di Mugello, Italia, disusul dua kemenangan lain di sirkuit yang sama dan di Sachsenring, Jerman.

Kemenangan di Mugello punya makna khusus karena Veda tercatat sebagai pembalap Indonesia pertama yang menang di Red Bull MotoGP Rookies Cup. Ia menutup musim 2025 sebagai runner-up dengan 181 poin, enam podium, dan tujuh kali finis empat besar.

Di tahun yang sama, ia juga tampil di JuniorGP World Championship dan finis peringkat ke-10 klasemen akhir. Pada akhir 2025, kehadirannya di FIM MotoGP Awards di Valencia menjadi bentuk pengakuan atas pencapaiannya di Rookies Cup.

Karakter balap yang membuatnya cepat menonjol

Keunggulan Veda terlihat dari cara ia mengelola balapan. Ia stabil saat pengereman keras, agresif ketika menyalip, cepat beradaptasi di sirkuit baru, dan cukup kuat secara mental dalam tekanan lomba.

Di luar lintasan, ia mempelajari trek baru lewat video game MotoGP dan menonton rekaman balapan. Ia juga gemar memancing dan bersepeda untuk menjaga kebugaran.

Motegi menjadi sirkuit favoritnya karena dinilai menantang dan teknis, sedangkan mata pelajaran favoritnya di sekolah adalah olahraga. Sejak awal 2026, ia juga tercatat sebagai atlet resmi Red Bull, membuatnya menjadi pembalap Indonesia pertama dan satu-satunya pembalap Grand Prix Asia yang memiliki kontrak penuh dengan Red Bull pada 2026.

Harapan baru di tengah basis penggemar yang besar

Indonesia memiliki basis penggemar motor yang sangat besar dan pasar sepeda motor yang penting di dunia. Kehadiran Pertamina Mandalika Circuit di Lombok ikut memperkuat ruang tumbuh bagi pembalap nasional.

Nama-nama seperti Mario Suryo Aji, Doni Tata Pradita, dan Afridza Munandar sudah lebih dulu mengisi jejak Indonesia di Grand Prix. Namun, posisi Veda terasa berbeda karena ia menembus grid Moto3 lewat prestasi dan langsung naik podium hanya dalam balapan keduanya.

Bagi publik Indonesia, hasil di Brasil menjadi penanda baru bahwa talenta muda dari daerah bisa bersaing di level tertinggi. Dengan konsistensi yang terus terjaga, perhatian kini tertuju pada langkah berikutnya saat musim Moto3 2026 berjalan menuju seri-seri berikutnya.

Source: www.motogp.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru