Victor Lai Taklukkan Istora, Jonatan Christie Gagal Akhiri Penantian Gelar Indonesia Open

Victor Lai mencetak sejarah di Istora setelah menumbangkan Jonatan Christie pada final Polytron Indonesia Open 2026. Wakil Kanada itu keluar sebagai juara usai menang dua gim langsung, 21-19 dan 21-8, dalam laga yang berlangsung di hadapan dukungan besar untuk pemain Indonesia.

Bagi Jonatan, hasil ini kembali menunda ambisi yang sudah lama ia kejar di turnamen tersebut. Untuk pertama kalinya, tunggal putra Indonesia itu berhasil mencapai final Indonesia Open, tetapi langkah paling jauh itu belum berujung gelar.

Jonatan mengakui pertandingan final memang terasa berbeda sejak awal. Ia menyebut tekanan sudah terasa sebelum reli-reli panjang terbentuk, dan ketegangan itu membuatnya sulit bermain lepas di lapangan.

“Memang saya merasa ada tekanan sejak awal bermain, ketegangannya juga cukup besar. Saya rasa saya tidak bisa mengatasi hal tersebut di dalam lapangan tadi, itu saja,” ujar Jonatan.

Ia juga menegaskan kartu kuning yang diterimanya tidak menjadi faktor utama dalam penampilannya. Menurut dia, masalah terbesar justru datang dari tekanan permainan yang tidak berhasil ia kendalikan, terutama saat momentum mulai bergeser ke pihak lawan.

Final yang berat bagi dua pemain

Pada gim pertama, Jonatan masih mampu memberi perlawanan ketat. Namun, situasi berubah pada gim kedua ketika Victor Lai tampil lebih cepat dan lebih konsisten menekan dari awal hingga akhir.

Lai sendiri mengakui kemenangan itu tidak datang dengan mudah. Ia menilai tantangan terbesar dalam laga tersebut justru datang dari suasana Istora yang sangat bising dan penuh dukungan untuk wakil tuan rumah.

“Saya rasa hal tersulit hari ini adalah mengatasi tekanan dari penonton. Sangat bising dan setiap kali Jonatan memenangkan poin, rasanya saya bahkan tidak bisa mendengar suara saya sendiri karena sangat, sangat bising,” kata Lai.

Menurut Lai, kunci kemenangannya adalah menjaga fokus di tengah tekanan atmosfer pertandingan. Ia juga menilai Jonatan tetap membawa beban besar karena berstatus favorit tuan rumah, sehingga final menuntut ketenangan penuh dari kedua pihak.

Langkah baru, belum berakhir manis

Setelah pertandingan, Jonatan menyampaikan terima kasih kepada para pendukung yang terus memberi semangat. Ia juga meminta maaf karena belum bisa menghadirkan hasil terbaik berupa medali emas.

“Terima kasih untuk yang sudah mendukung saya. Maaf saya belum bisa memberikan hasil yang paling maksimal, yaitu medali emas. Tetapi, ini yang bisa saya lakukan, ini yang bisa saya buat,” ucap Jonatan.

Meski kecewa, pencapaian menembus final tetap menjadi catatan penting dalam kariernya di Indonesia Open. Sebelumnya, Jonatan paling jauh hanya mencapai semifinal pada 2021, sehingga final kali ini tetap menjadi langkah baru meski hasil akhirnya belum sesuai harapan.

Fokus bergeser ke pemulihan

Jonatan belum ingin langsung memikirkan target berikutnya secara penuh. Ia mengatakan akan menenangkan pikiran terlebih dahulu dan menjauh sejenak dari bulu tangkis agar tubuh dan kepalanya kembali segar setelah rangkaian pertandingan yang padat.

“Memang masih ada Kejuaraan Dunia dan Asian Games, tetapi mungkin fokus saya saat ini adalah menenangkan pikiran terlebih dahulu, menjauh sejenak dari bulu tangkis supaya lebih tenang,” kata Jonatan.

Di sisi lain, kemenangan ini membuka halaman baru untuk Victor Lai. Ia menjadi tunggal putra Kanada pertama yang menembus final sekaligus meraih gelar juara di Indonesia Open, sebuah pencapaian yang juga menambah catatan sejarah turnamen di Istora.

Lai mengaku punya kedekatan khusus dengan Indonesia karena banyak pelatih di klubnya berasal dari Tanah Air. Pengalaman itu, menurut dia, membantu memahami karakter permainan yang ia hadapi dalam laga final yang penuh tekanan tersebut.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait