vivo X Fold 6 tampil dengan langkah yang jarang terjadi di lini ponsel lipat premium vivo. Untuk pertama kalinya, perusahaan itu meninggalkan Qualcomm dan memakai MediaTek Dimensity 9500 Super Edition sebagai dapur pacu utama.
Keputusan tersebut langsung memberi sinyal bahwa vivo ingin mengubah prioritas pengembangan perangkat lipatnya. Alih-alih hanya mengejar penyegaran tahunan, perusahaan tampak mengalihkan ruang anggaran ke sektor yang lebih terasa bagi pengguna.
Prioritas bergeser ke engsel, kaca, dan kamera
Menurut Han Boxiao, manajer produk vivo, biaya lisensi dan komponen Qualcomm yang tinggi ikut mendorong perubahan strategi itu. Anggaran yang sebelumnya terserap di chipset kini dapat dialihkan ke mekanisme engsel ultra-tahan lama, kaca pelindung layar lipat generasi baru, dan sistem kamera premium dengan dukungan penuh Zeiss.
Arah tersebut menunjukkan bahwa vivo ingin memperkuat pengalaman pakai secara menyeluruh. Pada perangkat lipat, ketahanan mekanis, kualitas layar, dan efisiensi daya sering kali sama pentingnya dengan performa mentah.
Mesin baru dengan fokus efisiensi AI
vivo menyebut Dimensity 9500 Super Edition varian eksklusif ini menawarkan peningkatan performa NPU hingga 111 persen. Konsumsi daya AI-nya juga diklaim turun 56 persen dibanding versi standar.
Bagi perangkat lipat yang kerap dipakai untuk multitasking intensif, kombinasi performa dan efisiensi seperti ini menjadi nilai penting. Langkah vivo sekaligus menegaskan kepercayaannya pada ekosistem MediaTek di kelas premium.
Kamera 200MP menjadi titik paling menonjol
Sektor kamera menjadi salah satu alasan utama X Fold 6 menarik perhatian. Vivo membekalinya dengan sensor Samsung 200MP HPB berukuran 1/1,4 inci dan bukaan f/1.68.
Sensor tersebut mendukung penggabungan piksel 16-in-1 untuk menghasilkan foto 12,5MP dengan pencahayaan lebih baik di kondisi minim cahaya. Di sisi telefoto, perangkat ini memakai Sony LYT-602 50MP dalam konfigurasi Zeiss APO periscope untuk membantu koreksi aberasi kromatik secara optik.
Kedua kamera itu mendapat stabilisasi CIPA 4.5-stop. Kombinasi ini membuat X Fold 6 tidak sekadar menonjol lewat angka resolusi besar, tetapi juga lewat ambisi serius di kualitas pemotretan.
Dukungan optik yang tidak biasa di ponsel lipat
Vivo juga membuat X Fold 6 kompatibel dengan aksesori optik fisik dari lini X200 Ultra. Aksesori yang didukung mencakup Zeiss 200mm Teleconverter G2 dan Teleconverter 2.35x.
Dukungan seperti ini jarang ditemukan, bahkan pada banyak flagship non-lipat. Kehadiran fitur tersebut memperkuat posisi X Fold 6 sebagai perangkat yang ingin masuk lebih jauh ke ranah fotografi mobile profesional.
Layar besar untuk kerja dan hiburan
Di bagian utama, X Fold 6 memakai panel lipat Samsung M14 berukuran 8,02 inci. Layar ini memiliki kecerahan puncak 5.000 nits, refresh rate adaptif hingga 120Hz, dan lapisan UTG yang lebih tahan gores.
Layar luar disebut berukuran 6,51 inci, meski detail ini masih berstatus rumor. Jika benar, ukuran tersebut akan memudahkan penggunaan harian tanpa harus sering membuka perangkat.
Baterai jumbo dan antarmuka khusus lipat
X Fold 6 juga diperkirakan membawa baterai 6.900mAh. Jika terkonfirmasi, kapasitas itu akan menjadikannya salah satu foldable dengan baterai terbesar di pasar, berkat desain baterai ganda yang mengikuti bentuk lipat.
Untuk perangkat lunaknya, vivo menyiapkan OriginOS 6 Fold. Sistem ini menawarkan multitasking 4-jendela, drag-and-drop antar-aplikasi, floating window yang bisa disematkan, serta integrasi AI untuk otomatisasi tugas.
Masih terbatas di Tiongkok
Untuk saat ini, vivo baru mengonfirmasi peluncuran X Fold 6 di Tiongkok. Harga belum diumumkan, tetapi jika mengikuti X Fold5 yang berada di sekitar Rp20 juta, perangkat baru ini diperkirakan masuk kisaran Rp21–23 juta.
Peluncuran globalnya juga belum pasti dalam waktu dekat. Secara historis, vivo membutuhkan 3–6 bulan untuk membawa seri X Fold ke Eropa atau Asia Tenggara, dan dalam beberapa kasus perangkat tersebut tidak hadir di Amerika.
