Wayang Betawi-Jawa Tengah Satu Panggung di Blok M, Generasi Muda Ikut Terpikat

Pertunjukan wayang kulit di Blok M Hub, Jakarta Selatan, menghadirkan kolaborasi yang mempertemukan tradisi Betawi dan Jawa dalam satu panggung. Lakon klasik Gatotkaca Lahir menjadi sajian utama yang dibawakan secara bersama oleh Ki Sukarlana dari tradisi Betawi dan Ki Gunarto dari wayang kulit Jawa.

Pementasan itu menarik perhatian karena tidak hanya menampilkan dua aliran budaya, tetapi juga memadukan bahasa yang beragam. Dalam penampilannya, wayang dibawakan dengan unsur bahasa Jawa, Betawi, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Blok M dipilih untuk merangkul penonton baru

Paguyuban Jawa Tengah menginisiasi kegiatan tersebut untuk menyemarakkan hari jadi Jakarta sekaligus merawat keberagaman budaya. Jakarta dinilai sebagai kota multikultural yang cocok menjadi ruang temu berbagai tradisi dari seluruh nusantara.

Pemilihan Blok M juga memiliki makna tersendiri karena kawasan itu sudah lama dikenal sebagai tempat lahirnya kultur baru. Lokasi tersebut dianggap lebih dekat dengan generasi muda yang selama ini jarang bersentuhan langsung dengan pertunjukan wayang kulit.

Panggung budaya yang tetap dekat dengan penonton muda

Meski wayang kerap diasosiasikan dengan penonton yang lebih tua, suasana di Blok M justru menunjukkan hal berbeda. Sejumlah Gen Z tampak menikmati pertunjukan ini sebagai cara baru untuk mengenal tradisi yang makin jarang tampil di Jakarta.

Andri, salah satu penonton, menilai pertunjukan itu memukau karena wayang kulit kini memang sudah jarang terlihat di ibu kota. Ia juga menganggap Blok M sebagai ruang yang tepat untuk memperkenalkan kembali tradisi lama kepada generasi baru.

Vina, penonton lain, mengaku baru pertama kali datang ke acara semacam itu. Menurutnya, suasana acara sangat meriah dan banyak hal yang bisa dipelajari dari wayang kulit.

Sentuhan modifikasi pada pertunjukan

Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, KRAT. Leles Sudarmanto Mangun Nagoro, menyebut pertunjukan ini menampilkan banyak sentuhan modifikasi. Ia menegaskan bahwa dalang yang tampil sudah dikenal luas hingga ke luar negeri.

Menurut Leles, pementasan ini memuat banyak hal positif dan menunjukkan bahwa wayang kulit bisa hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan berbagai lapisan penonton. Kolaborasi itu sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi lama tetap bisa hidup di tengah ruang kota yang terus berubah.

Simbol kebersamaan budaya lokal dan nasional

Dominasi wayang Betawi yang berpadu dengan sentuhan wayang kulit Jawa Tengah membuat pertunjukan ini tampil sebagai simbol kebersamaan budaya lokal dan nasional. Kehadiran dua tradisi itu dalam satu panggung memperlihatkan bahwa warisan budaya masih memiliki ruang kuat di tengah kehidupan urban Jakarta.

Di tengah perayaan HUT Kota Jakarta ke-499, Gebyar Harmoni Budaya di Blok M menjadi penanda bahwa pertunjukan tradisional masih bisa menemukan penonton baru. Format kolaboratif yang digunakan juga memberi pesan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya mendekatkan seni tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.

Source: www.metrotvnews.com

Berita Terkait