Xiaomi Pad 8 Pro menunjukkan dua wajah yang kontras saat diuji. Di satu sisi, tablet ini mampu memberi rasa kerja yang sangat dekat dengan laptop, tetapi di sisi lain performanya belum selalu stabil ketika dipakai untuk game berat.
Perangkat ini paling menonjol saat dipakai untuk produktivitas. Dukungan WPS Office versi PC yang sudah terpasang bawaan membuat tampilan dan alur kerja terasa mirip pengalaman di laptop, terutama untuk kebutuhan kantor yang umum seperti dokumen, spreadsheet, dan presentasi.
Produktivitas jadi kekuatan utama
Untuk pemakaian dasar, WPS Office versi PC pada Xiaomi Pad 8 Pro bisa digunakan gratis. Namun, fitur premium seperti konversi PDF dan kapasitas penyimpanan awan yang lebih besar tetap berada di balik langganan 1 hingga 2 tahun.
Hasil pengujian file juga mendukung kesan tersebut. Saat membuka file PowerPoint berukuran belasan megabyte, tablet ini berjalan mulus tanpa gangguan berarti, lalu tetap lancar ketika dipakai mengedit dan menyimpan file Excel.
Mode Desktop membuat nuansa seperti PC makin terasa
Pengalaman kerja di tablet ini tidak berhenti pada aplikasi kantor bawaan. Mode Desktop yang tersedia melalui Control Center mengubah tampilan antarmuka menjadi lebih mirip MacOS dan mendukung multi-window.
Fitur itu membuat penggunaan banyak aplikasi terasa lebih fleksibel, terutama bagi pengguna yang sering berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Saat dipasangkan dengan aksesori pendukung, tablet ini makin mendekati pola kerja sebuah perangkat komputer ringan.
Xiaomi Smart Pen terbaru juga ikut memperkuat karakter produktif perangkat ini. Referensi menyebut pena tersebut punya delay yang sangat minim, sementara pengisian dayanya terasa praktis karena bisa menempel secara magnetis di bodi tablet.
Layar tajam meski belum memakai OLED
Di sektor tampilan, Xiaomi Pad 8 Pro masih mengandalkan panel IPS, bukan OLED. Meski begitu, layarnya tetap masuk kelas flagship berkat kerapatan 440 PPI yang membuat tampilan terlihat tajam dan detail.
Untuk kebutuhan desain grafis, layar ini dinilai cukup akurat dan responsif. Bahkan, dari sisi ketajaman, panel tersebut disebut melampaui rata-rata iPad seri dasar, sehingga posisinya tetap kompetitif untuk pekerjaan visual.
Game berat belum memberi hasil yang konsisten
Masalah mulai terlihat saat tablet ini dihadapkan pada game yang lebih menuntut. Dalam pengujian melalui emulator atau Game Hope seperti The Witcher, frame rate yang didapat hanya berada di kisaran belasan hingga 20-an FPS.
Hasil itu menunjukkan bahwa optimasi perangkat lunak belum sepenuhnya matang untuk skenario tertentu. Jadi, meski tenaga perangkatnya tergolong tinggi, pengalaman bermain game berat masih belum bisa disebut stabil.
Menariknya, situasinya berbeda saat menjalankan game Android populer seperti Delta Force. Pada judul itu, Xiaomi Pad 8 Pro sanggup mencapai 120 FPS, yang menandakan kemampuan perangkat kerasnya sebenarnya cukup besar ketika perangkat lunak dan game yang dipakai sudah mendukung.
Karakter perangkat lebih mengarah ke mesin kerja
Dari pola hasil pengujian tersebut, Xiaomi Pad 8 Pro terlihat sangat bergantung pada kecocokan antara sistem dan aplikasi. Saat optimasi sesuai, performanya bisa sangat kencang, tetapi saat dipakai untuk jalur emulasi atau beban game yang lebih berat, hasilnya belum konsisten.
Karena itu, tablet ini lebih tepat dipahami sebagai perangkat kerja utama yang masih bisa dipakai bermain, bukan sebagai pilihan utama untuk gamer berat. Arah produknya makin jelas ketika melihat beberapa fitur lain yang ikut dibawa.
Tablet ini tidak memiliki bypass charging, sementara keamanan mengandalkan sensor sidik jari yang menyatu dengan tombol daya. Untuk konektivitas, perangkat ini sudah dibekali GPS dan kompas, sehingga masih punya fleksibilitas untuk skenario tertentu seperti digunakan sebagai head unit mobil.
Daya tahan baterainya juga diklaim bisa bertahan hingga 5 jam lebih saat dipakai gaming intensif. Di sisi lain, pertanyaan soal keyboard resmi Indonesia yang tidak memakai trackpad atau desain floating seperti versi global dijelaskan sebagai langkah untuk menjaga harga tetap kompetitif di pasar Indonesia.







