Xiaomi Tahan Dulu Ponsel Ultra-Tipis, Tak Mau Baterai Dan Performa Jadi Korban

Xiaomi memilih langkah yang tidak biasa di tengah tren ponsel super tipis. Perusahaan itu sempat sangat dekat menghadirkan perangkat yang digadang-gadang menjadi pesaing iPhone Air, tetapi proyeknya dihentikan setelah dinilai terlalu banyak mengorbankan hal penting untuk pemakaian harian.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Xiaomi tidak sekadar mengejar desain ramping. Perusahaan lebih memilih mempertahankan baterai, pendinginan, dan performa yang stabil ketimbang merilis ponsel yang terlihat menarik di atas kertas namun kurang nyaman dipakai dalam jangka panjang.

Proyek yang sudah masuk tahap lanjut

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengungkap bahwa perangkat ultra-tipis itu bukan hanya ide awal. Menurut dia, proyek tersebut sudah melewati tahap perencanaan, riset awal, dan bahkan mendekati produksi massal sebelum akhirnya dihentikan.

Fakta ini membuat pembatalannya terasa lebih penting. Xiaomi ternyata sudah cukup jauh dalam pengembangan, sehingga keputusan mundur bukan dilakukan secara terburu-buru, melainkan setelah perusahaan menilai ulang risiko yang muncul dari desain yang terlalu tipis.

Batas fisik yang sulit dihindari

Masalah utama ada pada batas fisik perangkat tipis. Semakin ramping bodi ponsel, semakin besar tekanan terhadap kapasitas baterai, sistem pendingin, dan hardware berperforma tinggi.

Xiaomi menilai tiga aspek itu paling sulit dipertahankan bersamaan dalam bodi yang sangat tipis. Dalam kelas flagship, baterai, pendinginan, dan performa adalah faktor yang sangat menentukan kualitas penggunaan harian.

Perusahaan tampaknya tidak ingin membuat produk yang unggul dari sisi tampilan, tetapi melemah saat dipakai untuk aktivitas nyata. Karena itu, desain ultra-tipis memang menarik secara visual, namun belum tentu cocok jika harus mengorbankan daya tahan dan kestabilan.

Bukan soal kemampuan teknis

Lu menegaskan bahwa pembatalan proyek itu bukan karena Xiaomi tidak mampu membuat perangkat tersebut. Justru, keputusan diambil karena hasil akhirnya dianggap belum memenuhi standar pengalaman yang ditetapkan perusahaan.

Pernyataan ini penting karena membedakan antara ketidakmampuan teknis dan pilihan strategis. Xiaomi disebut sudah cukup jauh dalam pengembangan, tetapi tetap memilih menghentikannya karena komprominya terlalu besar untuk pengguna.

Sikap itu juga memperlihatkan bahwa Xiaomi menempatkan pengalaman pemakaian di atas ambisi desain ekstrem. Perusahaan tidak ingin merilis ponsel yang hanya mengesankan saat dilihat, lalu kurang meyakinkan dalam penggunaan sehari-hari.

Arah berbeda lewat lini Max

Di saat banyak merek berlomba menghadirkan perangkat yang makin tipis dan ringan, Xiaomi justru bergerak ke arah lain. Alih-alih mendorong model “Air” yang sangat ramping, perusahaan mulai menonjolkan lini “Max”.

Lu menjelaskan bahwa Xiaomi 17 Max tidak diposisikan sebagai model “Plus”. Ia menilai kategori Max dan Plus sebagai dua hal yang berbeda, karena label Plus selama ini biasanya hanya merujuk pada layar yang lebih besar dari model standar.

Untuk seri Max, Xiaomi ingin memberi makna yang lebih luas. Lu menyebut seri ini diperkirakan membawa peningkatan pada pencitraan, performa, dan daya tahan baterai, selain ukuran layar yang lebih besar.

Pesan yang ingin ditonjolkan Xiaomi

Arah tersebut sejalan dengan keputusan membatalkan ponsel ultra-tipis tadi. Jika Xiaomi ingin menjaga baterai besar, pendinginan yang layak, kamera yang lebih maju, dan hardware kelas atas, bodi yang terlalu tipis memang bisa menjadi hambatan besar.

Langkah itu juga selaras dengan pesan Xiaomi belakangan ini soal flagship. Perusahaan terus menekankan baterai lebih besar, sistem kamera canggih, dan komponen kelas atas, bukan sekadar mengejar bodi setipis mungkin.

Dari sisi pasar, pilihan ini menunjukkan keyakinan bahwa konsumen masih memberi bobot besar pada daya tahan baterai dan performa yang stabil. Desain tipis tetap punya daya tarik, tetapi tidak selalu lebih penting jika harus dibayar dengan berkurangnya fungsi utama.

Dengan begitu, absennya rival iPhone Air dari Xiaomi bukan disebabkan kurang siap secara teknis. Proyek itu justru sempat berjalan jauh, lalu dihentikan karena kompromi yang dinilai terlalu besar, sementara fokus perusahaan kini bergeser ke lini Max yang menjanjikan peningkatan lebih nyata pada baterai, performa, pencitraan, dan layar.

Source: www.gizmochina.com

Berita Terkait