Yogyakarta Masih Rawan, Jejak Gempa 1867 Mengingatkan Ancaman Besar di Selatan Jawa

Author: Redaksi Android62

Gempa besar di selatan Jawa masih menjadi ancaman nyata bagi Yogyakarta dan wilayah sekitarnya. Sejarah mencatat, kawasan ini pernah diguncang peristiwa mematikan pada 10 Juni 1867 yang menewaskan hingga 1.000 orang dan merusak banyak bangunan penting.

Kerusakan saat itu sangat luas, terutama di Yogyakarta yang mengalami guncangan paling berat. Intensitas gempa diperkirakan mencapai VIII hingga IX MMI, dengan getaran yang berlangsung sekitar 70 detik dan disertai suara gemuruh keras.

Jejak bencana yang belum pudar

Gempa Jawa 1867 diperkirakan bermagnitudo 7,8 dan kini dipahami sebagai gempa intraslab. Artinya, sumber guncangan berasal dari dalam lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua.

Sumber gempa diperkirakan berada pada kedalaman menengah, sekitar 80 kilometer di bawah permukaan bumi. Karakteristik ini menjelaskan mengapa gempa itu tidak memicu tsunami meski daya rusaknya sangat besar.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menegaskan bahwa peristiwa itu bukan sekadar catatan masa lalu. Ia menilai gempa tersebut menjadi pengingat bahwa selatan Jawa masih menyimpan potensi ancaman yang nyata.

Guncangan yang meluas dari Banten hingga Bali

Catatan sejarah menyebut guncangan terasa sangat luas, dari Banten hingga Bali dengan bentang sekitar 900 kilometer. Banyak rumah roboh hanya dalam hitungan detik ketika gempa datang menjelang fajar, sekitar pukul 04.20 waktu setempat.

Menurut Babad Pakualaman, gempa terjadi pada Senin Wage, 7 Sapar Tahun Ehe 1796, yang bertepatan dengan 10 Juni 1867. Pada waktu itu, sebagian besar warga masih beristirahat ketika getaran mulai terasa.

Di Yogyakarta, bangunan bersejarah ikut rusak berat. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengalami kerusakan parah, Taman Sari hancur, dan Monumen Golong Gilig atau Tugu Yogyakarta roboh.

Di Klaten, kubah utama Candi Sewu juga runtuh akibat kuatnya guncangan. Kerusakan itu menunjukkan bahwa dampak gempa melampaui pusat kota dan menjalar ke berbagai wilayah di Jawa.

Korban jiwa dan dampak sosial yang panjang

Berbagai sumber sejarah menyebut jumlah korban meninggal berada pada kisaran 700 hingga 1.000 orang. Di Surakarta saja, sedikitnya 236 orang dilaporkan meninggal akibat runtuhan bangunan.

Selain korban jiwa, ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan harus menghadapi dampak berkepanjangan. Keterbatasan pendataan pada masa itu membuat jumlah korban sebenarnya berpotensi lebih besar dari catatan yang tersedia.

Bencana tersebut kemudian dikenang sebagai bagian dari “tahun bencana” karena pengaruhnya terasa luas pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Jejaknya bertahan bukan hanya dalam arsip sejarah, tetapi juga dalam ingatan kolektif warga Jawa.

Risiko yang kembali membesar

Sejarah kegempaan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah memperlihatkan pola yang berulang. Selain 1867, gempa besar juga tercatat terjadi pada 1840, 1875, 1926, 1937, dan 1943.

Rangkaian itu mempertegas bahwa pesisir selatan Jawa memiliki aktivitas seismik tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi interaksi zona subduksi, sesar aktif, dan aktivitas vulkanik di kawasan yang sama.

Daryono mengingatkan bahwa risiko saat ini bahkan bisa lebih besar karena jumlah penduduk jauh lebih banyak. Saat Gempa Jawa 1867 terjadi, penduduk Yogyakarta dan sekitarnya masih relatif sedikit dibandingkan kondisi sekarang.

Kini, kawasan tersebut dihuni lebih dari 3,7 juta jiwa, sehingga potensi dampaknya akan jauh lebih besar jika gempa serupa kembali terjadi. Berbagai simulasi bahaya gempa juga menunjukkan perlunya infrastruktur tahan gempa, edukasi kebencanaan, sistem peringatan dini, dan budaya kesiapsiagaan.

Warisan peringatan dari masa lalu

Gunung Merapi sempat dilaporkan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik beberapa pekan pada 1865, meski ilmu pengetahuan modern tidak mengaitkannya langsung sebagai penyebab gempa. Pada masa itu, sebagian masyarakat menganggapnya sebagai pertanda datangnya bencana besar.

Catatan para penjelajah dan ilmuwan seperti Thomas Stamford Raffles serta Alfred Russel Wallace ikut memperkuat gambaran bahwa Nusantara sejak lama dikenal sebagai kawasan yang sangat aktif secara geologi. Dalam konteks itu, Gempa Jawa 1867 tetap relevan sebagai bahan membaca risiko hari ini.

Lebih dari satu setengah abad berlalu, ancaman serupa belum hilang dari selatan Jawa. Bagi Yogyakarta, sejarah panjang itu masih menjadi peringatan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh lengah.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru