YouTube TV kini menuai keluhan karena fitur background play dilaporkan tidak lagi tersedia di sejumlah perangkat lama dan kurang bertenaga. Dampaknya langsung terasa: tayangan berhenti berjalan saat pengguna membuka elemen antarmuka lain, termasuk Live Guide.
Perubahan itu membuat sebagian pelanggan kehilangan kenyamanan yang sebelumnya sudah mereka nikmati. Bagi mereka, yang hilang bukan fitur baru, melainkan fungsi dasar yang sudah lama menjadi bagian dari pengalaman menonton.
Perangkat lama menjadi sasaran perubahan
Di halaman bantuan YouTube TV, 9to5Google menemukan sejumlah keluhan pengguna yang menggambarkan masalah serupa. Intinya sama, yakni pemutaran di latar belakang tidak lagi berjalan seperti biasanya pada perangkat tertentu.
Seorang “Diamond Product Expert” menjelaskan bahwa pembaruan YouTube TV memang memengaruhi “older and less powerful devices and smart TVs.” Penjelasan itu memberi kesan bahwa perubahan ini bukan gangguan sementara, melainkan penyesuaian yang memang diterapkan pada kategori perangkat tertentu.
Dalam tanggapan yang sama disebutkan bahwa pada perangkat tersebut, “background play is no longer supported.” Roku menjadi salah satu nama yang paling sering muncul dalam keluhan, meski dampaknya tidak disebut terbatas pada perangkat itu saja.
Alasan yang dipakai tetap soal stabilitas
YouTube TV disebut melakukan penyesuaian ini untuk “prevent crashing and create a more seamless experience for those devices.” Artinya, penghapusan background play diposisikan sebagai cara menjaga kestabilan pada perangkat yang performanya terbatas.
Langkah tersebut memperlihatkan adanya pertukaran antara fitur dan keandalan sistem. Di satu sisi, aplikasi diharapkan lebih stabil, tetapi di sisi lain pengguna harus melepaskan salah satu kenyamanan yang selama ini ada.
Bagi banyak pelanggan, alasan teknis seperti pencegahan crash tidak cukup menenangkan. Apalagi, dari sudut pandang mereka, fitur itu sebelumnya berjalan normal dan kemudian hilang setelah pembaruan.
Solusi yang disarankan ikut memicu keberatan
“Diamond Product Expert” itu juga menyarankan pengguna beralih ke perangkat streaming mandiri yang lebih baru agar pengalaman pemutaran tetap ideal dan fitur masa depan tetap tersedia. Saran itu memang masuk akal dari sisi kompatibilitas, tetapi tidak mudah diterima oleh pelanggan.
Masalahnya, anjuran tersebut berarti pengguna harus menambah biaya hanya untuk mempertahankan pengalaman yang sebelumnya sudah mereka miliki. Situasi ini membuat keluhan terasa lebih besar daripada sekadar hilangnya satu fitur.
Di tengah kondisi itu, banyak pengguna melihat keputusan tersebut sebagai pengurangan dukungan pada perangkat yang masih dipakai sehari-hari. Bagi mereka, pembaruan perangkat lunak justru mengubah cara menonton menjadi kurang nyaman.
Keluhan muncul saat layanan sebenarnya sedang lebih stabil
Perubahan ini datang ketika YouTube TV disebut menjalani periode yang relatif lebih mulus sepanjang 2026. Setelah melewati pasang surut dalam setahun terakhir, layanan tersebut sebelumnya dinilai lebih stabil bagi pelanggan.
Karena itu, keluhan baru ini terasa kontras dengan perbaikan yang sempat terlihat. Pengguna yang baru menikmati pengalaman yang lebih lancar kini justru menghadapi hilangnya fungsi yang selama ini dianggap wajar.
Kasus ini juga menyoroti betapa besar pengaruh software terhadap umur pakai perangkat. Perangkat yang masih berfungsi secara fisik tetap bisa kehilangan sebagian pengalaman pengguna hanya karena perubahan dukungan fitur dari penyedia aplikasi.
Pada akhirnya, pengguna berada pada posisi yang bergantung pada keputusan penyedia software dan produsen perangkat. Saat dukungan fitur dikurangi, pilihan yang tersisa sering kali hanya menerima perubahan atau mengganti perangkat.
Sejauh ini, respons publik terhadap penjelasan tersebut dilaporkan tidak positif. Banyak pengguna menilai perubahan ini sebagai contoh bagaimana pembaruan software bisa mengubah pengalaman menonton secara drastis di perangkat lama yang masih aktif digunakan.
