Pameran Menyibak Kabut menempatkan Zaini kembali di pusat perhatian publik melalui sekitar 50 karya yang dipamerkan di Galeri Cipta 1 dan 2, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini digelar sebagai penanda 100 tahun kelahiran Zaini dan sekaligus membuka kembali pembacaan atas warisan kebudayaannya.
Pengunjung dapat melihat karya-karya tersebut hingga 11 Juli 2026. Pembukaannya berlangsung pada Sabtu, 20 Juni 2026, dengan rentang karya yang ditampilkan berasal dari periode 1948 hingga 1977.
Objek yang perlahan berubah menjadi suasana
Kekuatan utama Zaini terletak pada cara ia tidak terpaku pada ketepatan realisme. Ia memilih menangkap kesan yang tertinggal dari objek, lalu mengolahnya menjadi suasana yang lebih hening dan kontemplatif.
Pilihan itu terlihat sejak karya awal seperti Rumah (1948), Potret Trisno Sumardjo (1949), dan Potret Nashar (1950). Dalam karya-karya itu, objek tidak tampil sebagai bentuk yang keras dan selesai, melainkan sebagai jejak emosi dan ruang tafsir.
Danau dan jejak warna yang tidak memberi garis tegas
Salah satu karya yang menonjol adalah Danau (1975), dengan semburat jingga, putih, biru tua, dan merah yang berpadu tanpa garis tegas. Komposisi itu menghadirkan kesan kontemplatif yang menjadi salah satu ciri penting dalam banyak karya Zaini.
Perpaduan warna dan bidang yang saling melebur membuat karya-karya tersebut lebih menekankan pengalaman melihat ketimbang sekadar mengenali objek. Dari sana, penonton diajak masuk ke wilayah rasa yang tenang, samar, dan penuh jeda.
Pembacaan kurator dan pandangan para pengamat
Kurator pameran Ibrahim Soetomo melihat karya Zaini sebagai pertemuan antara garis yang tegas dan sapuan warna yang lembut. Ia juga menyoroti kecenderungan Zaini menghadirkan bentuk yang terang lalu membiarkannya perlahan mengabur di dalam bidang visualnya.
Ibrahim menyebut Zaini aktif di Dewan Kesenian Jakarta, tetapi tetap dikenal sebagai pribadi melankolis yang terus mempertanyakan seni lukis. Pandangan itu menegaskan bahwa pencarian artistik Zaini tidak berhenti pada satu bentuk atau satu cara pandang.
Ketua Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia, Maya Sujatmiko, menilai kemampuan Zaini justru terletak pada keberhasilannya mengubah benda-benda keseharian menjadi pengalaman yang lebih esensial. Rumah, perahu, binatang, dan bentang alam diolah menjadi ruang hening yang mempertemukan warna, garis, dan bentuk.
Menurut Maya, olahan semacam itu memberi ruang perenungan bagi penikmatnya. Ia juga menilai Zaini sebagai sosok inspiratif karena tidak hanya berkarya sebagai seniman, tetapi juga berperan sebagai pendidik.
Pandangan lain datang dari kritikus seni rupa Bambang Bujono yang menilai Zaini berangkat dari objek, lalu bergeser ke suasana yang lahir dari objek tersebut. Dengan demikian, yang menjadi pusat perhatian bukan lagi wujud fisik semata, melainkan atmosfer yang menyertainya.
Melalui pameran ini, publik diajak melihat kembali jejak artistik Zaini yang selama ini jarang muncul di ruang pamer. Pameran tersebut juga menegaskan posisinya sebagai pelukis yang ikut membentuk perkembangan ekosistem seni rupa modern Indonesia melalui karya, pemikiran, dan perannya dalam dunia kesenian.
