Belajar hingga 12 Jam Sehari, Zhafif Menaklukkan Soal di Atas Level Olimpiadenya

Muhammad Zhafif membangun persiapan olimpiade dengan mengerjakan soal yang tingkat kesulitannya melampaui kompetisi yang sedang dituju. Pola tersebut dijalaninya hingga 12 jam setiap hari sebagai bekal menghadapi seleksi dan perlombaan.

Siswa SMAS Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, itu kini menjadi delegasi Indonesia untuk International Olympiad on Astronomy and Astrophysics 2026. Ajang astronomi dan astrofisika internasional tersebut dijadwalkan berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada Agustus.

Zhafif tidak membatasi materi latihan pada jenjang lomba yang hendak diikutinya. Ia memilih menamatkan materi dan soal olimpiade satu tingkat lebih tinggi agar terbiasa menghadapi tantangan yang lebih berat.

Strategi itu membuat soal pada level target terasa lebih ringan saat dikerjakan. Ia memandang waktu dan kapasitas belajar perlu digunakan untuk mempercepat perkembangan kemampuan dari dalam diri.

Persiapan Dilakukan Sebelum Pelatnas

Pelatihan Nasional atau Pelatnas menjadi salah satu tahapan yang harus dilalui Zhafif sebelum tampil di kompetisi internasional. Namun, sebagian besar materi pelatihan telah lebih dahulu dipelajarinya secara mandiri.

Kondisi itu membuat masa Pelatnas tidak lagi hanya berfungsi untuk mengejar dasar materi. Zhafif dapat memakai tahap pelatihan tersebut untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang sudah dipelajari.

Kepada Kompas.com, Zhafif menjelaskan bahwa kebiasaan belajar melampaui target sudah diterapkannya sejak lama. Ia berusaha menyelesaikan seluruh soal olimpiade yang berada satu tingkat di atas ajang yang sedang diikuti.

Menurut Zhafif, peserta yang menargetkan tingkat provinsi atau nasional dapat membangun fondasi lebih kuat jika sudah mempelajari tingkat internasional sebelumnya. Pendekatan itu diyakininya membantu menghadapi perubahan tingkat kesulitan dalam seleksi.

Latihan Teknis dan Mental Berjalan Bersamaan

Persiapan Zhafif tidak hanya berfokus pada penguasaan soal. Ia juga melatih kesiapan mental dengan membayangkan dua kemungkinan hasil saat mengikuti perlombaan.

Dalam skenario pertama, ia membayangkan berhasil menyelesaikan soal dengan baik. Skenario kedua menempatkannya pada kemungkinan gagal, lalu menjadi pemicu untuk menilai kekurangan dan kembali belajar.

Zhafif menyebut imajinasi tentang hasil yang belum sesuai harapan justru dapat digunakan sebagai dorongan untuk memperbaiki persiapan saat ini. Cara tersebut membantunya menjaga motivasi untuk terus menambah materi latihan.

Kepercayaan diri menjadi salah satu hasil dari kebiasaan itu. Latihan dengan soal yang lebih tinggi membuatnya merasa lebih siap menghadapi soal tingkat provinsi, nasional, internasional, hingga materi Pelatnas.

Target Akademik di Bidang Teknik Astronomi

Ritme belajar intensif tersebut juga berkaitan dengan rencana akademik Zhafif setelah menyelesaikan pendidikan sekolah. Ia menargetkan kampus kelas dunia, termasuk Massachusetts Institute of Technology dan Harvard University.

Minat studinya mengarah ke Jurusan Teknik Astronomi dengan kemungkinan fokus pada bidang engineering. Rencana itu berjalan sejalan dengan bidang astronomi dan astrofisika yang ditekuni melalui olimpiade.

Keikutsertaan Zhafif dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics menjadi tahap penting dalam perjalanan akademiknya. Dengan materi yang dipelajari lebih awal serta latihan mental yang konsisten, ia akan membawa Indonesia ke kompetisi di Hanoi.

Bagi siswa lain yang ingin mengejar jalur serupa, Zhafif menyarankan pembiasaan mengerjakan soal satu tingkat lebih tinggi daripada olimpiade yang ditargetkan. Saran itu berangkat dari pengalamannya menjadikan kesulitan yang lebih besar sebagai ruang latihan.

Berita Terkait