103 Demokrat Dukung Penghentian Dana Israel, Perpecahan Kini Menyentuh Pimpinan DPR AS

Author: Redaksi Android62

Perpecahan Partai Demokrat mengenai bantuan keamanan Amerika Serikat untuk Israel kini menjangkau jajaran pimpinannya di DPR AS. Sebanyak 103 dari 211 anggota Demokrat mendukung penghentian dana bantuan sebesar 3,3 miliar dollar AS dalam pemungutan suara pada Rabu (15/7/2026).

Dukungan itu tidak cukup untuk meloloskan amendemen, tetapi menunjukkan perubahan besar dalam peta politik Demokrat. Nancy Pelosi dan Katherine Clark, tokoh senior partai di DPR AS, termasuk dalam kelompok yang memilih mendukung langkah tersebut.

Hasil Suara Memperlihatkan Perubahan

Amendemen penghapusan dana bantuan Israel diajukan oleh anggota Partai Republik berhaluan isolasionis, Thomas Massie. Usulan itu dimasukkan ke dalam draf undang-undang belanja Kementerian Luar Negeri AS.

Rincian Pemungutan Suara Jumlah Keterangan
Mendukung amendemen 104 Total anggota DPR AS
Menolak amendemen 314 Total anggota DPR AS
Demokrat mendukung 103 dari 211 Mendukung penghentian bantuan
Demokrat absen 10 Tidak memberikan suara
Demokrat yang menolak bantuan dua tahun lalu 37 Mayoritas berasal dari sayap kiri

Menurut laporan Politico yang dikutip Kompas.com, amendemen Massie akhirnya kalah dengan 314 suara penolak berbanding 104 suara pendukung. Kekuatan mayoritas Partai Republik membuat penghapusan bantuan tersebut tidak memperoleh persetujuan DPR AS.

Meski gagal, angka dukungan dari Demokrat meningkat tajam dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada pemungutan suara serupa, hanya 37 anggota Demokrat yang menolak bantuan untuk Israel dan sebagian besar berasal dari kelompok progresif.

Pelosi Menilai Status Quo Tidak Bisa Bertahan

Nancy Pelosi mendukung amendemen itu meski menyebut pilihannya diambil dengan enggan. Ia menyatakan keputusan tersebut dimaksudkan sebagai sinyal tegas kepada pemerintah Israel.

“Masyarakat Amerika secara tepat menuntut diakhirinya siklus perang yang berkepanjangan, dan pemerintahan Netanyahu tidak dapat mempertahankan jalannya saat ini,” kata Pelosi. Sikap itu menempatkan mantan Ketua DPR AS tersebut di sisi yang berbeda dari sebagian anggota Demokrat lain.

Katherine Clark, perwakilan nomor dua Demokrat di DPR AS, juga mendukung amendemen tersebut. Menjelang pemungutan suara, ia mengatakan terdapat dorongan kuat untuk mengakhiri situasi yang telah berlangsung.

“Ada perasaan nyata bahwa status quo tidak dapat berlanjut,” ujar Clark. Dukungan dari Pelosi dan Clark memperlihatkan bahwa kritik terhadap bantuan militer bagi Israel tidak lagi terbatas pada kelompok progresif.

Jeffries Mengkhawatirkan Bantuan Gaza

Pemimpin Minoritas Demokrat Hakeem Jeffries memilih menolak amendemen Massie. Ia menilai rancangan itu berisiko memangkas bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Gaza.

Jeffries tetap mengakui adanya tuntutan untuk merestrukturisasi hubungan bilateral Amerika Serikat dengan Israel. Tekanan tersebut muncul ketika perjanjian bantuan keamanan selama 10 tahun yang diteken pada masa Presiden Barack Obama akan berakhir pada akhir tahun ini.

Untuk meredakan perbedaan internal, Jeffries mengadakan dua pertemuan tertutup dengan anggota Demokrat. Dalam pertemuan itu, ia meminta mereka memberikan suara berdasarkan hati nurani masing-masing.

Gregory Meeks, anggota senior Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri, juga menolak pembatalan dana tersebut. Namun, ia menekankan bahwa Israel perlu memenuhi standar yang diterapkan Amerika Serikat kepada negara lain.

Tekanan Politik Kian Menguat

Ketua Kaukus Progresif DPR AS Greg Casar menyambut kenaikan jumlah suara pendukung amendemen sebagai perkembangan penting. Ia menyoroti frustrasi publik terhadap penggunaan dana pajak Amerika Serikat untuk mendukung militer Israel.

Casar menyatakan rakyat Amerika menuntut berakhirnya subsidi pajak bagi militer Israel. Setelah pemungutan suara, ia menilai mayoritas Demokrat telah menunjukkan penolakan terhadap pengiriman miliaran dollar senjata kepada militer Israel.

Ia juga mengarahkan pesan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurut Casar, suara itu menandakan bahwa pemberian dukungan tanpa pertanggungjawaban untuk perang dan kejahatan perang tidak lagi dapat dianggap sebagai sikap yang diterima di Partai Demokrat.

Perubahan sikap itu berlangsung di tengah persaingan pemilu primer, ketika kandidat progresif berulang kali mengalahkan petahana dengan janji menolak dana dari kelompok pro-Israel. Dinamika tersebut memperbesar tekanan terhadap pimpinan Demokrat untuk meninjau ulang arah hubungan Washington dengan Israel.

Source: www.kompas.com
Berita Terbaru