Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 1.147 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia untuk membantu kegiatan belajar di 364 satuan pendidikan. Penugasan ini diarahkan ke sekolah-sekolah yang menghadapi keterbatasan tenaga pengajar, terutama di wilayah jauh dari pusat kota.
Mahasiswa tersebut akan menjalani penugasan mengajar selama enam bulan melalui program Penguatan Profesional Bidang Pendidikan atau Probidik Gema Jabar. Masa tugas itu setara dengan 20 SKS dan memberi pengalaman lapangan bagi calon pendidik.
| Komponen Program | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Mahasiswa yang ditugaskan | 1.147 orang | Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia |
| Satuan pendidikan | 364 sekolah | SMA, SMK, dan SLB |
| Durasi penugasan | 6 bulan | Setara 20 SKS |
Sebaran penugasan mencakup 230 SMA, 116 SMK, dan 18 SLB di berbagai daerah Jawa Barat. Komposisi tersebut menunjukkan kebutuhan dukungan pengajar tidak hanya berada pada satu jenjang pendidikan.
Program ini tidak menempatkan mahasiswa sebagai tenaga pengajar tanpa pendampingan. Selama menjalankan tugas, mereka akan mendapat bimbingan dari dosen pembimbing UPI serta guru pamong di sekolah penempatan.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto menjelaskan kolaborasi dengan UPI disiapkan untuk menjaga hak belajar peserta didik tetap terpenuhi. Pendampingan dari kampus dan sekolah diharapkan membantu mahasiswa menjalankan proses pembelajaran secara terarah.
Penugasan mahasiswa menjadi salah satu langkah untuk menopang sekolah yang kekurangan guru. Namun, program ini juga memberi ruang praktik langsung bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia profesi pendidikan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan bahwa pengalaman mengajar di daerah merupakan bagian penting dalam pembentukan calon guru. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya perlu menerapkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik.
“Ini kesempatan bagi mahasiswa selama 6 bulan untuk menekuni program pembelajaran sekaligus belajar secara langsung,” ujar Dedi dalam keterangannya di Bandung, Kamis. Ia menyebut kegiatan mengajar juga perlu memupuk rasa dalam mendampingi anak didik.
Dedi mengingatkan calon guru agar tidak memusatkan perhatian pada wilayah perkotaan saja. Jawa Barat, menurut dia, memiliki wilayah yang luas dengan kebutuhan pendidikan yang juga besar di perdesaan dan perkampungan.
“Harus mengenal Jabar, bukan Kota Bandung saja,” kata Dedi. Ia menilai anak-anak di luar pusat kota juga perlu mendapat perhatian dalam upaya pemerataan pendidikan.
Respons positif datang dari mahasiswa yang mengikuti penugasan tersebut. Andika Darmawan, mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin UPI, memandang program ini sebagai bekal untuk menghadapi kebutuhan pengajar pada masa mendatang.
Andika mengatakan banyak guru akan memasuki masa pensiun dan ia siap menjadi bagian dari pengganti mereka. Bagi mahasiswa, masa penugasan ini menjadi kesempatan memahami kebutuhan sekolah secara langsung.
Mahasiswi UPI bernama Regina, yang ditempatkan di SMK 28 Bandung, juga melihat program ini sebagai tempat pembentukan kemampuan sebelum menjadi guru profesional. Ia berharap kegiatan tersebut berjalan lancar dan memberi manfaat bagi pendidikan di Jawa Barat.
Melalui penugasan ini, sekolah yang rentan kekurangan tenaga pengajar memperoleh dukungan tambahan untuk menjaga proses belajar. Pada saat yang sama, mahasiswa mendapat gambaran nyata mengenai tantangan pendidikan di berbagai wilayah Jawa Barat.
Source: jabar.antaranews.com






