Program Makan Bergizi Gratis atau MBG kini bergerak jauh melampaui urusan penyediaan makanan. BGN mencatat program ini telah melibatkan 1,28 juta pekerja di seluruh Indonesia melalui 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
Skala itu membuat MBG terlihat sebagai penggerak ekonomi yang berjalan serentak di banyak titik. Dari dapur, rantai pasok bahan pangan, hingga usaha lokal yang memasok kebutuhan harian, semuanya ikut tersambung dalam program ini.
Di sisi dapur, Presiden Prabowo Subianto menyebut MBG sudah membuka 1,2 juta lapangan kerja baru. Pernyataan itu disampaikan dalam Sidang Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026.
Pekerjaan yang tercipta juga tidak terbatas pada kegiatan memasak. Tenaga yang terlibat ikut menyiapkan bahan, mengolah makanan, dan menyajikannya untuk jutaan penerima manfaat di berbagai daerah.
BGN mencatat penerima manfaat MBG telah mencapai 62,45 juta orang. Kelompok ini mencakup peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan santri.
Dampak program itu makin terasa saat melihat siapa saja yang masuk ke dalam rantai pasok. Hingga 22 Mei 2026, BGN mencatat ada 142.387 pemasok yang terlibat dalam program ini.
Dari total tersebut, 59.921 berasal dari UMKM. Selain itu, ada 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, 1.410 BUMDes, dan 157 BUMDesma.
Masih ada 66.903 pemasok lain yang berasal dari berbagai kategori penyedia bahan pangan dan jasa pendukung. Susunan ini menunjukkan bahwa MBG memberi ruang bagi usaha kecil dan menengah untuk masuk lebih dalam ke ekosistem pengadaan pangan.
BGN menilai pergerakan itu terjadi karena kebutuhan MBG berjalan dalam skala besar dan terus-menerus. Satu SPPG melayani 3.000 porsi MBG setiap hari, sehingga permintaan bahan pangan ikut terbentuk secara rutin.
Kebutuhan dasarnya pun tidak sedikit. Untuk satu SPPG, dibutuhkan sekitar 200 kg beras per hari atau setara 4,8 ton per bulan.
Kebutuhan protein hewani juga besar. Jika menu ayam disajikan dua kali dalam sepekan, satu SPPG memerlukan sekitar 2.800 ekor ayam dalam sebulan.
Susu juga menjadi bagian dari kebutuhan operasional yang signifikan. Satu SPPG memerlukan sekitar 450 liter susu per hari untuk 3.000 porsi MBG, dengan takaran 150 mililiter per sajian bagi setiap penerima manfaat.
Rangkaian angka itu memperlihatkan bahwa MBG tidak hanya menggerakkan aktivitas di dapur. Program ini juga menciptakan permintaan bagi petani, peternak, nelayan, UMKM, koperasi, dan berbagai penyedia jasa pendukung di banyak daerah.
Source: www.viva.co.id






