Rekor 14 emas Olimpiade membuat Michael Phelps tetap berdiri sendirian di puncak sejarah renang. Hingga kini, capaian itu masih sulit disentuh generasi berikutnya karena datang dari kombinasi dominasi, konsistensi, dan kemampuan menang di banyak nomor sekaligus.
Namanya paling lekat dengan Beijing 2008, saat ia menutup penampilan dengan emas kedelapan dalam satu edisi Olimpiade. Di panggung itu, Phelps bukan hanya menang besar, tetapi juga mengubah ukuran keberhasilan seorang perenang Olimpiade.
Dominasi yang sulit dicocokkan
Phelps mengawali kejayaan emasnya dari Olimpiade Athena 2004 dengan enam emas. Empat tahun kemudian, ia menambah delapan emas lagi di Beijing dan membawa total koleksi emas Olimpiadenya menjadi 14.
Angka itu menempatkannya jauh di atas banyak legenda olahraga lain. Pada usia 23 tahun, ia sudah memegang standar yang terasa sulit dikejar, bukan hanya karena jumlah medali, tetapi juga karena cara ia meraihnya.
Beijing sebagai titik paling terkenal
Olimpiade Beijing 2008 menjadi ajang yang paling sering diingat dalam perjalanan kariernya. Di sana, Phelps menutup rangkaian lombanya dengan kemenangan di estafet 4×100 meter gaya ganti putra bersama tim Amerika Serikat.
Kemenangan itu diraih dengan relatif nyaman dan menegaskan reputasinya sebagai atlet yang tetap stabil di bawah tekanan besar. Dari delapan emas yang dikumpulkannya di Beijing, tujuh di antaranya disertai pemecahan rekor dunia.
Satu-satunya nomor yang tidak menghasilkan catatan waktu terbaik dunia adalah 100 meter gaya kupu-kupu. Meski begitu, capaian tersebut tetap tidak mengurangi besarnya pengaruh yang ia tinggalkan di kolam renang.
Rekor yang menyalip era Mark Spitz
Sebelum Phelps, rekor emas terbanyak dalam satu Olimpiade dipegang Mark Spitz dengan tujuh emas di Munich 1972. Phelps kemudian melampaui catatan itu dan menetapkan standar baru yang bertahan selama 36 tahun.
Momen di Beijing membuatnya tidak lagi sekadar juara. Ia berubah menjadi simbol era baru dalam renang Olimpiade, terutama karena dominasinya hadir di banyak nomor dan bukan hanya di satu spesialisasi.
Fisik, awal karier, dan perjalanan panjang
Keunggulannya juga ditopang kondisi fisik yang sangat mendukung untuk renang kompetitif. Postur tubuhnya ideal, sementara rentang tangannya lebih panjang dari tinggi badannya.
Phelps lahir di Baltimore, Amerika Serikat, pada 30 Juni 1985. Ia tumbuh bersama ibunya, Deborah Phelps, serta dua kakak perempuannya, Hilary dan Whitney, yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.
Karier internasionalnya dimulai sangat muda ketika tampil pertama kali di Olimpiade pada usia 15 tahun di Sydney 2000. Sejak itu, ia terus menambah medali dan rekor hingga menutup karier gemilangnya setelah Olimpiade Rio 2016.
Pengaruh yang tetap terasa setelah pensiun
Warisan Phelps tidak berhenti saat ia meninggalkan kolam renang. Setelah pensiun, namanya tetap kuat di luar dunia kompetisi, termasuk melalui peluang di bidang akademik dan berbagai kegiatan edukasi.
Nilai komersialnya juga masih besar. Menurut Vietnam Express, ia masih bisa menghasilkan sekitar 10 juta dolar AS atau setara Rp160 miliar per tahun setelah pensiun, terutama dari kerja sama dengan perusahaan besar.
Sejumlah merek ternama pernah bekerja sama dengannya, termasuk Visa, Subway, Speedo, dan Under Armour. Celebrity Net Worth memperkirakan kekayaan bersihnya kini sekitar 100 juta dolar AS atau lebih dari Rp1 triliun.
Di sisi pribadi, Phelps menikah dengan mantan ratu kecantikan Nicole Johnson pada 2016. Pasangan ini memiliki empat anak, yakni Boomer, Beckett, Maverick, dan Nico yang lahir pada 2024, seperti dilaporkan NBC Olympics.
Jejak itu membuat Phelps tetap menempati posisi istimewa dalam sejarah olahraga. Rekor 14 emas, dominasi di Beijing, dan karier panjang sejak usia remaja menjadikannya figur yang warisannya masih terus dibicarakan hingga sekarang.
Source: www.viva.co.id






