Universitas Hasanuddin atau Unhas berhasil membawa 15 produk obat dan pangan hasil inovasi dosen memperoleh izin edar dari BPOM. Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi hilirisasi riset kampus agar produk tidak berhenti di laboratorium.
Produk yang lolos izin edar tersebut seluruhnya berbahan pangan lokal. Di dalamnya terdapat beragam olahan seperti roti, Virgin Coconut Oil (VCO), minyak kelapa, gula aren cair, gula aren kubus, gula aren serbuk, sarabba, hingga sejumlah produk berbasis rumput laut.
Deretan 15 produk yang telah berizin edar
| Produk | Jenis Bahan | Keterangan |
|---|---|---|
| Roti | Pangan lokal | Salah satu produk inovasi Unhas yang mendapat izin edar |
| Virgin Coconut Oil (VCO) | Pangan lokal | Termasuk daftar produk yang lolos BPOM |
| Minyak kelapa | Pangan lokal | Masuk dalam produk yang sudah berizin edar |
| Gula aren cair | Pangan lokal | Produk olahan lokal yang telah memperoleh legalitas |
| Gula aren kubus | Pangan lokal | Termasuk kategori produk gula aren berizin edar |
| Gula aren serbuk | Pangan lokal | Salah satu varian produk gula aren yang lolos BPOM |
| Sarabba | Pangan lokal | Produk minuman tradisional dalam daftar izin edar |
| Olahan rumput laut | Pangan lokal | Bagian dari hilirisasi pangan berbasis laut |
| Mi rumput laut | Pangan lokal | Produk berbahan lokal yang sudah berizin |
| Cendol rumput laut | Pangan lokal | Termasuk inovasi pangan berbasis rumput laut |
| Brownies rumput laut | Pangan lokal | Produk olahan pangan hasil inovasi dosen Unhas |
| Muffin rumput laut | Pangan lokal | Sudah mengantongi izin edar BPOM |
| Bakso rumput laut | Pangan lokal | Masuk daftar produk hasil hilirisasi |
| Nugget rumput laut | Pangan lokal | Salah satu produk yang disetujui edarannya |
| Minuman Ginger Creamy | Pangan lokal | Lengkap menutup daftar 15 produk yang sudah berizin |
Seluruh produk itu dikembangkan oleh enam peneliti Unhas, yakni Prof. Amran Laga, Prof. Syahidah, Prof. Sartini, Dr. Sitti Fakhriyyah, Dr. Kasmiati, dan Irwan. Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi riset kampus berasal dari kerja kolektif para dosen peneliti.
Izin edar dinilai menjadi titik krusial
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa menilai tantangan terbesar perguruan tinggi bukan lagi menghasilkan riset, melainkan memastikan produk riset memenuhi persyaratan regulasi. Menurut dia, izin edar BPOM selama ini menjadi hambatan utama bagi banyak inovasi kampus.
Dalam pernyataannya yang dikutip Kompas.com dari situs Kemendikti Saintek, Jamaluddin menyebut Unhas menargetkan sekitar 200 produk inovasi lain memperoleh izin edar pada tahun ini. Ia menegaskan bahwa produk obat maupun pangan hasil riset kerap berhenti pada tahap penelitian jika tidak mendapat legalitas.
“Kita patut berbangga karena salah satu persoalan utama selama ini adalah izin edar. Produk obat maupun pangan hasil riset sering kali berhenti pada tahap penelitian. Hari ini kita membuktikan bahwa inovasi kampus dapat memperoleh legalitas. Tahun ini kami menargetkan sekitar 200 produk inovasi lainnya menyusul memperoleh izin edar,” kata Jamaluddin.
BPOM melihat peluang hilirisasi yang lebih luas
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menyatakan penerbitan izin edar merupakan bagian dari upaya membangun industri berbasis riset yang berdaya saing. Ia menegaskan BPOM tidak hanya memberikan stempel, tetapi juga mendorong agar produk hasil hilirisasi berkembang ke pasar yang lebih luas.
Taruna mengatakan, “BPOM tidak sekadar memberikan stempel. Kami ingin memastikan produk hasil hilirisasi dapat berkembang, dipasarkan secara nasional, bahkan memiliki peluang untuk diekspor ke pasar global.”
Senada dengan itu, Kepala Balai Besar POM di Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan menilai hilirisasi penelitian membutuhkan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Ia menekankan bahwa hasil penelitian tidak semestinya berhenti di laboratorium karena dapat memberi dampak ekonomi yang lebih nyata.
Menurut Yosef, produk yang lahir dari proses hilirisasi berpotensi membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan. Unhas pun berharap semakin banyak hasil penelitian kampus yang tumbuh menjadi produk nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Selain 15 produk yang sudah mengantongi izin edar, setidaknya ada 15 dosen Unhas lain yang tengah menyiapkan pengajuan izin BPOM untuk produk inovasi mereka. Target itu memperlihatkan bahwa kampus tersebut masih mendorong riset agar bergerak lebih jauh menuju produksi dan pemanfaatan publik.







