Lebih dari 15.000 surat suara yang masih dipersoalkan membuat hasil pemilihan presiden Peru belum bisa dipastikan. Di tengah proses itu, persaingan untuk dua tempat di putaran kedua berlangsung sangat ketat karena selisih suara antarkandidat di posisi atas masih tipis.
Berdasarkan data resmi dengan 93 persen suara sudah dihitung, Keiko Fujimori dari kubu sayap kanan tetap berada di posisi teratas dengan 17 persen suara. Di belakangnya, Roberto Sanchez dari kubu kiri mengumpulkan 12 persen, sementara Rafael Lopez Aliaga dari kubu ultra-konservatif membayangi dengan 11,9 persen.
Penghitungan belum tuntas karena surat suara sengketa
Yessica Clavijo selaku sekretaris jenderal National Jury of Elections atau JNE menjelaskan bahwa penundaan hasil terjadi karena ribuan surat suara yang disengketakan masih ditinjau. Dari lebih dari 15.000 surat suara itu, sekitar 30 persen berkaitan dengan pemilihan presiden, sedangkan sisanya menyangkut pemilihan legislatif.
Kondisi ini membuat posisi kandidat di papan atas terus berubah. Pada Sabtu, jarak antara Sanchez dan Lopez Aliaga sempat melebar tipis menjadi sekitar 13.600 suara, tetapi angka itu belum cukup untuk memastikan siapa yang akan menyusul Fujimori ke putaran kedua.
Perebutan tiket putaran kedua masih terbuka
Dalam sistem pemilu Peru, dua kandidat teratas berhak melaju ke putaran kedua untuk menentukan pemenang. Karena itu, setiap suara yang masih dalam sengketa menjadi sangat menentukan, terutama ketika selisih di posisi kedua belum stabil.
Situasi ini menimbulkan ketidakpastian di tengah publik dan para kandidat. Selama proses penghitungan dan peninjauan belum selesai, belum ada kepastian resmi mengenai dua nama yang akan tampil di putaran berikutnya.
Tuduhan kecurangan ikut menambah ketegangan
Rafael Lopez Aliaga, mantan wali kota Lima, menjadi salah satu tokoh yang paling keras menyoroti lambatnya proses itu. Ia menuduh telah terjadi kecurangan tanpa memaparkan bukti dan bahkan meminta pemilu dibatalkan.
Lopez Aliaga juga menyerukan agar para pendukung Partai Popular Renewal turun ke jalan pada Minggu. Di sisi lain, Roberto Sanchez ikut mempertanyakan jalannya pemilu dan meminta dugaan masalah serius dalam organisasi pemilu diselidiki serta dijatuhi sanksi yang sesuai.
Pemilu berlangsung di tengah situasi politik yang rapuh
Pemilihan kali ini menarik perhatian karena diikuti rekor 35 kandidat presiden. Banyaknya peserta mencerminkan terbukanya pertarungan politik di Peru, negara yang memang sudah lama dilanda gejolak.
Empat dari delapan presiden terakhir bahkan dimakzulkan oleh Kongres. Latar belakang itu membuat setiap proses pemilu di negara tersebut selalu berada di bawah pengawasan ketat dan sering memicu sorotan publik yang besar.
Gangguan logistik dan pengawasan eksternal
Selain sengketa surat suara, pemungutan suara juga sempat terkendala keterlambatan pengiriman bahan pemilu. Otoritas kemudian memperpanjang jadwal pemungutan di beberapa wilayah Lima sampai Senin untuk mengatasi hambatan tersebut.
Misi pengamat pemilu Uni Eropa menilai pemungutan suara tetap memenuhi standar demokratis meski ada gangguan. Namun, perhatian terhadap logistik, pengawasan, dan sengketa surat suara tetap tinggi karena hasil final baru bisa dipastikan pertengahan Mei.
Tekanan terhadap lembaga penyelenggara juga meningkat setelah jaksa pada Jumat menggerebek sebuah gudang milik National Office of Electoral Processes atau ONPE. Lembaga itu bertugas mengorganisasi pemilu, sehingga penggerebekan tersebut ikut memperbesar sorotan terhadap transparansi proses.
Empat pejabat juga telah dilaporkan ke JNE atas dugaan pelanggaran yang terkait dengan hak pilih. Selama pemeriksaan surat suara sengketa masih berlangsung, otoritas pemilu Peru tetap berada dalam perhatian publik, kandidat, dan para pengamat internasional.
