Harga gula pasir di banyak daerah terus bergerak naik, dan tekanan itu kini terasa lebih luas karena biaya plastik kemasan ikut terdorong. Hingga minggu ketiga April, jumlah kabupaten dan kota yang mencatat kenaikan harga gula pasir dalam Indeks Perkembangan Harga mencapai 171 daerah.
Perluasan tekanan harga ini terlihat jelas dari data Badan Pusat Statistik. Pada minggu kedua April, jumlah daerah yang terdampak masih 153 kabupaten dan kota, lalu bertambah menjadi 171 kabupaten dan kota pada minggu ketiga April.
Beban tambahan dari kemasan
Kenaikan harga gula pasir tidak berdiri sendiri karena ongkos produksi ikut terdorong oleh naiknya harga plastik untuk kemasan. Industri gula sangat bergantung pada plastik dalam proses packaging, sehingga kenaikan bahan kemasan langsung memengaruhi biaya yang harus ditanggung produsen.
BPS mencatat bahwa kenaikan harga gula pasir salah satunya dipicu oleh naiknya harga plastik untuk packaging. Ketika biaya kemasan naik, ruang produsen untuk menahan harga menjadi lebih sempit dan tekanan itu akhirnya merambat ke harga jual di pasar.
Dampaknya pun tidak berhenti di tingkat pabrik. Saat biaya produksi meningkat, konsumen akhir ikut merasakan perubahan lewat harga eceran yang lebih tinggi.
Sebaran daerah terdampak makin luas
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kenaikan harga gula pasir terus meluas dari satu pekan ke pekan berikutnya. Ia menjelaskan, “Gula pasir, kemarin itu (minggu kedua April) 153 kabupaten kota (kenaikan IPH), sekarang (minggu ketiga April) menjadi 171 kabupaten kota.”
Perubahan ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu. Sebaliknya, gejala kenaikan sudah menyebar ke banyak daerah konsumsi dalam waktu yang cukup singkat.
Badan Pangan Nasional juga mencatat adanya tekanan harga yang cukup nyata di daerah-daerah terdampak. Dari 171 kabupaten dan kota tersebut, 135 daerah berada di atas Harga Acuan Penjualan atau HAP.
Harga nasional belum melonjak tajam, tetapi tetap naik
Secara rata-rata nasional, kenaikan harga gula konsumsi memang belum terlihat sangat tajam jika dibaca bulanan. Namun arah pergerakannya tetap menanjak dan memberi sinyal yang perlu diwaspadai.
Dalam sebulan terakhir, harga gula konsumsi nasional naik 1,94 persen. Pada 20 April, harga itu bergerak dari Rp 18.412 per kilogram menjadi Rp 18.770 per kilogram.
Perubahan tersebut penting karena menunjukkan kenaikan mulai sampai ke level yang langsung memengaruhi belanja harian rumah tangga. Jika tekanan biaya terus bertahan, harga di tingkat konsumen berpotensi tetap sulit turun dalam waktu dekat.
Gangguan pasokan hulu ikut memperburuk situasi
Di balik kenaikan harga plastik, terdapat gangguan yang lebih awal dalam rantai pasok bahan baku nafta. Konflik di Timur Tengah disebut mengganggu pasokan global bahan baku kemasan plastik dan pada akhirnya menekan biaya produksi industri terkait.
Dampaknya menjalar ke banyak sektor yang menggunakan kemasan plastik dalam distribusinya, termasuk produk pangan. Gula pasir menjadi salah satu komoditas yang menerima tekanan tambahan dari sisi biaya kemasan, meski kebutuhan konsumsi tetap berjalan normal.
Situasi ini memperlihatkan bahwa masalah harga bisa muncul dari rantai pasok yang saling terhubung. Satu gangguan di hulu dapat memicu efek berlapis hingga ke pasar akhir.
Pemerintah menyiapkan langkah pasokan
Badan Pangan Nasional menyatakan koordinasi lintas kementerian sedang dilakukan untuk mencari alternatif pasokan bahan baku plastik. Langkah itu diarahkan untuk menjaga ketersediaan stok agar tekanan harga tidak semakin melebar.
Ketut dari Bapanas menegaskan pemerintah tidak membiarkan persoalan ini berjalan tanpa upaya. Ia mengatakan, “Sekali lagi, pemerintah tidak diam, tidak menunggu, tapi sedang mencari upaya-upaya tersebut.”
Koordinasi juga dilakukan bersama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Pemerintah berharap jalur pasokan bahan baku bisa dibenahi sehingga harga di pasar bergerak lebih stabil.
Di sisi lain, Bapanas memproyeksikan produksi gula kristal putih dalam negeri naik dari 58,3 ribu ton pada April menjadi 276,4 ribu ton pada Mei. Kenaikan produksi ini diharapkan dapat membantu meredam tekanan harga, terutama bila pasokan kemasan dan distribusi ikut membaik.







