Konsumsi alkohol dikaitkan dengan peningkatan risiko pada 20 kondisi kesehatan, termasuk kanker, penyakit hati, gangguan jantung, dan masalah metabolik. Temuan ini memperlihatkan bahwa dampaknya tidak berhenti pada efek sesaat, melainkan dapat merembet ke banyak sistem tubuh sekaligus.
Di antara risiko yang paling menonjol, kanker faring tercatat mengalami kenaikan risiko hingga 105 persen. Selain itu, alkohol juga meningkatkan risiko beberapa penyakit lain sebesar 15–50 persen, seperti kanker bibir dan rongga mulut, kanker laring, sirosis dan penyakit hati kronis lainnya, pankreatitis, serta kanker usus besar dan rektum.
Daftar 20 kondisi yang ditinjau
Studi yang meninjau 843 studi kohort dan studi kasus-kontrol hingga 2023 itu mencakup 10 jenis kanker, empat penyakit kardiovaskular, dan enam kondisi lain. Secara keseluruhan, kondisi yang dianalisis meliputi kanker payudara, kolorektal, esofagus, laring, hati, bibir dan rongga mulut, faring, pankreas, prostat, dan lambung.
Empat penyakit kardiovaskular yang ikut dikaji adalah fibrilasi dan flutter atrium, stroke iskemik, stroke hemoragik, dan penyakit jantung iskemik. Adapun enam kondisi lainnya terdiri atas penyakit Alzheimer dan demensia lainnya, sirosis dan penyakit hati kronis lainnya, infeksi saluran pernapasan bawah, pankreatitis, tuberkulosis, dan diabetes tipe 2.
Risiko kanker dan penyakit hati paling jelas terlihat
Temuan yang paling tegas terlihat pada hubungan alkohol dengan kanker utama. Studi tersebut menyebut bahwa konsumsi alkohol apa pun dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, kanker payudara, dan kanker pankreas, selain sejumlah kanker lain yang juga dianalisis.
Untuk penyakit hati, pola risikonya juga kuat. Alkohol dikaitkan dengan sirosis dan penyakit hati kronis lainnya, sehingga hati menjadi salah satu organ yang paling rentan terhadap kebiasaan minum jangka panjang.
Ahli bedah kolorektal bersertifikat di MemorialCare Todd Cancer Institute, Ketan Thanki, MD, menilai temuan itu tidak mengejutkan. Ia menyebut alkohol bersifat toksik bagi tubuh, terutama saat dikonsumsi dalam jumlah besar, karena memengaruhi banyak mekanisme biologis sekaligus.
Beberapa risiko masih lemah atau belum konsisten
Tidak semua hubungan yang diteliti menunjukkan kekuatan bukti yang sama. Peneliti mencatat ada lima kondisi yang kaitannya dengan alkohol masih lemah atau belum konsisten.
Lima kondisi tersebut adalah kanker lambung, stroke hemoragik, stroke iskemik, tuberkulosis, dan penyakit jantung iskemik. Dengan demikian, data pada area ini belum cukup seragam untuk menghasilkan kesimpulan sekuat kondisi lain dalam studi tersebut.
Kajian itu juga menemukan pola menarik pada diabetes tipe 2. Risiko penyakit ini tampak menurun pada konsumsi alkohol rendah, tetapi meningkat ketika konsumsi menjadi lebih tinggi.
Mengapa temuan ini penting untuk publik
Para peneliti menilai hasil kajian ini memberi gambaran yang lebih jelas tentang risiko kesehatan yang terkait dengan alkohol. Informasi tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih sadar soal konsumsi minuman beralkohol.
Matt Glowiak, PhD, konselor berlisensi dan kepala spesialis kecanduan di Recovered, menegaskan bahwa pantang minum adalah pilihan yang paling aman. Ia juga mengingatkan bahwa siapa pun yang memilih minum perlu memahami implikasi kesehatannya secara utuh, bukan hanya dari peringatan pada label minuman.
CDC menyebut minum alkohol dalam jumlah sedang tetap membawa risiko kesehatan, sementara WHO menegaskan bahwa tidak ada jumlah alkohol yang benar-benar aman. Karena itu, dampaknya perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan yang luas, bukan sekadar kebiasaan sosial yang dianggap ringan.
Bagi pembaca yang ingin menilai ulang kebiasaan minum, inti temuan ini cukup jelas: alkohol tidak hanya berkaitan dengan satu penyakit, tetapi dengan spektrum gangguan yang luas, termasuk kanker, penyakit hati, gangguan jantung, dan masalah metabolik yang dapat berkembang perlahan.
Source: lifestyle.bisnis.com






