260 UMKM DIY Naik Panggung, BI Dorong Transaksi QRIS dan Akses Pasar Lebih Luas

Sebanyak 260 pelaku UMKM ikut terlibat dalam Grebeg UMKM X DJAMUAN Istimewa 2026 yang digelar pada 5 hingga 7 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi pelaku usaha kecil di DIY untuk memperluas pasar lewat promosi, jejaring, digitalisasi transaksi, dan akses pembiayaan yang lebih formal.

Agenda yang mengusung tema “Nyawiji” itu menampilkan pameran UMKM sektor fashion, food, dan craft. Di dalamnya juga ada Pasar Kangen Digital & Halal yang ikut melibatkan ratusan pelaku usaha tersebut.

Bank Indonesia menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari dorongan agar UMKM tidak berhenti di pasar lokal. BI ingin pelaku usaha kecil di Daerah Istimewa Yogyakarta lebih siap naik kelas melalui peningkatan mutu produk, standardisasi usaha, serta keterhubungan yang lebih erat dengan ekosistem digital dan pembiayaan formal.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menegaskan bahwa penguatan UMKM menjadi perhatian yang terus dijaga karena sektor ini memegang peran penting dalam perekonomian daerah. BI juga melihat promosi UMKM sebagai strategi yang berkaitan langsung dengan pariwisata dan ekonomi kreatif di DIY.

Perkembangan pembayaran digital di daerah ini ikut memperkuat alasan dorongan tersebut. Hingga April 2026, jumlah pengguna QRIS di DIY tercatat lebih dari 1,08 juta pengguna, sementara merchant mencapai lebih dari 1,11 juta merchant.

Sepanjang 2026, transaksi QRIS di DIY juga sudah mencapai 198 juta transaksi. Angka itu tumbuh 62,19% secara tahunan dan menunjukkan bahwa pembayaran digital semakin akrab digunakan masyarakat maupun pelaku usaha.

Ruang belajar dan jejaring usaha

Selain pameran, rangkaian Grebeg UMKM X DJAMUAN Istimewa 2026 juga memuat sejumlah kegiatan pendukung. Ada Capacity Building Millennial Batik, Latte Art Competition, Kompetisi Robotika, Lomba Bankers Wear Wastra, talkshow pengembangan UMKM, serta sosialisasi Cinta Bangga Paham Rupiah, QRIS, dan pelindungan konsumen.

Seluruh agenda itu dirancang untuk memberi ruang belajar sekaligus membuka kesempatan promosi yang lebih luas. BI berharap pelaku UMKM dapat memanfaatkan momen tersebut untuk memperluas jejaring bisnis dan memperkuat daya saing produknya.

Ricky P. Gozali juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini mendorong akses pasar dan pembiayaan UMKM semakin terbuka. Ia menilai penguatan digitalisasi transaksi dan jejaring usaha akan membantu produk lokal DIY punya peluang yang lebih besar untuk berkembang.

Ekonomi DIY masih menunjukkan daya tahan

Dukungan untuk UMKM berlangsung di tengah kinerja ekonomi DIY yang masih kuat. Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta KGPAA Paku Alam X menyampaikan bahwa perekonomian DIY pada triwulan I 2026 tumbuh 5,84% secara tahunan.

Capaian itu menempatkan DIY sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Jawa. Menurut KGPAA Paku Alam X, kondisi tersebut mencerminkan ketahanan dan daya saing ekonomi DIY di tengah dinamika nasional dan global.

Ia juga menilai penyelenggaraan Grebeg UMKM dan DJAMUAN Istimewa menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan potensi yang besar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menghubungkan potensi itu agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

KGPAA Paku Alam X menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga, sinergi antarpemangku kepentingan, dan dukungan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas UMKM. Dengan dukungan tersebut, UMKM DIY diharapkan makin siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait