Percakapan di media sosial kembali ramai saat Idul Adha 1447 H ditetapkan jatuh pada 27 Mei. Di saat banyak orang fokus pada persiapan ibadah kurban, warganet justru mengaitkan tanggal itu dengan potongan lirik viral “Kami dari 27 Bulan Mei” yang sudah lama hidup di ruang digital.
Perpaduan dua hal itu membuat 27 Mei seolah punya makna ganda di mata pengguna internet. Tanggal tersebut dipahami sebagai hari besar keagamaan, tetapi juga berubah menjadi bahan candaan yang memunculkan meme, video editan, dan komentar bernada humor.
Lirik yang kembali diingat
Potongan kalimat “Kami dari 27 Bulan Mei” berasal dari lagu “Tongkrongan Kami Sopan” milik Brother PBSU 275. Lirik ini sempat ramai di X dan TikTok, lalu membuat sebagian pengguna salah paham karena mengira frasa tersebut merujuk pada peristiwa sejarah atau hari penting tertentu.
Lagu itu menampilkan permainan kentrung dan pertama kali diunggah ke YouTube pada Februari 2017. Popularitasnya sempat melonjak lagi pada 2022, ketika lagu tersebut juga dikenal dengan judul alternatif “Tongkrongan Kami Bukan Tongkrongan Pecundang”.
27 Mei jadi bahan candaan berulang
Sejak viral, 27 Mei kerap diperlakukan warganet sebagai “Hari Tongkrongan Nasional”. Setiap tanggal itu datang, unggahan bernuansa humor biasanya ikut bermunculan dan menjadikan potongan lirik tadi sebagai bahan lelucon bersama.
Pada 2026, kebiasaan digital itu terasa lebih ramai karena bertepatan langsung dengan Idul Adha. Situasi ini membuat pembahasan di lini masa bergerak cepat dan melahirkan gelombang konten baru dengan nada serupa.
Meme kurban ikut menyemarakkan lini masa
Sejumlah unggahan menampilkan editan hewan kurban seperti sapi atau kambing yang dibuat seolah sedang duduk santai di warung kopi. Dalam beberapa video, hewan-hewan itu bahkan digambarkan sedang “mendengarkan” lagu “Tongkrongan Kami Sopan”.
Konten seperti ini menunjukkan cara budaya digital menyambungkan dua peristiwa yang berbeda dengan pendekatan ringan. Meski tidak punya hubungan formal dengan Idul Adha, meme dan video editan tetap ikut menambah warna pada percakapan publik di media sosial.
Di tengah ramainya guyonan, perhatian utama pada Idul Adha tetap berada pada ibadah kurban dan makna perayaannya. Namun, fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebuah lagu viral bisa kembali muncul ke permukaan ketika waktunya dianggap pas oleh pengguna media sosial.
Bagi warganet, 27 Mei kini bukan hanya penanda Idul Adha, tetapi juga pengingat pada potongan lirik yang pernah viral dan terus hidup dalam budaya internet. Karena itu, setiap kali tanggal tersebut datang, ruang maya hampir selalu kembali membuka tempat bagi candaan yang sama.
