Perceraian masih dipandang sebagai aib di banyak keluarga, sehingga sebagian pasangan memilih bertahan meski rumah tangga sudah terasa toksik. Tekanan itu terasa lebih kuat di sebagian wilayah pedesaan, tempat penilaian sosial sering menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang mengambil keputusan besar.
Di sisi lain, bertahan dalam hubungan yang tidak sehat tidak selalu berarti rumah tangga sedang baik-baik saja. Bagi banyak perempuan, pilihan itu justru muncul karena ruang untuk keluar terasa sempit, terutama ketika beban ekonomi, anak, dan pandangan lingkungan datang bersamaan.
Ketiadaan kemandirian finansial jadi pengunci utama
Salah satu alasan paling kuat adalah ketakutan tidak mampu menanggung hidup setelah berpisah. Amanda McAlister, kepala bidang hukum di Slater & Gordon, menilai banyak pasangan tetap bertahan meski menderita karena cemas menghadapi kesulitan ekonomi.
Ia menyebut kondisi itu menyedihkan ketika ratusan pasangan memilih tetap tinggal hanya karena khawatir tidak sanggup secara finansial. Dalam pandangan itu, perceraian memang bukan langkah ringan, tetapi bagi sebagian orang justru bisa menjadi jalan menuju rasa aman yang lebih nyata.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan anak-anak dapat merasa lebih bahagia ketika orang tuanya juga bahagia. Karena itu, bertahan di dalam relasi penuh tekanan tidak otomatis menjadi pilihan yang paling aman bagi keluarga.
Tak ingin anak menjadi korban konflik rumah tangga
Alasan lain yang sering muncul adalah keinginan melindungi anak dari broken home. Banyak orang tua percaya anak akan lebih baik jika kedua orang tuanya tetap bersama, tetapi kebersamaan itu perlu benar-benar sehat, bukan sekadar terlihat utuh dari luar.
Anak memiliki kepekaan tinggi dan bisa merasakan ketegangan di rumah, bahkan tanpa pertengkaran yang terdengar jelas. Pertengkaran terus-menerus dan sikap bermusuhan dapat memicu kecemasan, depresi, serta rendahnya harga diri pada anak.
Hubungan toksik juga berisiko memberi contoh yang keliru. Anak bisa tumbuh dengan anggapan bahwa relasi disfungsional adalah sesuatu yang normal, lalu membawa pola itu ke hubungan mereka di masa depan.
Dr. Donna Matthews mengatakan perceraian dalam jangka panjang dapat memberi dampak lebih bahagia pada anak. Menurutnya, ketika orang tua terus bertengkar dan tidak cocok dalam waktu lama, perceraian bisa menjadi kelegaan jika perubahan struktur keluarga ditangani dengan baik.
Stigma sosial terhadap janda masih kuat
Tekanan berikutnya datang dari masyarakat. Status janda masih sering dipandang negatif, dan penelitian di Indonesia bertajuk A Critical Study of the Discrimination of Widow menunjukkan perempuan janda cenderung menerima stigma lebih besar dibanding duda.
Stigma itu tidak berhenti pada status pernikahan. Perempuan yang bercerai kerap dikaitkan dengan penilaian moral dan seksualitas, lalu dilabeli sebagai ancaman serta diawasi berlebihan oleh lingkungan sekitar.
Situasi tersebut membuat perceraian terasa seperti risiko sosial yang besar, bukan sekadar keputusan pribadi. Karena itu, sebagian orang memilih tetap bertahan demi menghindari sorotan, komentar, dan penilaian yang melelahkan.
Pada akhirnya, tidak semua pernikahan layak dipertahankan hanya demi menjaga citra. Keputusan untuk bertahan atau berpisah perlu dibahas dengan tenang, empatik, dan bila perlu dengan bantuan konselor profesional agar pilihan yang diambil benar-benar matang.
Faktor yang paling sering membuat orang bertahan
| Faktor | Dampak Utama | Catatan |
|---|---|---|
| Finansial | Takut tidak mampu menanggung hidup setelah berpisah | Menjadi salah satu alasan paling kuat |
| Anak | Ingin menghindari broken home dan konflik berkepanjangan | Rumah tangga yang tampak utuh belum tentu sehat |
| Stigma sosial | Takut dicap negatif, terutama sebagai janda | Tekanan ini masih kuat di lingkungan tertentu |
