3 Sisi Gelap Industri Perfilman Korea Selatan, dari Gaji Seret hingga Jam Kerja

Di balik citra mewah industri hiburan Korea Selatan, ada persoalan kerja yang terus berulang dan tidak selalu terlihat oleh publik. Jam syuting yang panjang, pembayaran yang tidak selalu lancar, hingga kondisi finansial para pemain menjadi bagian dari realitas yang jarang mendapat sorotan.

Salah satu persoalan paling berat adalah jam kerja yang bisa mencapai 20 jam. Melansir Kajomag, produksi drama kerap dikejar target penyelesaian secepat mungkin karena biaya syuting yang tinggi, sehingga ritme kerja pemeran dan kru ikut ikut terdorong sangat jauh.

Dalam situasi tertentu, empat episode awal sebuah drama direkam lebih dulu dalam satu waktu. Jika alur cerita harus diubah karena rating atau reaksi penonton, jadwal kerja bisa makin panjang dan membuat aktor maupun aktris hanya sempat tidur 1 jam selama proses syuting.

Pembayaran yang Tidak Selalu Lancar

Masalah lain datang dari sistem pembayaran yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan beban kerja di lapangan. Aktor Park Jun Gyu pernah menjelaskan dalam acara Happy Together bahwa aktor dan aktris mendapat bayaran penuh untuk 1 episode, berapa pun jumlah adegan yang mereka selesaikan.

Ada pula kondisi yang membuat bayaran lebih kecil, yaitu ketika seorang aktor atau aktris berperan sebagai karakter yang sudah meninggal. Namun, untuk pemain papan atas yang fotonya tetap muncul dalam adegan, bayaran mereka bisa jauh lebih besar.

Keterlambatan pembayaran juga sempat muncul pada aktor dan aktris pendukung serial Reverse. Melansir Naver, Serikat Aktivis Penyiaran Korea menyebut drama yang tayang melalui platform OTT Wave pada 17 April itu belum membayarkan gaji mereka.

Serikat tersebut mendesak perusahaan produksi untuk segera membayar dan meminta pihak terkait, termasuk Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata serta Badan Promosi Konten Korea, mengambil langkah pengawasan yang lebih efektif. Kasus ini memperlihatkan bahwa persoalan upah di industri perfilman Korea Selatan bukan sekadar isu kecil di balik layar.

Bintang Populer yang Masih Bekerja Paruh Waktu

Di tengah popularitas drama dan film Korea Selatan yang mendunia, masih ada aktor dan aktris yang harus mencari penghasilan tambahan. Kondisi ini menegaskan bahwa ketenaran tidak selalu langsung berbanding lurus dengan kestabilan finansial.

Jung Sung Il menjadi salah satu contoh yang mencolok setelah namanya makin dikenal lewat The Glory. Sebelumnya, ia juga tampil dalam Our Blues, Moonshine, Bad and Crazy, dan Birthcare Center, tetapi perjalanan kariernya tidak langsung stabil secara ekonomi.

Ia memulai karier di teater pada usia 20-an, lalu berhenti kuliah demi mengejar akting di Seoul. Selama bertahun-tahun, ia menghidupi diri dengan pekerjaan seperti sopir, petugas parkir, bekerja di kafe, hingga layanan pengiriman barang.

Jung Sung Il bahkan pernah mengatakan bahwa pembayaran royalti drama yang ia terima sudah selesai, tetapi jumlahnya tidak besar dan tidak mengubah hidupnya. Ucapan itu memperlihatkan bahwa pengakuan publik belum tentu langsung menyelesaikan tekanan finansial yang mereka hadapi.

Sisi GelapFakta UtamaContoh
Jam kerja berlebihanSyuting bisa berlangsung sangat panjang, bahkan hingga 20 jamPemeran dan staf sama-sama terdampak
Pembayaran gajiSistem bayaran per episode dan keterlambatan pembayaran masih terjadiKasus gaji pendukung serial Reverse yang terlambat dibayarkan
Kerja paruh waktuPopularitas tidak selalu langsung memberi stabilitas finansialJung Sung Il masih bekerja untuk mencari nafkah

Rangkaian fakta tersebut menunjukkan bahwa industri perfilman Korea Selatan masih menyimpan sisi kerja yang berat di balik keberhasilan globalnya. Dari jadwal syuting ekstrem hingga upah yang tidak selalu cair tepat waktu, tekanan di lapangan tetap menjadi bagian dari cerita yang jarang dibicarakan terbuka.

Berita Terkait