Cheomseongdae menarik perhatian bukan hanya karena usianya yang sangat tua, tetapi juga karena susunan batunya penuh simbol. Menara batu di Gyeongju ini berdiri sebagai salah satu peninggalan paling dikenal dari masa Kerajaan Silla.
Bangunan tersebut tersusun dari 365 batu granit yang dimaknai sebagai jumlah hari dalam kalender lunar. Selain itu, ada 27 lapisan batu yang sering dikaitkan dengan Ratu Seondeok sebagai penguasa ke-27 Silla.
Simbol astronomi dan kuasa kerajaan
Cheomseongdae dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok, sekitar tahun 632–647 Masehi. Pada masa itu, pengamatan langit memiliki peran penting karena membantu kerajaan menyusun kalender, membaca musim, dan mendukung pertanian.
Karena fungsi itu, menara ini kerap dipandang sebagai bukti bahwa Kerajaan Silla menaruh perhatian besar pada ilmu astronomi. Sosok Ratu Seondeok sendiri dikenal cerdas dan memiliki ketertarikan kuat pada pengetahuan, terutama astronomi.
Bentuk Cheomseongdae juga menunjukkan bahwa bangunan ini tidak dibuat sekadar sebagai monumen biasa. Setiap bagian tampak dirancang dengan makna tertentu, sehingga arsitektur dan identitas politik menyatu dalam satu struktur.
Struktur sederhana, tetapi sangat tahan lama
Dari kejauhan, Cheomseongdae terlihat seperti botol susu raksasa. Bagian bawahnya melebar, lalu menyempit di tengah sebelum kembali membulat di bagian atas.
Bentuk seperti itu diyakini membantu bangunan tetap kokoh menghadapi gempa ringan dan perubahan cuaca ekstrem. Dengan tinggi 9,17 meter dan diameter dasar hampir 5 meter, menara ini masih berdiri tegak meski tanpa penggunaan mortar modern.
Di bagian tengah terdapat bukaan kecil yang diduga menjadi jalur masuk dengan bantuan tangga. Dari sana, para pengamat kemungkinan naik ke bagian atas untuk memantau pergerakan bintang dan benda langit lainnya.
Jejak penting di Gyeongju
Cheomseongdae berada di Gyeongju, kota yang kerap disebut sebagai “museum tanpa dinding” karena hampir seluruh wilayahnya dipenuhi situs peninggalan Kerajaan Silla. Di kota ini, makam kuno, kuil Buddha, dan reruntuhan istana tersebar di banyak titik.
Keberadaan menara batu itu ikut memperkuat citra Gyeongju sebagai pusat budaya Korea kuno. Pada malam hari, area sekitarnya terlihat menawan berkat pencahayaan lembut yang menyorot susunan batunya.
Banyak wisatawan datang menjelang senja untuk menikmati suasana klasik di lokasi ini. Tidak sedikit fotografer juga memburu siluet menara dengan latar langit malam.
Diakui dunia dan tetap dirawat
Cheomseongdae menjadi bagian dari kawasan bersejarah Gyeongju yang tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000. Pengakuan itu diberikan karena kawasan tersebut menyimpan banyak peninggalan berharga dari Kerajaan Silla.
Di Korea Selatan, Cheomseongdae dianggap sebagai simbol kemajuan ilmu pengetahuan pada masa kuno. Karena itu, nilai historisnya terus dijaga melalui konservasi dan penelitian rutin.
Kini, observatorium tua ini tetap menjadi tujuan favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Banyak pelajar datang untuk mempelajari astronomi tradisional Korea secara langsung, sementara pada musim semi kawasan sekitarnya juga semakin hidup oleh bunga yang bermekaran.
Source: www.idntimes.com