Polisi London mengerahkan 4.000 petugas untuk menjaga dua demonstrasi besar yang berlangsung hampir bersamaan di pusat kota pada Sabtu. Hingga pukul 18.30 GMT, aparat mencatat 43 penangkapan dan menyebut situasinya sebagian besar berjalan tanpa insiden berarti.
Kehadiran besar aparat itu menunjukkan betapa sensitifnya hari tersebut bagi ibu kota Inggris. Polisi bahkan menyebut operasi itu sebagai penanganan ketertiban umum terbesar dalam beberapa tahun, dengan bala bantuan didatangkan dari luar London.
Di satu sisi, massa anti-imigrasi turun ke jalan membawa pesan penolakan terhadap tingginya imigrasi dan apa yang mereka nilai sebagai ancaman Islam terhadap identitas Inggris. Aksi itu dipimpin oleh Stephen Yaxley-Lennon, aktivis anti-Islam yang lebih dikenal sebagai Tommy Robinson.
Di tengah kerumunan pendukungnya, banyak peserta mengibarkan bendera Inggris dan bendera Britania Raya. Salah satu peserta, Allison Parr, menilai migrasi yang terlalu besar menimbulkan banyak masalah dan mengganggu keseimbangan yang rapuh, sambil mengkritik kebijakan lingkungan net-zero.
Robinson sendiri berpidato di hadapan massa dan menyebut Britania Raya sedang mengalami “kebangkitan budaya” dan “revolusi budaya”. Ia memiliki riwayat hukuman atas kasus penyerangan, penguntitan, dan pelanggaran lain.
Aksi itu juga diwarnai momen yang memancing sorakan massa. Tiga perempuan asal Prancis dari kelompok anti-imigrasi feminis Nemesis naik ke panggung utama, sempat mengenakan cadar bergaya Islam, lalu melepaskannya sebelum menyampaikan pidato singkat yang kritis terhadap Muslim dan imigrasi.
Pemerintah sebelumnya telah melarang 11 orang yang disebut sebagai agitator sayap kanan asing masuk ke Inggris untuk berbicara di depan demonstrasi tersebut. Perdana Menteri Keir Starmer pada Jumat menuduh para penyelenggara menyebarkan kebencian dan perpecahan.
Di saat yang sama, tidak jauh dari lokasi itu, kelompok lain menggelar pawai pro-Palestina. Para demonstran membawa bendera Palestina dan poster yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza, sambil menandai Nakba Day.
Istilah Nakba berarti bencana dalam bahasa Arab dan merujuk pada kehilangan tanah oleh warga Palestina dalam perang 1948 setelah pembentukan Israel. Seorang demonstran, Sharon De-Wit, mengatakan perilaku Israel tidak adil di luar kepercayaan dan menilai orang Yahudi tidak akan hidup damai sampai warga Palestina diizinkan membentuk negara sendiri.
Pawai pro-Palestina itu berlangsung di tengah ketegangan yang sudah lama membayangi pusat London. Polisi menyebut rangkaian aksi pro-Palestina besar yang terjadi berulang, sebanyak 33 kali sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023, telah membuat banyak warga Yahudi merasa terlalu terintimidasi untuk masuk ke pusat kota.
Aparat juga mengaitkan gelombang pawai itu dengan penangkapan berulang atas pelanggaran ketertiban umum yang bermotif rasial dan agama. Ketegangan tersebut makin terasa setelah rangkaian serangan pembakaran di situs Yahudi dan penusukan terhadap dua pria Yahudi bulan lalu yang diperlakukan sebagai terorisme.
Dalam aksi pada Sabtu, sebagian demonstran pro-Palestina juga meneriakkan “Death to the IDF”, merujuk pada militer Israel. Polisi sebelumnya menyatakan bahasa semacam itu dapat menjadi alasan penangkapan jika diarahkan kepada warga Yahudi.
Sementara itu, isu imigrasi terus menjadi titik tekan dalam politik Inggris. Kekhawatiran soal kedatangan pencari suaka dengan perahu kecil ikut menekan popularitas Starmer dan membantu mengangkat Partai Reform UK yang berhaluan kanan, meski pemimpinnya Nigel Farage memilih menjauh dari Robinson.
Data sensus menunjukkan 6,5% penduduk Inggris dan Wales mengidentifikasi diri sebagai Muslim pada 2021, naik dari 4,9% pada 2011. Pada saat yang sama, migrasi bersih tahunan mendekati 900.000 pada 2022 dan 2023, lalu turun menjadi sekitar 200.000 tahun lalu setelah aturan visa kerja diperketat.







