Kuwait menghadapi ancaman ganda setelah serangan Iran dilaporkan mengenai pembangkit listrik dan air pada Senin, 20 Juli 2026. Gangguan pada fasilitas tersebut berisiko menghambat pasokan listrik sekaligus produksi air tawar bagi masyarakat.
Pemerintah meminta warga mengurangi pemakaian energi agar jaringan tetap mampu melayani kebutuhan sepanjang waktu. Seruan itu muncul saat layanan dasar negara Teluk tersebut berada di bawah tekanan akibat serangan terhadap infrastruktur vital.
Keterkaitan listrik dan air menjadi titik paling rentan dalam situasi ini. Banyak fasilitas desalinasi Kuwait tersambung langsung dengan pembangkit listrik atau beroperasi sebagai instalasi terpadu yang menghasilkan kedua kebutuhan tersebut.
Pasokan listrik menentukan produksi air
Ahli keamanan air dan pangan David Michel mengingatkan bahwa gangguan tidak harus menghantam unit pengolahan air secara langsung. Jaringan energi serta sambungan listrik yang memasok fasilitas itu juga dapat menghentikan produksi air tawar.
“Putuskan pasokan air dengan memutus aliran listrik,” tulis Michel dalam komentarnya pada Maret. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya ketergantungan negara-negara Teluk pada energi untuk menjalankan proses desalinasi.
| Peristiwa | Waktu | Dampak |
|---|---|---|
| Serangan ke pembangkit listrik dan air | 20 Juli 2026 | Kebakaran serta risiko gangguan layanan dasar |
| Pemadaman listrik sementara | Musim panas 2024 | Terjadi di sejumlah wilayah pada jam konsumsi puncak |
Menurut Kompas.com, serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur telah menimbulkan kebingungan dalam kegiatan harian warga. Sirene dan ledakan yang terdengar selama berminggu-minggu juga memperbesar kecemasan mengenai kemungkinan pemadaman.
Nasser Al Dhafiri, pegawai negeri sipil berusia 40 tahun, menyebut keadaan tersebut sebagai beban besar bagi masyarakat biasa. “Semua orang kini merasa bahwa menjaga layanan penting adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Panas memperberat beban jaringan
Risiko gangguan datang ketika kebutuhan listrik Kuwait biasanya meningkat tajam pada musim panas. Suhu di negara itu dapat melampaui 50 derajat Celsius, sementara penggunaan pendingin ruangan naik di rumah maupun bangunan.
Kuwait pernah menerapkan pemadaman sementara di beberapa wilayah pada musim panas 2024. Kebijakan tersebut diambil karena lonjakan permintaan pada jam puncak sulit dipenuhi sepenuhnya di tengah cuaca ekstrem.
Abdulrahman Al Azmi menilai pengurangan penggunaan listrik yang tidak perlu dapat membantu menjaga sumber daya negara. Langkah itu juga dinilai penting untuk mencegah beban jaringan meningkat saat fasilitas vital menghadapi ancaman.
Sejumlah warga mulai menekan konsumsi di rumah, termasuk dengan mematikan pendingin ruangan sebelum bepergian. Khaled Al Badri mengatakan ia juga tidak lagi menyalakan lampu luar secara berlebihan.
Respons pemerintah dan memori krisis
Juru bicara Kementerian Kelistrikan Fatima Hayat menyatakan kepatuhan warga telah menurunkan penggunaan energi di bawah tingkat yang diproyeksikan. Pemerintah berharap penghematan terus dilakukan agar pasokan listrik dan air tawar tidak semakin terganggu.
Jaringan listrik Kuwait sebelumnya telah menghadapi tekanan sejak invasi dan pendudukan Irak pada 1990. Bagi sejumlah warga, ketidakpastian saat ini kembali membangkitkan ingatan tentang krisis energi dan tekanan psikologis pada masa itu.
Source: www.kompas.com






