Perpindahan dari iPhone ke Android sering tampak sederhana di awal, tetapi sejumlah perbedaan baru terasa setelah perangkat dipakai sehari-hari. Yang paling cepat dirasakan biasanya justru soal pembaruan sistem dan keamanan, bukan sekadar tampilan antarmuka.
Pada ekosistem Android, jadwal update tidak seragam antarmerek. Kondisi itu membuat pengalaman pengguna bisa berbeda jauh, termasuk pada ponsel populer seperti Samsung dan Google Pixel.
Pembaruan sistem tidak datang bersamaan
Masalah terbesar di Android ada pada pola pembaruan. Tidak seperti iPhone yang dikelola satu perusahaan dan menerima update secara serentak untuk perangkat yang masih didukung, Android berjalan di banyak merek dengan jadwal yang berbeda-beda.
Google Pixel biasanya menjadi yang paling cepat menerima update Android dan versi beta terbaru. Sementara itu, Samsung dan merek lain cenderung lebih lambat karena harus menyesuaikan sistem dengan antarmuka masing-masing, seperti One UI di Samsung dan Oxygen OS di OnePlus.
Perbedaan ini juga berpengaruh pada dukungan jangka panjang. Pilihan perangkat bisa menentukan seberapa lama ponsel tetap mendapat pembaruan dibandingkan banyak perangkat Apple.
Notifikasi dan buka kunci terasa berbeda
Bagi pengguna yang terbiasa dengan Face ID, pengalaman membuka notifikasi di Android bisa terasa kurang praktis. Pada iPhone, notifikasi di layar terkunci bisa langsung dibuka lebih detail setelah perangkat mengenali wajah.
Di banyak ponsel Android, proses itu lebih sering bergantung pada fingerprint unlock. Metode ini memang umum, tetapi tidak selalu nyaman saat tangan sibuk atau sidik jari sulit terbaca.
Sebagian perangkat Android sudah menawarkan face unlock, namun pada banyak model pemindai sidik jari tetap menjadi metode biometrik utama. Di titik ini, kebiasaan lama dari iPhone sering menjadi pembeda yang paling terasa bagi pengguna baru.
Face unlock belum setara di banyak model
Face unlock di Android memang makin umum, terutama di perangkat Google dan Samsung. Namun, teknologinya masih dianggap belum seandal Face ID di iPhone.
Banyak perangkat Android bahkan belum menawarkan face unlock sama sekali. Pada Pixel, sistem yang dipakai masih berbasis pengenalan wajah 2D, sedangkan Face ID Apple memakai sistem 3D dengan infrared projector dan infrared camera di dalam perangkat.
Google pernah menghadirkan sistem face unlock yang lebih mirip Face ID di Pixel 4. Fitur itu kemudian dihapus dan diganti dengan pemindai sidik jari karena Google menyebutnya lebih aman saat itu.
Aplikasi yang dibawa pindah tidak selalu lengkap
Masalah lain muncul ketika pengguna mencoba memindahkan kebiasaan aplikasi dari iPhone ke Android. Tidak semua aplikasi di iOS tersedia di Android, dan aplikasi bawaan Apple hampir pasti tidak ikut pindah.
Ini mencakup Messages, Passwords, dan sejumlah aplikasi lain yang memang dibuat khusus untuk ekosistem Apple. Karena itu, pengecekan di Google Play Store menjadi langkah penting sebelum berpindah.
Risiko terbesar justru ada pada aplikasi berbayar atau layanan berlangganan. Pengguna perlu memastikan aplikasi pihak ketiga yang selama ini dipakai juga tersedia di Android agar tidak kehilangan akses atau harus mencari alternatif baru.
Bagi pembeli yang sedang mempertimbangkan ponsel Android terbaru seperti Galaxy S26 Ultra, empat hal ini layak diperhatikan sejak awal. Android menawarkan banyak pilihan dan kustomisasi, tetapi pengalaman harian bisa sangat dipengaruhi oleh dukungan software, ketersediaan aplikasi, dan fitur keamanan yang dibawa tiap merek.
