SPPG Diminta Beli Telur Lokal, Dapur MBG Jateng Diproyeksikan Jadi Penopang Peternak

Author: Redaksi Android62

Kebutuhan telur untuk seluruh SPPG di Jawa Tengah rata-rata mencapai 720.902 kilogram per minggu, sementara potensi produksi telur provinsi ini disebut sekitar 7,3 juta ton per tahun. Angka itu menunjukkan ruang serapan yang besar bagi peternak lokal jika rantai pasok MBG benar-benar diprioritaskan dari daerah sendiri.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meminta pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG mengutamakan pembelian telur dari peternak lokal. Menurut dia, langkah itu penting agar program makan bergizi gratis tidak hanya menyuplai kebutuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar dapur MBG.

Dorongan agar bahan baku terserap dari wilayah sendiri

Gus Yasin menilai ribuan dapur MBG harus menjadi motor penggerak ekonomi bagi peternak, petani, nelayan, koperasi, hingga pelaku UMKM lokal. Ia menyampaikan pandangan itu dalam Rapat Koordinasi Tata Kelola Penyelenggaraan dan Rantai Pasok Bahan Baku MBG di Jawa Tengah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini menyiapkan kesepakatan bersama dengan asosiasi peternak, koperasi, dan pemangku kepentingan lain. Kesepakatan tersebut diarahkan agar kebutuhan bahan baku SPPG diprioritaskan dari daerah sendiri, termasuk telur, ayam, dan ikan.

Ia mencontohkan, jika ada SPPG di Kabupaten Banjarnegara, maka kebutuhan telur, sayur, dan bahan pangan lain idealnya dipenuhi lebih dulu oleh pemasok dari wilayah itu. Pola tersebut dinilai bisa memperkuat ekonomi lokal sekaligus menekan biaya distribusi.

Harga peternak masih menjadi perhatian

Langkah prioritas pembelian lokal juga ditujukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan peternak. Saat ini masih ada laporan bahwa sebagian peternak menjual telur di harga Rp20.000 hingga Rp21.000 per kg, jauh di bawah harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp26.000 per kg.

“Kita ingin memastikan ekonomi masyarakat tumbuh. Jangan sampai bahan baku diambil dari masyarakat tetapi harganya justru di bawah harga acuan pemerintah,” kata Gus Yasin yang juga Ketua Satgas Percepatan Progran MBG Jateng.

Daging ayam terserap lebih besar

Di sisi lain, serapan daging ayam dari program ini tercatat lebih tinggi dibanding telur. Kebutuhan daging ayam mencapai 1.452.587 kilogram per minggu atau sekitar 75,5 ribu ton per tahun, setara sekitar 1,3 persen dari total potensi produksi ayam Jawa Tengah.

Koordinator Regional BGN Jateng Reza Mahendra mengatakan kesepakatan yang sedang disiapkan akan menjadi komitmen bersama agar bahan baku lokal terserap lebih optimal. Pengawasan juga akan diperkuat melalui Satgas MBG kabupaten/kota dan BGN agar rantai pasok berjalan sesuai tujuan program.

Dengan kebutuhan yang besar dan potensi produksi yang masih lebih tinggi, pemerintah daerah berharap dapur MBG dapat menjadi pasar yang lebih pasti bagi peternak lokal. Dorongan ini juga diarahkan agar manfaat program makan bergizi gratis terasa lebih luas, bukan hanya pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada perputaran ekonomi di daerah.

Source: jateng.antaranews.com
Berita Terbaru