4 Kebiasaan Sepele yang Diam-Diam Mempercepat Perut Buncit, Menurut Para Ahli

Author: Redaksi Android62

Perut buncit tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga dapat menjadi tanda risiko kesehatan yang lebih serius. Kondisi ini dikaitkan dengan diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, stroke, perlemakan hati, hingga penyakit jantung.

Sejumlah ahli menilai, penumpukan lemak di area perut sering dipicu oleh kebiasaan harian yang tampak biasa saja. Empat di antaranya adalah kurang bergerak, terlalu sering makan makanan olahan, kurang tidur, dan stres kronis.

Stres kronis mendorong lemak lebih mudah terkumpul

Stres yang berlangsung lama disebut dapat mengubah cara tubuh menyimpan lemak di area perut. dr. Nesochi Okeke-Igbokwe menjelaskan, stres kronis memicu pelepasan hormon kortisol yang berkontribusi pada penumpukan lemak visceral.

Saat kadar kortisol tetap tinggi dalam waktu lama, keinginan makan bisa meningkat dan sinyal lapar normal ikut terganggu. Kondisi ini juga dapat mengubah cara tubuh memproses serta menyimpan energi, sehingga lemak perut lebih mudah terbentuk.

Para ahli menyarankan pengelolaan stres lewat meditasi, olahraga, berkumpul dengan teman, atau berbicara dengan profesional. Langkah-langkah ini membantu menekan efek stres terhadap kebiasaan makan dan penyimpanan lemak di perut.

Kurang tidur ikut mengacaukan metabolisme

Kebiasaan tidur yang tidak cukup juga kerap luput diperhatikan, padahal dampaknya tidak berhenti pada rasa lelah. Brooking mengatakan kurang tidur dapat mengubah hormon leptin dan ghrelin serta meningkatkan kortisol.

Perubahan tersebut bisa membuat keinginan makan meningkat dan mendorong penimbunan lemak perut. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembatasan tidur ringan dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan, sensitivitas insulin, dan cara tubuh menyimpan energi.

Dalam jangka panjang, kalori berlebih jadi lebih mudah dialihkan ke lemak perut meski berat badan tidak banyak berubah. Karena itu, tidur berkualitas selama 7 hingga 9 jam setiap hari disarankan dilakukan pada jam yang sama.

Makanan olahan memudahkan kelebihan kalori disimpan

Konsumsi makanan olahan memang praktis di tengah kesibukan, tetapi jenis makanan ini biasanya tinggi karbohidrat olahan, gula tambahan, dan lemak jenuh. Kombinasi tersebut dapat mendorong tubuh menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak visceral.

Karolin Saweres, MS, RDN, LD, menjelaskan bahwa kebiasaan makan seperti ini membuat penumpukan lemak di perut menjadi lebih mudah terjadi. Brooking menyarankan pola makan yang kaya protein, lemak sehat, karbohidrat kompleks, serta banyak buah dan sayuran.

Pola makan seperti itu membantu menyeimbangkan kalori dan memberi nutrisi penting bagi tubuh. Dengan begitu, risiko penumpukan lemak berlebih dapat ditekan lebih baik.

Jarang bergerak menjadi pemicu utama

Kurang aktivitas fisik disebut sebagai penyebab besar penumpukan lemak perut. Ahli gizi Katherine Brooking, MS, RD, mengatakan kebiasaan ini menurunkan pengeluaran energi dan sensitivitas insulin.

Saat otot tidak aktif, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak visceral dibanding lemak subkutan. Lemak visceral inilah yang banyak dikaitkan dengan perut yang membuncit dan risiko kesehatan yang lebih tinggi.

Brooking menyarankan olahraga teratur selama 30 hingga 60 menit per hari dalam seminggu. Ia juga menyarankan memilih jenis olahraga yang disukai agar lebih mudah dijalani secara konsisten.

Empat kebiasaan tersebut sering dianggap sepele karena sangat umum terjadi dalam rutinitas harian. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan itu dapat membuat lemak di perut lebih mudah menumpuk dan meningkatkan risiko kesehatan.

Source: www.beautynesia.id
Berita Terbaru