Mahasiswa dan Startup Berebut Hibah Hijau, The Apurva Kempinski Bali Geser Isu Keberlanjutan ke Aksi Nyata

Author: Redaksi Android62

The Apurva Kempinski Bali membawa pembahasan keberlanjutan ke tahap yang lebih konkret melalui konferensi Path to Sustainable Growth 2026. Tahun ini, fokus utamanya bergeser ke regenerasi, yaitu upaya membangun sistem yang tidak hanya menahan dampak lingkungan, tetapi juga memulihkan alam, memperkuat masyarakat, dan menjaga ekonomi tetap berjalan.

Pergeseran itu terasa dari tema “Regenerasi untuk Masa Depan” yang diangkat pada penyelenggaraan 24 Juni 2026. Tema tersebut menempatkan aksi regeneratif sebagai inti pembahasan, dengan melibatkan sektor yang jauh lebih luas daripada industri perhotelan dan pariwisata.

Dalam konferensi ini, The Apurva Kempinski Bali mengundang pandangan dari sektor keuangan, pertanian, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga industri. Pendekatan lintas sektor tersebut dipandang penting karena tantangan keberlanjutan tidak bisa diselesaikan secara parsial.

Upaya menjaga lingkungan, memperkuat budaya, dan membangun ekonomi yang tangguh memerlukan kerja bersama dari banyak pemangku kepentingan. Karena itu, Path to Sustainable Growth atau PTSG 2026 diarahkan untuk menghasilkan dampak yang terukur melalui empat pilar utama.

Empat pilar pembahasan utama

Empat pilar yang menjadi kerangka konferensi adalah Legacy, Preserving the Land and Nature, Regeneration, serta Preserving People. Seluruh pilar ini membahas pelestarian warisan budaya, pengelolaan sumber daya alam, pemanfaatan teknologi untuk pembangunan berkelanjutan, dan investasi pada kualitas sumber daya manusia.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, PTSG disebut membawa ambisi yang lebih besar. Forum ini tidak dirancang sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan tempat lahirnya kerja sama yang bisa diterjemahkan menjadi solusi nyata.

Jejak penyelenggaraan sebelumnya ikut memperkuat arah itu. Pada gelaran sebelumnya, forum ini melibatkan lebih dari 250 pelaku industri dan praktisi, menjadi pijakan untuk memperluas kolaborasi lintas sektor pada 2026.

Peran sektor keuangan ikut disorot

Salah satu pembicara utama yang hadir adalah Vice President Retail Transaction Group Bank Rakyat Indonesia, Muhammad Yusuf. Kehadirannya membuka pembahasan mengenai peran sektor keuangan dalam mendukung agenda keberlanjutan.

Masuknya perspektif keuangan memberi konteks penting bagi agenda regenerasi yang dibawa konferensi ini. Dukungan pendanaan dan model bisnis yang tepat dinilai menjadi syarat agar inisiatif berkelanjutan tidak berhenti sebagai gagasan.

Sejumlah tokoh dari bidang budaya, lingkungan, inovasi, hingga kesehatan juga ikut terlibat dalam rangkaian diskusi. Mereka membahas cara menjaga warisan, mengelola sumber daya secara bertanggung jawab, dan memanfaatkan inovasi untuk menjawab kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan.

Seeds of Changes untuk mahasiswa dan startup

Salah satu hasil paling konkret dari PTSG 2026 adalah program Seeds of Changes. Program ini ditujukan bagi mahasiswa dan startup tahap awal yang mengembangkan solusi di bidang pariwisata regeneratif dan inovasi berkelanjutan.

Program pendampingan itu berlangsung selama delapan minggu, mulai Juli hingga Agustus 2026. Sepuluh peserta terpilih akan mendapat pendampingan intensif untuk memperkuat ide dan model usahanya.

Materi yang diberikan mencakup pengembangan model bisnis, strategi keberlanjutan, hingga penyusunan rencana bisnis. Format tersebut membuat peserta tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga menyiapkannya agar layak dijalankan.

Di akhir program, dua tim terbaik akan menerima hibah pengembangan. Nilainya masing-masing Rp50 juta dan Rp20 juta untuk mendukung tahap pengembangan berikutnya.

Landasan dari posisi hotel di Bali

Penguatan agenda regenerasi ini juga berkaitan dengan posisi The Apurva Kempinski Bali dalam isu pariwisata berkelanjutan. Hotel tersebut disebut sebagai hotel pertama di Indonesia yang mengantongi sertifikasi Global Sustainable Tourism Council atau GSTC.

Status itu memberi landasan bagi hotel untuk memperluas pembahasan dari praktik internal menuju dialog yang lebih luas. Dengan begitu, konferensi tidak hanya membicarakan pengelolaan hotel, tetapi juga hubungan antara pariwisata, komunitas, lingkungan, dan ekonomi.

Dalam konteks Bali dan sektor perjalanan secara umum, isu regenerasi menjadi semakin relevan. Regenerasi menekankan pemulihan dan penciptaan nilai baru, bukan sekadar menekan kerusakan yang sudah terjadi.

Melalui konferensi dan program pendampingan, The Apurva Kempinski Bali mencoba menghubungkan diskusi dengan proses inkubasi. Langkah itu membuat isu regenerasi ditempatkan sebagai kerja bersama yang menuntut ide, dukungan lintas sektor, dan langkah nyata yang bisa diukur.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru