43 Zona Musim Jatim Mulai Kemarau Lebih Dulu, Surabaya Siap Menanggung Gerah Lebih Lama

Sebanyak 43 Zona Musim di Jawa Timur diprediksi mulai masuk kemarau pada Mei. Daerah yang terdampak tersebar di banyak wilayah, mulai dari pesisir utara, pesisir selatan, hingga bagian barat, tengah, dan timur provinsi tersebut.

Di antara wilayah yang masuk daftar itu, Surabaya menjadi sorotan utama karena panasnya tidak hanya datang dari musim kemarau. Kota ini juga mengalami efek urban heat island, yang membuat kawasan perkotaan terasa lebih gerah dibanding area sekitarnya.

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang bertahap, bukan serentak di seluruh Indonesia. Pada April 2026, sebanyak 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia sudah lebih dulu memasuki kemarau, dan sebagian Jawa Timur termasuk di dalamnya.

Wilayah Jawa Timur yang lebih awal masuk kemarau

Berdasarkan prakiraan musim Jawa Timur dari BMKG Iklim Jawa Timur, 43 Zona Musim di provinsi ini diperkirakan memasuki kemarau pada Mei 2026. Daerah itu mencakup Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Kota Batu, Kota Blitar, Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Malang, Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, dan Tulungagung.

Peralihan lebih cepat di Jawa Timur diperkirakan terjadi karena pola curah hujan menurun lebih dulu dibanding wilayah lain. Kondisi itu membuat sebagian daerah di provinsi ini memasuki periode kering lebih awal dari daerah lain di Indonesia.

Surabaya dan panas yang terasa lebih berat

Surabaya menjadi perhatian karena seluruh wilayah administratif yang disebutkan sudah masuk daftar awal kemarau. Mulai dari Asem Rowo hingga Wonokromo, suhu panas tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi juga meluas ke banyak kecamatan di wilayah metropolitan.

Panas di kota ini terasa lebih menyengat karena dua faktor bekerja bersamaan. Selain kemarau, permukaan beton, aspal, dan bangunan menyerap panas matahari lebih besar dibanding area yang masih memiliki vegetasi alami.

Kondisi itu makin kuat seiring pesatnya pembangunan dan berkurangnya ruang terbuka di Surabaya. Kajian dari Fakultas Teknik Sipil ITS menunjukkan suhu udara Surabaya meningkat 1 sampai 3 derajat Celsius dalam satu dekade terakhir.

Perbedaan suhu juga terlihat antara kawasan padat bangunan dan area yang masih memiliki ruang hijau. Selisihnya bahkan bisa mencapai 1,4 derajat Celsius, dengan kawasan Surabaya Timur serta koridor utara-selatan kota disebut menunjukkan intensitas panas yang lebih tinggi.

Puncak kemarau dan dampaknya bagi warga

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa bagian tengah hingga timur, terjadi pada Agustus 2026. Pola ini membuat panas ekstrem berpotensi makin terasa dalam beberapa bulan mendatang.

Di Pulau Jawa, durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung antara 11 sampai 30 dasarian atau sekitar 11 hingga 30 hari. Dengan pola tersebut, periode kering di Jawa Timur dapat berlangsung cukup panjang di wilayah yang lebih cepat masuk kemarau.

Kondisi itu perlu diperhatikan karena daerah yang lebih awal memasuki kemarau berpeluang lebih dulu merasakan turunnya kelembapan udara. Dampaknya, rasa gerah dapat terasa lebih kuat, terutama di kawasan perkotaan yang minim ruang hijau.

Untuk mengurangi dampak panas, masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00-15.00 WIB saat suhu tinggi. Warga juga dianjurkan memperbanyak minum air putih, memakai pakaian longgar berwarna terang, menggunakan transportasi umum, dan menanam tanaman hijau di sekitar rumah agar lingkungan terasa lebih sejuk.

Source: www.detik.com

Berita Terkait