5.000 Unit Hunian Terjangkau Disiapkan Di Manggarai, BTN-KAI Dorong ToD Di Bantaran Rel

Rencana pembangunan hunian terjangkau di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta Pusat, mulai disiapkan melalui kerja sama BTN dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Proyek ini mengusung konsep Transit Oriented Development atau ToD, dengan target sekitar 5.000 unit hunian yang tersebar dalam delapan menara apartemen.

Skema tersebut dirancang agar kawasan sekitar stasiun tidak lagi dipandang semata sebagai jalur lintasan kereta. Dengan pemanfaatan lahan yang lebih produktif, area bantaran rel dapat berubah menjadi ruang hunian yang terhubung langsung dengan transportasi massal.

Pembiayaan dan pembangunan dibagi sesuai peran

Dalam pola kerja sama ini, BTN mengambil posisi di sisi pembiayaan. Sementara itu, pengerjaan fisik proyek akan ditangani oleh KAI melalui unit usaha khususnya, KAI Property.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menilai pembagian tersebut membuat masing-masing pihak bisa fokus pada kapasitasnya. Menurut dia, desain kerja sama itu disusun agar pengembangan hunian vertikal di area stasiun bisa berjalan lebih terarah.

Hunian dekat stasiun jadi nilai utama

Konsep ToD menjadi dasar utama proyek ini karena menggabungkan tempat tinggal dengan simpul transportasi. Bagi warga perkotaan yang bergantung pada transportasi umum, model seperti ini dinilai lebih praktis dan efisien dalam mendukung aktivitas harian.

Nixon menyebut pendekatan serupa sebenarnya sudah lama dikenal dalam pengembangan kota. Ia mencontohkan kawasan stasiun di Kyoto yang sudah menyatu dengan hunian, lalu menyebut pola seperti itu mulai diterapkan di Indonesia sebagai bagian dari modernisasi ruang perkotaan.

Ukuran unit dijaga agar tetap layak

Selain soal keterjangkauan harga, BTN juga memberi perhatian pada ukuran hunian yang akan dibangun. Nixon menegaskan bahwa unit tidak boleh terlalu kecil agar tetap nyaman ditempati oleh keluarga atau penghuni yang membutuhkan ruang hidup memadai.

Luas unit diupayakan berada di atas 40 meter persegi. Opsi yang dipertimbangkan berada di kisaran 45 dan 54 meter persegi supaya harga tetap kompetitif tanpa mengorbankan kelayakan hunian.

Pendekatan ini penting karena hunian terjangkau kerap identik dengan ruang yang sempit. Pada proyek Manggarai, BTN ingin menjaga agar aspek harga dan kenyamanan bisa berjalan seimbang.

Lokasi strategis dorong minat pasar

Daya tarik terbesar proyek ini terletak pada lokasinya yang menempel pada kawasan stasiun. Akses langsung ke transportasi massal memberi keuntungan besar bagi penghuni, terutama dari sisi efisiensi waktu dan kemudahan mobilitas di Jakarta.

BTN menilai minat pasar terhadap hunian semacam ini sudah terlihat meski proyek masih berada pada tahap persiapan penandatanganan kesepakatan. Kebutuhan akan hunian terjangkau di lokasi strategis disebut tetap tinggi, khususnya bagi warga yang beraktivitas di pusat-pusat ekonomi perkotaan.

Peluang dikembangkan ke kota lain

Rencana hunian di kawasan stasiun tidak berhenti di Manggarai. BTN dan KAI juga membuka peluang untuk menerapkan model yang sama di sejumlah kota besar lain di Pulau Jawa.

Jika skema ini berjalan sesuai rencana, Manggarai dapat menjadi contoh awal bagaimana lahan di bantaran rel dimanfaatkan lebih tertata dan produktif. Kawasan stasiun pun berpeluang berkembang menjadi area hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik, bukan hanya titik perpindahan penumpang semata.

Berita Terkait